Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Bentuk Invisible Labor yang Bisa Menjadi Sumber Burnout, Hindari!

6 Bentuk Invisible Labor yang Bisa Menjadi Sumber Burnout, Hindari!
ilustrasi mengalami burnout karena invisible labor (pexels.com/Ketut Subiyanto)
  • Invisible labor mencakup mengingat kebutuhan keluarga, menginisiasi tugas, serta mengantisipasi masalah; aktivitas ini membuat pikiran terus bekerja meski tidak tampak sebagai pekerjaan.
  • Mengelola emosi orang lain dan menjadi penanggung jawab saat ada hal terlupakan dapat menumpuk beban mental, terutama ketika kebutuhan diri sendiri tidak mendapat ruang.
  • Predikat sebagai orang andalan berpotensi memusatkan tugas pada satu pihak tanpa mempertimbangkan kapasitasnya; pembagian adil perlu mencakup proses memikirkan hingga menyelesaikan pekerjaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Tidak semua pekerjaan terlihat seperti pekerjaan. Mengingat jadwal keluarga, memastikan stok kebutuhan rumah tidak habis, memikirkan agenda anak, sampai menjadi orang pertama yang dicari ketika ada masalah merupakan bentuk kerja yang menghabiskan waktu dan energi, meski tidak selalu terlihat atau mendapatkan imbalan. Beban seperti ini sering disebut invisible labor karena kontribusinya mudah luput dari perhatian.

Masalahnya, pekerjaan yang tidak terlihat juga sering dianggap tidak melelahkan. Padahal, ketika dilakukan terus-menerus tanpa pembagian tanggung jawab yang seimbang, invisible labor dapat menjadi salah satu sumber burnout. Lantas, apa saja bentuknya? Yuk, kenali enam di antaranya berikut ini!

  1. 1. Mengingat dan mengatur berbagai kebutuhan keluarga

    Pasangan mengingat dan mengatur kebutuhan keluarga
    ilustrasi pasangan mengingat dan mengatur kebutuhan keluarga (magnific.com/magnific)

    Ada orang yang secara otomatis menjadi “pusat informasi” dalam keluarga. Ia tahu kapan tagihan harus dibayar, kapan stok kebutuhan rumah hampir habis, jadwal pemeriksaan anggota keluarga, agenda sekolah anak, hingga kapan harus membeli sesuatu yang dibutuhkan di rumah.

    Sekilas, aktivitas tersebut mungkin terlihat sederhana karena hanya membutuhkan beberapa menit untuk dilakukan. Namun yang melelahkan bukan hanya tugasnya, melainkan keharusan untuk terus mengingat dan mengantisipasi berbagai kebutuhan.

    Otak seolah tidak pernah benar-benar berhenti karena selalu ada hal yang harus diperhatikan. Ketika tanggung jawab ini hanya dibebankan kepada satu orang, mental load yang muncul dapat terus menumpuk meskipun sebagian besar aktivitasnya tidak terlihat seperti “bekerja”.

  2. 2. Menjadi orang yang selalu harus menginisiasi sesuatu

    Pasangan berdebat
    ilustrasi pasangan berdebat (magnific.com/stefamerpik)

    Dalam sebuah rumah tangga atau kelompok, ada orang yang hampir selalu menjadi pihak yang memulai sesuatu. Ia yang mengingatkan anggota keluarga untuk melakukan tugas, membuat janji, merencanakan acara, mencari informasi, atau memastikan sesuatu benar-benar terlaksana.

    Yang sering tidak disadari, mengerjakan tugas dan memastikan tugas tersebut dilakukan merupakan dua hal berbeda. Ketika seseorang harus terus menjadi pengingat bagi orang lain, ia bukan hanya mengerjakan bagiannya sendiri, tetapi juga mengambil tanggung jawab untuk memastikan pekerjaan bersama berjalan. Jika pola ini berlangsung lama, seseorang dapat merasa seolah-olah seluruh situasi akan berantakan apabila dirinya berhenti mengurusnya.

  3. 3. Mengelola kebutuhan emosional orang lain

    Mengelola kebutuhan emosional orang lain
    ilustrasi mengelola kebutuhan emosional orang lain (pexels.com/Alex Green)

    Invisible labor tidak selalu berkaitan dengan pekerjaan rumah atau urusan administratif. Menjadi tempat curhat, menenangkan anggota keluarga, menjaga suasana agar tidak terjadi konflik, atau terus memikirkan perasaan orang lain juga membutuhkan energi emosional.

    Seseorang mungkin terbiasa menjadi pihak yang "paling mengerti", sehingga orang lain datang kepadanya ketika sedang memiliki masalah. Lama-kelamaan, ia dapat merasa bertanggung jawab atas kenyamanan emosional orang-orang di sekitarnya. Masalah muncul ketika kebutuhan emosionalnya sendiri justru tidak mendapatkan ruang yang sama. Ia terus menjadi tempat bersandar, tetapi tidak memiliki kesempatan untuk bersandar kepada orang lain.

  4. 4. Mengantisipasi masalah sebelum benar-benar terjadi

    Burnout
    ilustrasi burnout (pexels.com/Ketut Subiyanto)

    Sebagian invisible labor terjadi bahkan sebelum sebuah pekerjaan perlu dilakukan. Misalnya, memikirkan apa yang mungkin dibutuhkan keluarga minggu depan, mengantisipasi kemungkinan anak sakit, mencari alternatif jika rencana berubah, atau memastikan semua kebutuhan sudah tersedia sebelum seseorang memintanya.

    Kemampuan mengantisipasi memang berguna, tetapi jika hanya satu orang yang terus melakukannya, pikirannya bisa berada dalam kondisi always-on. Tidak ada masalah yang sedang terjadi pun otaknya tetap sibuk mempersiapkan kemungkinan masalah berikutnya. Inilah salah satu alasan mengapa seseorang bisa merasa sangat lelah meskipun secara fisik tidak melakukan banyak aktivitas dalam satu waktu.

  5. 5. Menjadi pihak yang bertanggung jawab ketika sesuatu terlupakan

    Mengalami burnout
    ilustrasi mengalami burnout (magnific.com/stockking)

    Dalam pembagian tanggung jawab yang tidak seimbang, orang yang paling sering mengurus sesuatu juga sering menjadi pihak yang disalahkan ketika ada hal yang terlewat. Ketika jadwal lupa, stok barang habis, atau sebuah kebutuhan tidak terpenuhi, pertanyaan yang muncul bisa saja, "Kok kamu tidak ingat?".

    Situasi ini secara tidak langsung menjadikan seseorang sebagai default manager dalam keluarga atau kelompok. Ia bukan hanya diharapkan mengerjakan sesuatu, tetapi juga diharapkan mengingat semuanya. Beban tersebut dapat membuat seseorang merasa tidak boleh lengah karena kesalahan kecil pun dianggap sebagai kegagalannya. Dalam jangka panjang, tekanan untuk selalu waspada ini dapat berkontribusi pada kelelahan mental.

  6. 6. Terus-menerus menjadi orang yang "bisa diandalkan"

    Pasangan bertengkar
    ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/Timur Weber)

    Menjadi seseorang yang dapat diandalkan tentu bukan hal buruk. Namun ketika predikat tersebut membuat orang lain secara otomatis menyerahkan berbagai hal kepadanya, sifat tersebut justru dapat berubah menjadi beban.

    Karena dianggap paling mampu, paling teliti, atau paling bertanggung jawab, seseorang akhirnya terus diberi tugas tambahan tanpa ada pembicaraan mengenai kapasitasnya. Bahkan ketika ia sebenarnya sudah kelelahan, orang lain mungkin tidak menyadarinya karena selama ini ia selalu mengatakan bisa. Akibatnya, semakin kompeten seseorang terlihat, semakin banyak pula pekerjaan yang berpotensi jatuh kepadanya.

    Invisible labor menunjukkan bahwa beban kerja tidak selalu bisa diukur dari jumlah tugas yang terlihat. Mengingat, merencanakan, mengantisipasi, mengingatkan, dan mengelola kebutuhan orang lain juga membutuhkan energi mental dan emosional.

    Karena itu, membagi pekerjaan secara adil bukan hanya soal "siapa yang mengerjakan tugasnya", tetapi juga siapa yang harus memikirkan tugas tersebut sejak awal sampai benar-benar selesai. Ketika seluruh proses itu terus dibebankan kepada orang yang sama, tidak mengherankan jika kelelahan yang awalnya tidak terlihat akhirnya berubah menjadi burnout.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More