Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Cara Menulis Puisi untuk Pemula agar Menyentuh, Gak Pakai Galau
ilustrasi menulis puisi tanpa menyunting terlebih dulu (pexels.com/cottonbro studio)
  • Artikel menekankan bahwa menulis puisi adalah cara jujur menyalurkan emosi dan bisa menjadi bentuk healing yang membantu menjaga kesehatan mental.
  • Ditekankan pentingnya kejujuran, penggunaan panca indra, serta pemilihan kata sederhana agar puisi terasa hidup dan mudah terhubung dengan pembaca.
  • Penulis disarankan tidak memaksakan rima atau mengedit saat proses awal, supaya emosi mengalir alami sebelum tahap revisi dilakukan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah gak, kamu merasa dada sesak karena emosi yang menumpuk, tapi pas mau menulis curhatan di notes malah berakhir jadi kalimat yang berantakan? Mencari cara menulis puisi untuk pemula agar menyentuh memang gampang-gampang susah karena penulis puisi awal kerap terjebak pada keinginan untuk terlihat puitis tapi malah jadi terasa asing. Padahal, puisi itu sebenarnya adalah jembatan buat nyampein perasaan yang paling jujur dari dalam hati kamu ke pembaca, lho.

Kalau kamu terus-terusan memendam perasaan tanpa tahu cara mengolahnya jadi karya, emosi itu bisa bikin kamu stres atau ngerasa burnout secara mental, lho. Padahal menulis ekspresif seperti puisi terbukti menjadi metode healing terbaik untuk menjaga kesehatan mental sekaligus mengasah empati. Jadi, mending kamu ubah energi galau atau bahagia kamu itu jadi barisan kata yang bermakna dan bikin orang lain yang baca ikutan "tersentuh", yuk!

1. Mulai dari keresahan yang paling jujur

ilustrasi puisi berawal dari keresahan yang paling jujur (pexels.com/Anna Alexes)

Banyak pemula yang berpikir kalau menulis puisi itu harus pakai kata-kata berat seperti “lembayung” untuk menandakan sore, atau “amerta” untuk menunjukkan abadi biar keliatan keren. Padahal, masalah utamanya adalah ketika kamu memaksa pakai kata yang gak pernah kamu pakai sehari-hari, puisi kamu malah jadi terasa kaku dan palsu. Jangan sampai kamu menulis tentang rindu tapi rasanya seperti membaca kamus yang terlalu berat.

Cobalah kamu gali keresahan yang paling simpel atau paling jujur yang lagi kamu rasakan saat ini, misalnya rasa kesal karena kopi panas yang terlalu cepat dingin. Dengan menulis dari sudut pandang yang jujur, manfaatnya adalah pembaca bakal merasa lebih dekat dan terhubung sama tulisan kamu, lho. Puisi yang bagus itu gak perlu terlihat pintar, tapi harus bisa bikin orang bilang, "Eh, ini aku banget!"


2. Gunakan panca indra buat bikin suasana lebih dalam

ilustrasi memakai panca indera agar suasana menulis puisi makin terasa (pexels.com/Anna Alexes)

Menulis kalimat "aku sedih hari ini" itu beneran datar dan gak bakal bikin orang yang baca merasa tersentuh sama sekali. Masalahnya, kamu cuma memberitahu (telling) bukannya menunjukkan (showing) bagaimana rasanya kesedihan itu lewat visual atau rasa. Pembaca butuh gambaran nyata untuk bisa masuk ke dalam dunia yang sedang kamu bangun di dalam barisan kata itu.

Kamu bisa pakai teknik pencitraan atau imagery sederhana dengan melibatkan indra kamu seperti penciuman, pendengaran, atau peraba. Misalnya, daripada bilang sedih, mending ceritakan gimana rasanya mendengarkan suara rintik hujan yang menabrak atap seng sewaktu kamu lagi sendirian di kamar. Manfaat teknik ini bakal bikin puisi kamu terasa lebih "sinematik" dan punya nyawa, meski kamu cuma pakai kata-kata yang simpel.

3. Hindari rima yang dipaksakan

ilustrasi puisi (pexels.com/Richa Sharma)

Terkadang, terlalu obsesif ingin membuat akhiran kalimat yang suaranya sama semua, kayak pola A-B-A-B, puisimu jadi terasa kaku. Masalahnya, kalau kamu terlalu fokus mencari kata yang rimanya pas, hal ini kerap membuat pesan asli yang ingin disampaikan malah jadi geser atau hilang. Puisi kamu malah terdengar seperti pantun yang gak ada sisi emosionalnya sama sekali untuk pembaca.

Cobalah membaca puisi bebas atau free verse yang gak menuntutmu untuk selalu mempunyai rima yang sama. Fokuslah dengan ritme atau aliran kata-kata yang sesuai sama detak jantung atau napas kamu agar dapat merasakan emosi itu. Nantinya tulisan kamu bakal terasa lebih organik dan mengalir, jadi pembaca gak bakal keganggu sama pilihan kata yang dipaksakan cuma demi bunyi, deh.

4. Pilih kata sederhana tapi bermakna kuat

ilustrasi buku puisi (pexels.com/with cloudd)

Gak perlu buka kamus bahasa yang rumit hanya untuk mencari sinonim kata yang sebenarnya simpel karena itu cuma bikin pembaca pusing. Masalah muncul sewaktu kamu berpikir, “semakin rumit kata yang dipakai, maka semakin berkualitas puisi tersebut”, padahal itu salah besar, lho. Kalau pembaca harus berpikir amat keras demi memahami satu baris, emosi yang mau kamu kasih ke mereka bakal keburu buyar di tengah jalan.

Pilihlah kata-kata yang punya bobot emosional kuat meskipun itu kata yang biasa kamu dengar sehari-hari di tongkrongan. Anggap saja kamu lagi memilih baju yang estetik tapi tetap nyaman dipakai seharian tanpa bikin risih. Manfaat dari pilihan kata yang tepat adalah pesan kamu bakal langsung "jleb" ke hati pembaca tanpa perlu banyak basa-basi yang gak perlu, lho.


5. Berhenti edit pas lagi menulis

ilustrasi cara menulis puisi untuk pemula agar menyentuh (pexels.com/ROMAN ODINTSOV)

Musuh terbesar buat para pemula adalah keinginan untuk langsung kelihatan sempurna di draf pertama yang akhirnya bikin macet. Masalah ini sering bikin kamu baru menulis dua baris tapi sudah dihapus lagi karena merasa tulisanmu jelek. Kalau kamu terus-terusan jadi kritikus buat diri sendiri saat proses kreatif, kamu gak bakal pernah bisa menyelesaikan satu puisi pun.

Biarkan semua emosi kamu tumpah dulu di atas kertas atau layar hp tanpa perlu mikirin ejaan atau estetika. Proses ini namanya brain dump, di mana kamu mengeluarkan semua sampah emosi sampai bener-bener plong tanpa ada filter logis. Dengan cara ini, kamu bakal mendapatkan inti perasaan yang paling murni, nantinya juga bisa kamu rapikan pas proses revisi setelah perasaan kamu lebih tenang, kan.

Menulis puisi itu bukan soal seberapa jago kamu mengolah kata, tapi seberapa berani kamu buat jujur sama diri sendiri. Lewat cara menulis puisi untuk pemula agar menyentuh ini, kamu sekarang punya alat untuk mengubah curhatan jadi karya seni yang bermakna. Jangan takut buat mulai, karena dunia butuh dengerin cerita unik yang cuma bisa disampaikan lewat sudut pandang kamu sendiri, lho!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team