“Pada usia 14 tahun, saya beralih ke veganisme, yang membantu saya memahami mengapa perubahan pribadi saja tidak cukup untuk memerangi krisis iklim,” kata Elijah McKenzie-Jackson kepada BBC. BBC menceritakan kembali pengalaman McKenzie-Jackson dan pilihannya sebagai veganisme.
The Louder Generation, Generasi Muda yang Tak Mau Lagi Jadi Penonton

Generasi muda, terutama gen Z, memilih menyuarakan keresahan dan mengambil peran dalam percakapan publik.
Media sosial menjadi ruang bagi anak muda untuk berbagi isu, mengkritik kebijakan, dan menggalang dukungan.
The Louder Generation membutuhkan ruang didengar, kesempatan terlibat, serta solidaritas dan strategi agar suara menghasilkan perubahan.
Tiap generasi punya karakter yang berbeda-beda dalam memandang suatu hal. Buat anak muda sekarang, keresahan bukan suatu hal yang harus diterima dengan pasrah. Mereka punya semangat yang jauh lebih besar untuk menyuarakan keresahan dengan beragam hal.
28 Oktober 2026 menggambarkan bagaimana generasi muda memilih tidak diam dan lebih banyak beraksi untuk menyuarakan isi pikiran mereka dalam ruang publik. Bahkan, banyak perempuan yang ikut mempertanyakan banyak hal, menyampaikan pendapat, dan tidak menerima keadaan apa adanya.
Bundaran HI menjadi saksi ratusan orang hadir dan mengambil peran dalam percakapan publik. Mereka gak hanya ingin didengar, tetapi ingin menentukan ke mana perubahan akan negara ini dibawa. Fenomena tersebutlah yang kemudian dikenal dengan istilah The Louder Generation.
1. Antar generasi punya cara yang berbeda dalam menanggapi suatu hal dan gen Z lebih ‘berisik’

Suasana aksi demo 28 Oktober di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Rabu (28/10/2026). (IDN Times/Cantika Lutfiah) Belakangan, media sosial sangat ramai dengan isu-isu yang menyangkut setiap sisi kehidupan masyarakat Indonesia. Tentang apa yang sedang terjadi, apa sikap pemerintah, hingga kegeraman masyarakat yang menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik.
Ada perbedaan sikap antar generasi. Dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report 2027 yang dikeluarkan oleh IDN Research Institute, tertulis bahwa Milenial merupakan generasi yang paling skeptis dan pasrah. Dibanding gen Z, generasi milenial cenderung tidak melakukan tindakan apa pun terkait isu sosial.
Terkait isu soal pemerintah, 40 persen generasi milenial beranggapan bahwa respons pemerintah lambat. Tapi, sikap ini gak serta merta membuat mereka melakukan suatu tindakan. Sering kali berujung pada sikap pasrah, berbeda dengan gen Z yang lebih ‘berisik’.
Sementara, gen Z dianggap sebagai generasi yang tidak menunggu suara melainkan menggunakan suaranya untuk melakukan perubahan. Data Indonesia Millennial and Gen Z Report 2027 menunjukkan kalau ada 66,3 persen gen Z yang pernah membagikan konten, mengunggah ulang, atau menandatangani petisi.
Namun, apa yang dilakukan gen Z gak boleh disalahartikan sebagai bentuk kepercayaan terhadap sistem. Itu adalah cara mereka mengekspresikan nasionalisme dengan cara yang berbeda. Data menunjukkan bahwa 61 persen kaum Milenial dan Gen Z mengungkapkan kecintaan mereka terhadap Indonesia melalui penggunaan produk lokal dan 59 persen melalui kritik terhadap kebijakan yang tidak adil.
2. Vokal di ruang publik lahir dari kekecewaan yang terukur

Aksi demo di depan kantor Balaikota Solo, sebut Prabowo-Gibran gagal. (IDN Times/Larasati Rey) Teknologi memberi ruang bagi generasi muda untuk melakukan kritik dan perubahan. Di Indonesia, media sosial menjadi alat untuk menyampaikan informasi hingga menjadi forum diskusi. Satu unggahan bisa menyimpan berbagai makna dan mempertemukan banyak orang dengan keresahan serupa.
Dilansir BBC Worklife dalam artikelnya yang berjudul “Gen Z: How young people are changing activism”, menyebut teknologi telah memberi kaum muda suara yang lebih lantang dari sebelumnya. Tak jarang, frustrasi menjadi bahan bakar utama aktivisme mereka.
Gen Z bukan satu-satunya generasi yang menyuarakan ketidakadilan dan masalah lainnya. Namun, gen Z yang hidup di era digital ini membentuk mereka menjadi pribadi yang berani untuk bertindak. Gen Z memiliki pandangan yang cukup realistis tentang ketakutannya di masa depan maupun tentang kebutuhan yang tidak bisa mereka dapatkan.
Riset global dari Edelman kepada 10.000 gen Z menunjukkan bahwa ada 70 persen dari mereka yang terlibat dalam suatu isu sosial atau politik. Ini mengungkapkan bagaimana anak muda sangat vokal dalam menyuarakan berbagai aspirasi mereka.
3. The Louder Generation, generasi yang menolak diam atas hal yang mereka anggap penting

Sejumlah mahasiswa dan masyarakat mulai bersiap menggelar aksi demo 28 Oktober di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Rabu (28/10/2026). (IDN Times/Cantika Lutfiah) Unggahan Instagram @wargamuda menjelaskan fenomena “Louder Generation”, di mana semakin banyak anak muda yang mengambil ruang dalam percakapan publik. Generasi yang banyak bertanya karena sadar bahwa segala persoalan publik ini berkaitan dengan kehidupan masing-masing orang.
“Generasi yang berani bersuara, membutuhkan ruang untuk didengar, kesempatan untuk terlibat, dan jalan untuk mewujudkan perubahan,” keterangan dalam unggahan @wargamuda di Instagram, Minggu (1/11/2026).
Buat generasi muda seperti gen Z dan alpha, ruang digital adalah ruang publik mereka. Zeynep Tufekci melalui karyanya yang terkenal “Twitter and Tear Gas”, menjelaskan bagaimana internet memungkinkan munculnya gerakan yang lebih cepat dan besar. Namun, Tufekci juga menjelaskan bahwa kemampuan menghimpun banyak suara belum tentu menghasilkan perubahan yang bertahan lama. Suara yang lantang tetap perlu ditopang solidaritas, organisasi, strategi, dan ruang partisipasi yang benar-benar bermakna.











![[QUIZ] Dari Karakter Upin & Ipin Ini, Kamu Tipe Murid Seperti Apa?](https://image.idntimes.com/post/20240731/screenshot-2024-07-31-110715-9c84d19ef5d0013432e1371c5ba91423.png)










