Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gaya Parenting Syahrini, Cara Membatasi Screen Time Anak

3 min read
Gaya Parenting Syahrini, Cara Membatasi Screen Time Anak
Syahrini (instagram.com/princessyahrini)
  • Syahrini membatasi screen time anak maksimal satu jam sehari dan tidak mengizinkan gadget atau televisi sebelum anak menyelesaikan sarapan.
  • Ia mengarahkan anak pada aktivitas fisik, seperti bermain di playground atau area rumah, agar waktu bermain tidak berpusat pada ponsel.
  • Syahrini menekankan ketegasan, penjelasan berulang soal batasan, serta pengajaran adab dan akhlak melalui rutinitas sehari-hari.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Nama Syahrini sudah lama dikenal di industri hiburan Tanah Air. Namun di balik kehidupannya sebagai penyanyi dan figur publik, pengalaman barunya sebagai seorang ibu juga menarik untuk diikuti. Kali ini, perhatian publik bukan hanya tertuju pada penampilannya, tetapi juga pada cara Syahrini mendampingi tumbuh kembang buah hatinya.

Saat berbincang dengan Grace Tahir, Syahrini membagikan pengalamannya menerapkan pola asuh, termasuk membatasi screen time anak maksimal satu jam sehari. Aturan soal gadget, kebiasaan setelah bangun tidur, hingga pentingnya aktivitas fisik menjadi bagian dari ceritanya yang menarik perhatian dan mendapat respons positif dari warganet. Lantas, seperti apa cara Syahrini membangun kebiasaan tersebut sejak dini?

  1. 1. Membatasi screen time maksimal satu jam sehari

    Syahrini
    Syahrini (instagram.com/princessyahrini)

    Di tengah kebiasaan anak yang semakin akrab dengan gadget, Syahrini memilih menetapkan batas waktu penggunaan layar maksimal satu jam sehari. Ia juga tidak membiasakan anak langsung menonton televisi atau memegang gawai setelah bangun tidur sebelum menyelesaikan sarapan. Artinya, ada rutinitas yang perlu dijalani terlebih dahulu sebelum anak mendapatkan waktu untuk menggunakan perangkat digital.

    Aturan ini menunjukkan bagaimana batasan kecil bisa mulai diperkenalkan dalam keseharian anak. Alih-alih membiarkan penggunaan gadget berlangsung tanpa aturan, orangtua dapat membantu anak mengenal waktu dan membangun kebiasaan yang lebih teratur sejak dini.

  2. 2. Mengutamakan aktivitas fisik daripada gadget

    Syahrini
    Syahrini (instagram.com/princessyahrini)

    Bagi Syahrini, membatasi penggunaan gadget juga perlu diimbangi dengan kegiatan lain yang menyenangkan. Ia mengungkapkan bahwa anak lebih diarahkan untuk bermain secara fisik, seperti di playground atau area bermain di rumah, daripada menjadikan ponsel sebagai hiburan utama.

    Cara ini membuat waktu bermain gak hanya dihabiskan di depan layar. Anak memiliki kesempatan untuk bergerak, bereksplorasi, dan mengenal lingkungan sekitarnya. Orangtua pun bisa ikut mendampingi, sehingga aktivitas sederhana di rumah menjadi momen untuk membangun kedekatan dengan buah hati.

  3. 3. Tegas menerapkan aturan dan mengutamakan adab

    Syahrini
    Syahrini (instagram.com/princessyahrini)

    Selain mengatur waktu penggunaan gadget, Syahrini juga menekankan pentingnya ketegasan dan konsistensi dalam mengasuh anak. Ketika anak menginginkan sesuatu yang tidak diperbolehkan, terutama hal yang berbahaya, orangtua perlu memberikan penjelasan secara berulang agar anak perlahan memahami batasan. Dengan begitu, aturan bukan hanya menjadi larangan, tetapi juga bagian dari proses belajar.

    Syahrini turut menyoroti pentingnya mengajarkan adab dan akhlak sejak dini dari rumah. Bagi orangtua, mendampingi tumbuh kembang anak bukan hanya tentang kemampuan akademis, tetapi juga membentuk kebiasaan baik dan cara bersikap. Nilai-nilai tersebut dapat diperkenalkan melalui rutinitas sehari-hari, termasuk ketika anak belajar mengikuti aturan penggunaan gadget.

    Pengalaman Syahrini memperlihatkan bahwa mengasuh anak di era digital membutuhkan lebih dari sekadar membatasi waktu layar. Rutinitas yang teratur, aktivitas bermain yang menyenangkan, serta ketegasan orang tua sama-sama berperan dalam membangun kebiasaan anak. Setiap keluarga tentu punya pendekatan berbeda, tetapi pengalaman yang dibagikan Syahrini bisa menjadi bahan refleksi bagi orangtua yang sedang mencari cara menyeimbangkan penggunaan gadget dan aktivitas anak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More