Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ketika Efek Doomscrolling Memberikan Tekanan, Harus Bagaimana?
ilustrasi suami istri sibuk dengan smartphone masing-masing (pexels.com/cottonbro studio)

Dunia telah mengalami perubahan yang begitu pesat berkat kemajuan teknologi. Salah satu kemajuan yang paling signifikan adalah mudahnya akses informasi. Hanya dengan satu buah gawai, kita dapat menemukan infromasi apa pun di internet, terutama di media sosial.

Sayangnya, infromasi yang terlalu mudah dan cepat diakses tidak selalu membawa dampak baik, apalagi informasi negatif. Berita buruk seperti bencana, kriminal, isu sosial, hingga politik dapat menimbulkan keresahan. Terlalu banyak mengonsumsi informasi negatif tersebutlah yang dinamakan dengan doomscrolling.

Ibarat virus, doomscrolling mudah menyerang banyak orang di era digital saat ini. Informasi negatif yang membeludak di internet seakan berat untuk dilewatkan. Oleh sebab itu, mari kita kupas sedikit efek doomscrolling dan apa yang harus dilakukan jika sudah merasa tertekan?

1. Kenapa orang kecanduan doomscrolling?

ilustrasi seorang wanita bermain ponsel di kasur (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Secara logika, kita akan merasa kurang nyaman saat menonton atau membaca berita negatif dan idealnya lebih baik dihindari. Namun, kenapa banyak orang justru malah betah bahkan kecanduan doomscrolling? Ternyata hal ini dapat dijelaskan secara psikologis.

Dalam salah satu artikel di laman resmi RS EMC Alam Sutera, dr. William Surya Atmadja, Sp.KJ, menjelaskan bahwa doomscrolling dipengaruhi oleh negativity bias. Otak manusia memiliki kecenderungan psikologis untuk lebih memerhatikan informasi negatif daripada informasi positif. Jadi tidak heran kalau berita buruk lebih banyak menyita perhatian kita.

Selain itu, otak manusia juga lebih kuat dalam merespon stimulas negatif untuk bertahan hidup. Berita buruk dianggap penting untuk menghindari bahaya dan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Namun, obsesi untuk terus mendapatkan informasi terbaru justru malah membawa kita pada kebiasaan doomscrolling yang tidak sehat.

2. Bahaya efek doomscrolling pada kesehatan mental

ilustrasi bermain ponsel (pexels.com/@mikoto)

Kecenderungan otak manusia untuk lebih banyak mengonsumsi informasi negatif didorong pula oleh algoritma. Saat satu berita buruk diklik, maka konten serupa akan muncul secara terus-menerus dan menyita perhatian kita. Siklus tersebutlah yang membuat doomscrolling semakin sulit dihentikan.

Jangan dianggap sepele karena doomscrolling punya efek bahaya pada kesehatan mental. Menurut informasi dari laman American Brain Foundation, doomscrolling dapat membuat pikiran dan perasaan kita ikut negatif. Pada akhirnya, konsetrasi dan produktivitas jadi menurun.

Bukan hanya itu, doomscrolling parahnya dapat membuat kita mengalami kelelahan mental, cemas, stres, depresi, hingga serangan panik. Semua itu juga bisa berpengaruh pada kesehatan fisik seperti sakit kepala, leher, bahu, gangguan makan, hingga gangguan tidur.

3. Bagaimana cara menghentikan kebiasaan doomscrolling?

ilustrasi seorang wanita menggunakan smartphone (pexels.com/cottonbro studio)

Ketika gempuran berita negatif sudah memberikan tekanan, tandanya harus segera dilakukan tindakan. Stres hingga frustrasi saat doomscrolling merupakan respon alami bahwa tubuh mengalami kelelahan mental. Lantas, bagaimana cara menghentikannya?

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menghentikan atau setidaknya mengurangi doomscrolling. Berikut beberapa di antaranya:

  1. Tanamkan mindset bahwa tidak apa-apa tertinggal berita untuk sementara. Kita tidak harus selalu mengikuti berita terkini setiap waktu.

  2. Berhenti mengikuti sumber atau akun yang konsisten mengunggah berita negatif. Kalau perlu senyapkan!

  3. Sebagai gantinya, ikuti akun yang lebih banyak memberitakan informasi positif.

  4. Matikan notifikasi aplikasi atau media sosial guna membatasi akses informasi negatif.

  5. Tetapkan batasan waktu untuk mengakses berita. Misalnya, hanya sekali selama 20—30 menit dalam sehari.

  6. Alihkan perhatian pada hal-hal positif, terutama aktivitas nyata seperti melakukan hobi, baca buku, berkebun, dan lain sebagainya.

Berita-berita buruk seperti kasus kriminal, perang, kenaikan harga, hingga kisruh politik memang penting untuk diakses. Kita perlu tahu agar tetap relevan dan melek terhadap isu-isu sosial. Namun, efek doomscrolling juga perlu diwaspadai. Sebab, otak kita tidak sanggup jika terlalu banyak dijejali berita negatif.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorAtqo Sy

Related Article