Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Buku yang Dianggap Kontroversial, Sempat Dilarang Beredar
film adaptasi novel Harry Potter and the Half-Blood Prince (dok. Warner Bros/Harry Potter and the Half-Blood Prince)
  • Pada era 2000-an, sejumlah buku populer diprotes, dibatasi di sekolah, atau dilarang karena tema sihir, kekerasan, bahasa kasar, serta isu remaja dan agama.

  • Harry Potter, Alice, Of Mice and Men, Scary Stories to Tell in the Dark, Internet Girls, dan His Dark Materials menjadi sasaran kontroversi di berbagai tempat.

  • Meski diperdebatkan, banyak karya tersebut tetap mempertahankan pembaca, pengaruh budaya, atau status penting dalam sastra, termasuk melalui adaptasi film dan pembahasan akademis.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dekade 2000-an menjadi masa ketika banyak buku populer tidak hanya meraih penjualan fantastis, tetapi juga memicu perdebatan panjang. Beberapa karya bahkan berkali-kali diprotes, ditarik dari perpustakaan sekolah, hingga masuk daftar buku yang paling sering dilarang di berbagai daerah.

Alasan pelarangannya pun beragam, mulai dari unsur sihir, kekerasan, bahasa yang dianggap tidak pantas, hingga tema remaja yang dinilai terlalu dewasa. Menariknya, sebagian besar buku dalam daftar ini justru berhasil menjadi karya klasik modern yang dicintai jutaan pembaca.

Kontroversi ternyata tidak selalu menghentikan popularitas sebuah buku, bahkan dalam beberapa kasus justru membuatnya semakin dikenal. Berikut enam buku yang sempat dianggap kontroversial pada era 2000-an dan menjadi sasaran pelarangan di berbagai tempat.

1. Harry Potter – J.K. Rowling

Harry Potter and the Philosopher's Stone (jkrowling.com)

Sulit dipercaya bahwa seri Harry Potter pernah menjadi salah satu buku yang paling sering diprotes pada era 2000-an. Ketika novel-novelnya terus terbit dan film-filmnya sukses besar, kisah penyihir muda bernama Harry Potter menjadi fenomena budaya di seluruh dunia. Namun di balik popularitas itu, banyak kelompok yang menilai buku ini tidak layak dibaca anak-anak karena mengangkat tema sihir dan dunia magis.

Kontroversi tersebut membuat beberapa sekolah dan perpustakaan sempat menarik seri Harry Potter dari rak koleksi mereka. Meski begitu, dukungan pembaca jauh lebih besar dibanding penolakannya. Hingga kini Harry Potter tetap menjadi salah satu waralaba buku paling sukses sepanjang masa, sementara berbagai upaya pelarangan perlahan mereda seiring besarnya pengaruh karya J.K. Rowling di dunia sastra dan hiburan.

2. Alice – Phyllis Reynolds Naylor

Alice (alicemckinley.wordpress.com)

Seri Alice mungkin tidak sepopuler Harry Potter secara global, tetapi buku ini sempat menjadi salah satu novel remaja yang paling sering dipermasalahkan pada era 2000-an. Kisahnya mengikuti perjalanan hidup Alice sejak masih duduk di bangku sekolah dasar hingga memasuki masa dewasa. Karena karakter utamanya terus bertambah usia, tema yang dibahas pun ikut berkembang menjadi lebih kompleks.

Ketika Alice mulai memasuki masa pubertas dan sekolah menengah, novel ini membahas persoalan seperti perubahan tubuh, hubungan asmara, hingga pencarian jati diri. Topik-topik tersebut dianggap terlalu sensitif oleh sebagian pihak sehingga beberapa sekolah memilih membatasi akses terhadap buku ini. Meski demikian, banyak pembaca justru menganggap seri Alice realistis.

3. Of Mice and Men – John Steinbeck

Of Mice and Men (goodreads.com)

Walaupun pertama kali diterbitkan pada 1937, Of Mice and Men tetap menjadi salah satu buku yang paling sering diprotes pada era 2000-an. Novel klasik karya John Steinbeck ini menceritakan persahabatan George dan Lennie, dua pekerja yang berjuang bertahan hidup di tengah sulitnya kondisi ekonomi Amerika pada masa Depresi Besar. Kisahnya singkat, tetapi meninggalkan kesan emosional yang sangat kuat.

Buku ini menuai kritik karena menggunakan bahasa yang kini dianggap kasar, mengandung adegan kekerasan, serta cara penggambaran beberapa karakter yang dinilai tidak lagi sesuai dengan standar masa kini. Meski begitu, banyak akademisi dan guru tetap mempertahankannya sebagai bacaan penting karena menawarkan kritik sosial yang tajam dan menjadi salah satu karya sastra Amerika paling berpengaruh.

4. Scary Stories to Tell in the Dark – Alvin Schwartz

Scary Stories to Tell in the Dark (goodreads.com)

Bagi banyak pembaca, Scary Stories to Tell in the Dark adalah buku yang memperkenalkan mereka pada cerita horor sejak kecil. Kumpulan kisah menyeramkan karya Alvin Schwartz ini dipenuhi legenda urban, cerita rakyat, dan ilustrasi mengerikan yang membuat pembacanya sulit melupakan setiap halaman. Justru ilustrasi karya Stephen Gammell itulah yang menjadi salah satu sumber kontroversi terbesar.

Banyak orangtua dan sekolah menganggap isi buku ini terlalu menakutkan untuk anak-anak sehingga sempat dilarang di berbagai perpustakaan sekolah. Namun seiring waktu, generasi yang tumbuh bersama buku ini mulai melihatnya sebagai bagian penting dari pengalaman membaca masa kecil. Kini statusnya tidak lagi se kontroversial dulu, bahkan telah diadaptasi menjadi film dan tetap memiliki banyak penggemar.

5. Internet Girls – Lauren Myracle

Internet Girls (laurenmyracle.com)

Seri Internet Girls hadir dengan konsep yang cukup unik karena seluruh ceritanya ditulis dalam bentuk percakapan pesan instan. Format tersebut terasa sangat segar pada pertengahan 2000-an ketika budaya mengobrol secara daring mulai berkembang pesat. Pembaca mengikuti kehidupan para remaja melalui obrolan digital yang terasa spontan dan realistis.

Di balik konsepnya yang menarik, novel ini memicu kontroversi karena membahas alkohol, narkoba, seks, dan berbagai persoalan khas remaja secara terbuka. Sebagian pihak menilai isinya terlalu vulgar untuk pembaca muda, sementara yang lain melihatnya sebagai gambaran jujur tentang kehidupan remaja modern. Perdebatan itu membuat seri Internet Girls beberapa kali masuk daftar buku yang paling sering diminta untuk dilarang.

6. His Dark Materials – Philip Pullman

His Dark Materials (philip-pullman.com)

Trilogi His Dark Materials dikenal sebagai salah satu karya fantasi paling ambisius yang pernah ditulis Philip Pullman. Ceritanya menghadirkan dunia penuh petualangan, makhluk fantastis, dan konsep filsafat yang cukup mendalam. Namun di balik kisah epiknya, buku ini juga mengangkat organisasi keagamaan fiktif yang dianggap memiliki kemiripan dengan institusi agama di dunia nyata.

Hal tersebut memicu kritik dari berbagai kelompok yang menilai novel ini mengandung pesan yang bertentangan dengan keyakinan tertentu. Kontroversinya semakin meningkat ketika film The Golden Compass, adaptasi buku pertamanya, dirilis pada 2007.

Meski kini perdebatan tersebut tidak lagi sebesar dua dekade lalu, His Dark Materials tetap dikenang sebagai salah satu seri fantasi yang pernah memancing diskusi panjang mengenai kebebasan berekspresi dalam sastra.

Kontroversi tidak selalu menjadi tanda bahwa sebuah buku buruk atau tidak layak dibaca. Dari keenam buku tersebut, mana yang paling membuatmu penasaran untuk dibaca?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article