Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Terlalu Ingin Mengontrol Segalanya? Ini Dampaknya bagi Hidupmu

4 min read
Terlalu Ingin Mengontrol Segalanya? Ini Dampaknya bagi Hidupmu
ilustrasi kelompok diskusi di kantor (pexels.com/fauxels)
  • Keinginan mengontrol berlebihan membuat seseorang lebih mudah cemas dan frustrasi saat rencana berubah, karena tidak semua keadaan dapat diprediksi atau dikendalikan.
  • Upaya mengantisipasi setiap kemungkinan dapat menguras energi mental, memicu standar kesempurnaan yang menekan diri, serta mengurangi kemampuan menikmati momen saat ini.
  • Sikap terlalu mengatur dapat mengganggu hubungan karena orang lain merasa tidak dipercaya; menerima perubahan dan memberi ruang bagi pilihan berbeda membantu proses adaptasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bayangkan kamu sudah menyusun rencana akhir pekan dengan rapi, tetapi tiba-tiba teman membatalkan janji atau urusan mendadak membuat semuanya berantakan. Bukannya mencari alternatif, kamu justru kesal karena keadaan gak berjalan sesuai keinginan.

Jika situasi seperti ini sering membuatmu gelisah, bisa jadi kamu terlalu ingin mengontrol segalanya. Keinginan untuk mengatur memang bisa membuatmu merasa lebih siap, tetapi jika berlebihan, kamu justru rentan merasa cemas, sulit mempercayai orang lain, dan lupa menikmati momen sederhana. Lantas, apa saja dampaknya? Yuk, simak penjelasannya!

  1. 1. Membuatmu lebih mudah merasa cemas dan frustrasi

    ilustrasi wanita sedang memeriksa keadaan kulit
    ilustrasi wanita sedang memeriksa keadaan kulit (pexels.com/ivan-samkov)

    Bagi sebagian orang, memiliki rencana yang jelas bisa memberikan rasa aman. Kamu tahu apa yang harus dilakukan, kapan harus menyelesaikannya, dan bagaimana hasil yang diharapkan. Namun ketika sesuatu tiba-tiba berubah, kamu mungkin langsung merasa gelisah karena keadaan gak lagi berjalan sesuai perkiraan.

    Masalahnya, gak semua hal bisa diprediksi atau dikendalikan, sebaik apa pun persiapanmu. Jika terus berusaha memastikan semuanya berjalan sesuai keinginan, kamu bisa lebih mudah frustrasi ketika menghadapi situasi di luar kendali. Belajar menerima ketidakpastian dapat membantumu menghadapi perubahan dengan lebih tenang tanpa harus selalu memaksakan keadaan.

  2. 2. Membuatmu kelelahan secara mental

    ilustrasi perempuan terbaring
    ilustrasi perempuan terbaring (unsplash.com/yrss)

    Ketika perubahan kecil saja sudah membuatmu gelisah, kamu mungkin terdorong untuk memikirkan berbagai cara agar masalah serupa gak terulang. Kamu memeriksa pekerjaan berkali-kali, menyusun rencana cadangan, atau terus membayangkan hal buruk yang mungkin terjadi. Sekilas, kebiasaan ini terlihat seperti bentuk tanggung jawab, tetapi jika dilakukan terus-menerus, pikiranmu bisa kesulitan beristirahat.

    “Jika kamu terus-menerus berusaha mempertahankan kendali, kemungkinan besar kamu justru akan menemukan lebih banyak masalah daripada jika kamu berfokus pada hal-hal lain,” ujar Adam Radomsky, profesor di Departemen Psikologi Concordia University, dikutip dari Concordia University.

    Artinya, kamu gak harus mengantisipasi setiap kemungkinan untuk bisa menjalani aktivitas dengan baik. Setelah melakukan persiapan yang wajar, cobalah memberi dirimu kesempatan untuk beristirahat dan menghadapi masalah ketika memang diperlukan, alih-alih terus memikirkannya sebelum terjadi.

  3. 3. Mengganggu hubungan dengan orang lain

    ilustrasi kedua perempuan sedang bertengkar
    ilustrasi kedua perempuan sedang bertengkar (pexels.com/liza-summer)

    Keinginan memastikan segala sesuatu berjalan sesuai harapan gak selalu berhenti pada urusan pribadi. Tanpa sadar, kamu mungkin mulai menerapkan standar yang sama kepada orang lain, seperti mengatur cara pasangan menyelesaikan masalah, terus mengoreksi pekerjaan rekan, atau merasa kesal ketika teman mengambil keputusan berbeda dari saranmu.

    Padahal, setiap orang punya cara berpikir dan menentukan pilihan sendiri. Ketika kamu terlalu sering mengatur, orang lain bisa merasa gak dipercaya atau kehilangan ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Karena itu, penting untuk menyadari bahwa membantu bukan berarti harus mengambil alih, dan menyayangi seseorang bukan berarti kamu perlu menentukan semua hal untuknya.

  4. 4. Membuatmu sulit menerima perubahan

    ilustrasi perempuan fokus depan laptop
    ilustrasi perempuan fokus depan laptop (pexels.com/yankrukov)

    Kebiasaan ingin mengatur orang lain dan keadaan juga bisa membuatmu semakin sulit menghadapi sesuatu yang gak sesuai rencana. Ketika agenda berubah atau keputusan orang lain berbeda dari harapanmu, kamu mungkin terus mencari cara untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Akibatnya, perhatianmu lebih banyak tersita untuk melawan perubahan daripada mencari cara untuk beradaptasi.

    “Mungkin kendali bukanlah sesuatu yang perlu kamu kejar karena kendali itu sebenarnya sudah ada,” ujar Adam Radomsky.

    Menerima perubahan bukan berarti menyerah atau membiarkan semuanya berjalan tanpa arah. Kamu tetap bisa membuat rencana dan mengambil tindakan, sambil memberi ruang bagi kemungkinan bahwa hasil akhirnya berbeda dari yang diharapkan.

  5. 5. Membuatmu terjebak dalam standar yang terlalu tinggi

    ilustrasi perempuan sedang menulis
    ilustrasi perempuan sedang menulis (pexels.com/georgemilton)

    Ketika terbiasa ingin memastikan semuanya berjalan dengan benar, kamu mungkin mulai menuntut kesempurnaan dari diri sendiri. Pekerjaan yang sudah selesai dengan baik masih terasa kurang karena ada satu detail kecil yang mengganggu pikiranmu. Bahkan, pencapaian yang seharusnya membuatmu bangga bisa terasa biasa saja karena perhatianmu langsung beralih pada hal berikutnya yang perlu diperbaiki.

    Jika terus berlangsung, kamu bisa kesulitan menghargai usaha sendiri dan merasa seolah-olah gak pernah melakukan sesuatu dengan cukup baik. Padahal, berusaha maksimal bukan berarti harus menghasilkan sesuatu yang sempurna setiap saat. Menetapkan target yang realistis dan memberi ruang untuk melakukan kesalahan dapat membantumu tetap bertanggung jawab tanpa terus menekan diri sendiri.

  6. 6. Membuatmu sulit menikmati momen saat ini

    ilustrasi perempuan duduk menyendiri
    ilustrasi perempuan duduk menyendiri (pexels.com/karolinagrabowska)

    Ketika pikiran terus dipenuhi rencana, kekhawatiran, dan hal-hal yang harus diperbaiki, menikmati apa yang sedang terjadi pun bisa terasa sulit. Misalnya, saat berkumpul bersama keluarga, kamu justru sibuk memikirkan pekerjaan besok atau urusan rumah yang belum selesai. Kamu memang berada di tengah orang-orang terdekat, tetapi perhatianmu seolah masih tertinggal pada hal-hal yang belum beres.

    Padahal, hidup gak hanya berisi target yang harus dicapai atau masalah yang perlu diselesaikan. Kamu tetap bisa merencanakan masa depan tanpa harus mengorbankan waktu untuk menikmati hari ini. Cobalah memusatkan perhatian pada aktivitas yang sedang dijalani dan ingat bahwa gak semua urusan harus selesai sekaligus.

    Saat rencana yang kamu susun tiba-tiba berantakan, cobalah menarik napas dan menerima bahwa gak semua hal harus berjalan sesuai keinginanmu. Sebab, hidup bukan tentang mengendalikan segalanya, melainkan belajar beradaptasi dan menikmati setiap momen yang ada.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More