Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Kebiasaan yang Tanpa Sadar Menyulitkan Penyandang Disabilitas

5 Kebiasaan yang Tanpa Sadar Menyulitkan Penyandang Disabilitas
ilustrasi penyandang disabilitas (pexels.com/Gustavo Fring)
Intinya Sih
  • Banyak kebiasaan sehari-hari seperti menaruh barang di trotoar atau parkir di jalur akses disabilitas tanpa sadar menghambat mobilitas penyandang disabilitas.
  • Interaksi sosial yang kurang tepat, seperti berbicara kepada pendamping atau membantu tanpa izin, dapat membuat penyandang disabilitas merasa tidak dihargai dan kehilangan kendali.
  • Kesadaran bahwa setiap penyandang disabilitas memiliki kebutuhan berbeda penting untuk menciptakan lingkungan publik yang lebih inklusif dan nyaman bagi semua.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Penyandang disabilitas tidak hanya menghadapi hambatan dari kondisi lingkungan yang kurang aksesibel. Dalam kehidupan sehari-hari, ada pula kebiasaan-kebiasaan yang sering dianggap sepele, tetapi justru dapat menyulitkan mereka saat beraktivitas.

Mulai dari cara berkomunikasi hingga penggunaan fasilitas umum, beberapa kebiasaan ini masih cukup sering ditemui tanpa disadari dampaknya. Berikut sejumlah kebiasaan yang tanpa sadar menyulitkan penyandang disabilitas dan luput dari perhatian.

1. Menjadikan trotoar sebagai tempat menaruh barang

ilustrasi trotoar untuk berjualan
ilustrasi trotoar untuk berjualan (pexels.com/Markus Winkler)

Trotoar dibangun agar pejalan kaki dapat bergerak dengan aman dan nyaman. Sayangnya, masih banyak trotoar yang dipenuhi motor, gerobak, meja dagangan, pot tanaman, atau barang-barang lain yang sebenarnya tidak semestinya berada di sana. Karena kondisi tersebut sudah sering terlihat, banyak orang menganggapnya sebagai hal yang biasa.

Bagi penyandang disabilitas, hambatan kecil di trotoar dapat menimbulkan kesulitan yang jauh lebih besar. Penyandang tunanetra, misalnya, mengandalkan jalur yang relatif konsisten saat berjalan. Ketika ada benda yang tiba-tiba menghalangi jalan, mereka harus berhenti, mencari jalur alternatif, atau meminta bantuan orang lain. Sementara itu, pengguna kursi roda bisa kesulitan melintas jika ruang geraknya semakin sempit. Kebiasaan menggunakan trotoar untuk kepentingan pribadi mungkin tampak sepele, tetapi dampaknya dapat dirasakan setiap hari oleh banyak orang.

2. Mengajak bicara pendamping penyandang disabilitas

ilustrasi penyandang disabilitas
ilustrasi penyandang disabilitas (pexels.com/Kampus Production)

Situasi ini masih cukup sering ditemukan di berbagai tempat. Ketika penyandang disabilitas datang bersama keluarga atau teman, pertanyaan justru diarahkan kepada pendampingnya. Mulai dari menanyakan identitas, kebutuhan, hingga keputusan yang ingin diambil, semuanya dibicarakan kepada orang lain meskipun penyandang disabilitas tersebut berada tepat di depan.

Kebiasaan seperti ini dapat membuat seseorang merasa tidak dianggap sebagai pihak yang berhak menyampaikan pendapatnya sendiri. Padahal banyak penyandang disabilitas mampu berkomunikasi dan menjelaskan kebutuhannya secara langsung. Berbicara kepada orang yang sedang dilayani merupakan bentuk penghormatan yang sederhana, tetapi penting. Jika memang membutuhkan bantuan tambahan untuk berkomunikasi, pendamping dapat dilibatkan setelahnya tanpa mengabaikan orang yang menjadi pusat percakapan.

3. Memberikan bantuan tanpa menanyakan kebutuhannya

ilustrasi penyandang disabilitas
ilustrasi penyandang disabilitas (pexels.com/SHVETS production)

Keinginan membantu orang lain tentu merupakan hal yang positif. Namun, tidak semua bantuan yang diberikan secara spontan benar-benar dibutuhkan. Ada pengguna kursi roda yang tiba-tiba didorong tanpa izin, ada pula penyandang tunanetra yang langsung ditarik tangannya ketika sedang berjalan.

Meski dilakukan dengan niat baik, tindakan tersebut dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman karena kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Setiap penyandang disabilitas memiliki cara yang berbeda untuk beraktivitas dan belum tentu membutuhkan bantuan pada saat yang sama. Menanyakan terlebih dahulu apakah bantuan diperlukan merupakan langkah yang lebih menghargai. Selain menghindari kesalahpahaman, cara ini juga membuat bantuan yang diberikan menjadi lebih tepat sasaran.

4. Menaruh kendaraan sebentar di area akses disabilitas

ilustrasi parkir kendaraan
ilustrasi parkir kendaraan (pexels.com/JUNLIN ZOU)

Kalimat "hanya sebentar" sering menjadi alasan ketika seseorang berhenti di area yang sebenarnya diperuntukkan bagi penyandang disabilitas. Jalur landai untuk kursi roda, akses masuk gedung, atau bagian trotoar tertentu terkadang terhalang oleh kendaraan yang diparkir sesaat. Karena waktunya singkat, tindakan tersebut sering dianggap tidak menimbulkan masalah.

Padahal, aksesibilitas dirancang agar dapat digunakan kapan saja saat dibutuhkan. Ketika area tersebut terhalang, penyandang disabilitas mungkin harus menunggu, mencari jalur lain, atau bahkan membatalkan aktivitas yang ingin dilakukan. Hambatan yang berlangsung beberapa menit tetap dapat berdampak besar bagi orang yang sedang membutuhkannya. Menghormati fungsi fasilitas aksesibilitas merupakan bentuk kepedulian yang bisa dilakukan oleh siapa saja.

5. Menganggap semua penyandang disabilitas membutuhkan hal yang sama

ilustrasi penyandang disabilitas
ilustrasi penyandang disabilitas (pexels.com/Eren Li)

Masih ada anggapan bahwa penyandang disabilitas merupakan kelompok dengan kebutuhan yang seragam. Padahal, kondisi dan tantangan yang dihadapi setiap individu bisa sangat berbeda. Kebutuhan pengguna kursi roda tentu tidak selalu sama dengan penyandang tuli, tunanetra, atau penyandang disabilitas lainnya.

Cara pandang yang terlalu menyederhanakan ini sering membuat kebutuhan tertentu terlewatkan. Sebuah tempat mungkin sudah menyediakan jalur kursi roda, tetapi belum memiliki informasi visual yang memadai bagi penyandang tuli. Di tempat lain, informasi tersedia dengan baik, tetapi akses fisiknya masih sulit digunakan. Memahami bahwa kebutuhan setiap orang dapat berbeda merupakan bagian penting dari kesadaran disabilitas. Semakin banyak perbedaan yang dipahami, semakin besar pula peluang menciptakan lingkungan yang nyaman dan inklusif bagi semua orang.

Membangun lingkungan yang ramah bagi penyandang disabilitas tidak selalu membutuhkan perubahan besar atau biaya yang mahal. Banyak hambatan justru muncul dari kebiasaan yang tanpa sadar menyulitkan penyandang disabilitas. Dengan mulai memperhatikan cara berinteraksi dan menggunakan ruang publik, setiap orang dapat ikut berkontribusi menciptakan lingkungan yang lebih nyaman, aman, dan setara bagi semua.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo

Related Articles

See More