Kabeh iku mung manungsa kang pinunjul,
marga duwe lahir batin,
jroning urip iku mau,
isi ati klawan budi,
iku pirantine ewong.
Mengenal Apa Itu Guru Wilangan, Lengkap dengan Contohnya

Dalam sastra Jawa, khususnya tembang macapat, terdapat aturan penting yang harus diperhatikan agar syair terdengar indah dan sesuai pakem. Salah satu aturan tersebut adalah guru wilangan. Aturan ini berperan besar dalam menjaga irama dan keteraturan sebuah karya sastra tradisional.
Guru wilangan tidak bisa dipisahkan dari aturan macapat lainnya karena saling melengkapi. Dengan memahami guru wilangan, seseorang dapat menulis atau melantunkan tembang dengan lebih tepat dan sesuai dengan bentuk aslinya.
1. Mengenal tembang macapat

Sebelum membahas tentang guru wilangan, ada baiknya kamu harus mengetahui apa itu yang dimaksud dengan tembang macapat. Dulunya tembang macapat sering dimanfaatkan oleh para orangtua sebagai media untuk menyampaikan nasihat kepada anak-anak tentang berbagai pelajaran hidup.
Di dalam tembang ini terkandung ajaran agama serta nilai-nilai moral yang disampaikan melalui rangkaian kata yang indah, sehingga pesannya lebih mudah dipahami. Macapat sendiri dikenal sebagai salah satu bentuk puisi tradisional berbahasa Jawa yang sarat makna. Tidak jarang, tembang-tembang tersebut dilantunkan oleh orang tua saat meninabobokan anak-anak mereka.
Berdasarkan buku Macapat: Tembang Jawa Indah dan Kaya Makna oleh Zahra Haidar (2018), tembang macapat adalah petuah dan wejangan yang mengandung pelajaran berharga. Oleh sebab itu, tembang ini kerap digunakan sebagai sarana pendidikan moral oleh orangtua, agar anak-anak dapat memahami nilai kehidupan sejak dini.
2. Apa itu guru wilangan?

Mengutip laman Pusdatin Kemendikbudristek, secara umum guru wilangan adalah jumlah suku kata setiap baris. Hal serupa juga dijelaskan dalam buku Pembelajaran Bahasa Jawa di Sekolah Dasar oleh Endang Sri Maruti.
Dalam buku tersebut, guru wilangan adalah jumlah suku kata pada setiap baris tembang. Jadi secara lebih lengkap, guru wilangan menunjukkan banyaknya suku kata atau juga disebut wanda dalam satu baris tembang.
3. Contoh guru wilangan

Setelah memahami apa itu tembang macapat dan guru wilangan, ada memudahkan kamu jika mengetahui contohnya. Dengan begitu, kamu bisa belajar dengan lebih mudah tentang apa itu guru wilangan. Jadi, kamu bisa menyimak contohnya di bawah ini.
Guru wilangan dalam tembang tersebut adalah 12, 8, 8, 8, 8. Maksudnya, baris bertama berjumlah 12 suku kata, baris kedua berjumlah 8 suku kata, baris ketiga berjumlah 8 suku kata, baris keempat berjumlah 8 suku kata, dan baris kelima berjumlah 8 suku kata.
Memahami guru wilangan membantu kita mengenal lebih dalam kekayaan sastra Jawa yang diwariskan secara turun-temurun. Oleh karena itu, mempelajari guru wilangan adalah langkah penting bagi siapa saja yang ingin memahami atau melestarikan sastra Jawa.



















