Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bercandaan yang Tanpa Sadar Termasuk Objektifikasi, Stop Yuk!

Bercandaan yang Tanpa Sadar Termasuk Objektifikasi, Stop Yuk!
ilustrasi bercanda (pexels.com/setengah lima sore)
Intinya Sih
  • Artikel menyoroti bagaimana objektifikasi sering muncul lewat candaan seksual yang dianggap wajar di tongkrongan, padahal menjadikan tubuh orang lain sebagai bahan komentar tanpa izin.

  • Dijelaskan berbagai bentuk jokes seperti menebak ukuran tubuh, menjadikan fisik sebagai punchline, hingga menyamarkan seksualisasi dengan humor halus yang tetap merendahkan individu.

  • Pesan utamanya mengajak pembaca lebih peka untuk membedakan mana candaan sehat dan mana yang melewati batas, agar obrolan tetap seru tanpa menyeret tubuh orang lain sebagai bahan lucu-lucuan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Objektifikasi sering lewat dalam bentuk jokes yang terdengar nakal dan dianggap wajar di tongkrongan. Padahal siapapun tahu kalau arahnya sudah jelas ke seksual dan menjadikan tubuh orang lain sebagai bahan komentar. Karena sering diulang dan ditertawakan bareng, banyak yang tidak sadar kalau ini sebenarnya bentuk objektifikasi.

Lama-lama, ucapan seperti itu terasa biasa, bahkan dianggap bagian dari keakraban. Di titik ini, penting untuk mulai peka, mana yang masih lucu dan mana yang sudah melewati batas. Berikut beberapa bentuk bercandaan yang sering dianggap normal, padahal sudah masuk ke objektifikasi seksual.

1. Melempar jokes menebak “ukuran” seseorang secara terang-terangan

ilustrasi obyektifikasi
ilustrasi obyektifikasi (pexels.com/Yan Krukau)

Kalimat seperti “pasti gede sih” atau “enggak mungkin kecil kalo ini mah” sering muncul saat melihat cara berpakaian atau bentuk tubuh seseorang. Candaan ini biasanya langsung disambut tawa, seolah hal biasa. Padahal, ini sudah jelas mengarah ke bagian tubuh tertentu dengan sudut pandang seksual. Orang yang jadi bahan tidak lagi dilihat sebagai individu, tapi sebagai tebakan yang bisa diumbar.

Nah, yang bikin makin bermasalah, candaan seperti ini sering dilontarkan di ruang terbuka tak lagi sebatas grup chat atau lainnya. Orang lain tak jarang ikut menimpali, seolah itu permainan balas kata yang seru. Padahal, yang dibahas tidak pernah memberi izin untuk jadi bahan tebakan seperti itu. Kalau terus dibiarkan, kebiasaan ini bikin komentar seksual terasa wajar di mana saja.

2. Menjadikan bagian tubuh sebagai punchline utama

ilustrasi obyektifikasi
ilustrasi obyektifikasi (pexels.com/khezez | خزاز )

Ucapan seperti “kayak semangka” atau “pasti warnanya pink” sering dipakai untuk menggambarkan bagian tubuh tertentu. Ini bukan lagi deskripsi biasa, tapi sudah menjadikan tubuh sebagai bahan lucu-lucuan. Apalagi kalau disampaikan sambil menunjuk atau memberi kode ke orang lain. Fokus obrolan langsung bergeser ke fisik secara vulgar.

Lantas yang sering tidak disadari, ini membuat orang jadi terekspos tanpa persetujuan. Candaan yang seharusnya netral berubah jadi tidak nyaman. Orang yang jadi bahan bisa saja tertawa, tapi bukan berarti benar-benar menerima. Di balik itu, ada rasa dipermalukan yang sulit diungkapkan.

3. Melontarkan jokes dipakai seolah itu hal biasa

ilustrasi obyektifikasi
ilustrasi obyektifikasi (pexels.com/Henri Mathieu-Saint-Laurent)

Kalimat seperti “kayaknya enak nih dipakai” atau “boleh juga kalau buat…” sering muncul dengan nada santai. Padahal, ini sudah jelas menjadikan seseorang sebagai objek yang bisa digunakan secara seksual. Candaan seperti ini bukan lagi implisit, tapi cukup terang. Masalahnya, sering dianggap lucu karena dibungkus tawa.

Ketika ucapan seperti ini terus diulang, batas jadi makin kabur. Orang bisa terbiasa mendengar tanpa merasa itu salah. Padahal, dari sudut mana pun, ini sudah merendahkan. Seseorang direduksi hanya menjadi fungsi untuk kesenangan orang lain.

4. Membangun jokes dari imajinasi seksual secara terbuka

ilustrasi obyektifikasi
ilustrasi obyektifikasi (pexels.com/Henri Mathieu-Saint-Laurent)

Komentar seperti “hmm pasti mantep” atau “kebayang sih rasanya” sering muncul tanpa filter. Ini jelas membawa obrolan ke arah imajinasi seksual terhadap tubuh orang lain. Meskipun tidak dijelaskan detail, arahnya sudah sangat jelas. Candaan seperti ini biasanya memancing tawa karena dianggap berani.

Nah yang jadi masalah, orang yang dibicarakan tidak pernah jadi bagian dari candaan itu. Mereka hanya dijadikan objek imajinasi sepihak. Kalau terus dianggap normal, ini bisa membentuk kebiasaan melihat orang dari sisi seksual duluan. Padahal, tidak semua orang nyaman dengan arah obrolan seperti ini.

5. Menyamarkan seksualisasi lewat nada bercanda

ilustrasi obyektifikasi
ilustrasi obyektifikasi (pexels.com/cottonbro studio)

Kalimat seperti “bahaya kalau dekat-dekat takut ada yang bangun” kemudian disamarkan “semangatku yang bangun”. Padahal, ini tetap mengarah ke reaksi seksual terhadap seseorang. Bedanya, disampaikan lebih halus supaya tidak terlihat kasar, tapi maknanya tetap sama.

Karena bagi sebagain orang tidak terlalu vulgar, banyak yang merasa bercandaan seperti ini aman. Padahal, tetap saja menempatkan orang sebagai pemicu, bukan sebagai individu. Kalau terus dibiarkan, cara bicara seperti ini jadi kebiasaan yang sulit diubah. Objektifikasi akhirnya terasa seperti bagian dari humor sehari-hari.

Objektifikasi seksual tidak selalu hadir dalam bentuk serius, justru sering muncul lewat jokes yang dianggap santai. Ketika mulai disadari, obrolan bisa tetap hidup tanpa harus menyeret tubuh orang lain jadi bahan candaan. Mengurangi jenis humor seperti ini bukan berarti kehilangan momen seru di tongkrongan, tapi lebih ke tahu batas yang sehat. Kalau sudah tahu contohnya, masih mau menganggap semua candaan itu biasa saja?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa
Follow Us

Related Articles

See More