“Sebagian besar pengasuh mengira tummy time harus dilakukan dalam durasi yang lama, tetapi sebenarnya satu menit saja sudah cukup sampai bayi mampu menoleransi durasi yang lebih Panjang,” ujar Crystal Barchacky, terapis okupasi berlisensi, dikutip dari Parents.
Aktivitas Seru untuk Mengembangkan Motorik Kasar Anak Sesuai Usia

- Motorik kasar melibatkan otot besar untuk duduk, merangkak, berjalan, berlari, melompat, dan memanjat; stimulasi perlu disesuaikan usia serta tempo perkembangan tiap anak.
- Bayi dapat distimulasi lewat tummy time singkat bertahap, bermain di lantai, dan latihan merangkak dengan mainan atau terowongan, selalu dalam pengawasan tanpa paksaan.
- Batita hingga prasekolah dapat melatih keseimbangan dan koordinasi melalui rintangan, Freeze Dance, playground, sepeda roda tiga, nature walk, engklek, bola, serta menari dengan pendampingan aman.
Motorik kasar merupakan kemampuan anak menggunakan otot-otot besar, seperti kaki, lengan, dan tubuh, untuk melakukan berbagai gerakan. Kemampuan ini berkembang bertahap sejak bayi dan mendukung aktivitas, seperti duduk, merangkak, berjalan, berlari, melompat, hingga memanjat.
Setiap anak memiliki tempo perkembangan yang berbeda, tetapi orangtua tetap bisa memberikan stimulasi lewat aktivitas yang menyenangkan dan sesuai usia. Lantas, apa saja aktivitas seru yang bisa dilakukan untuk membantu mengembangkan motorik kasar anak? Simak selengkapnya dalam artikel berikut.
1. Bayi

ilustrasi memandikan bayi (pexels.com/guesc) Untuk bayi, tummy time dapat menjadi langkah awal untuk merangsang motorik kasar. Saat bayi terjaga dan diawasi, tengkurapkan ia di permukaan aman sambil meletakkan mainan favorit di luar jangkauan agar terdorong mengangkat kepala, menopang tubuh, berguling, atau bergerak mendekat. Orangtua juga bisa mengajak bayi bermain di lantai, menggunakan cermin aman, atau bermain cilukba agar ia tertarik bergerak.
Tummy time sebaiknya dimulai beberapa menit dalam beberapa sesi setiap hari, lalu durasinya ditambah secara bertahap sesuai kemampuan bayi. Aktivitas ini tidak harus berlangsung lama, terutama saat bayi baru belajar terbiasa dengan posisi tengkurap. Tummy time di atas dada pengasuh juga dapat dilakukan, terutama pada periode bayi baru lahir.
Selain tummy time, orangtua dapat mengajak bayi berlatih merangkak melalui permainan sederhana. Letakkan mainan kesayangan atau orang yang dikenalnya di ujung terowongan bermain agar bayi termotivasi bergerak mendekatinya. Jika bayi belum bisa merangkak, jangan dipaksa karena setiap anak memiliki waktu perkembangan yang berbeda.
2. Batita

ilustrasi toddler membuat kerajinan tangan (pexels.com/shkrabaanthony) Memasuki usia batita, anak mulai aktif berjalan, berlari, menaiki tangga, membawa benda, dan mencoba melompat. Orangtua bisa menyalurkan energinya dengan membuat obstacle course sederhana dari bantal, kardus, atau selimut yang aman. Anak dapat diajak berjalan melewati rintangan, merangkak, atau mengikuti jalur tertentu untuk melatih keseimbangan dan koordinasi tubuh.
Agar lebih menarik, buat permainan “menyelamatkan hewan” dengan meminta anak memindahkan boneka dari satu keranjang ke keranjang lainnya. Permainan ini membuat anak aktif bergerak sekaligus melatih keseimbangan, koordinasi, dan kesadaran terhadap posisi tubuh serta ruang di sekitarnya.
“Ketika musik dimainkan, cobalah menjaga balon tetap berada di udara dengan menepuknya menggunakan tangan dan tubuh, lalu ketika musik berhenti, tangkap balon dan ‘membeku’,” ujar Amanda Vierheller, COO dan co-founder Playgarden, dikutip dari Parents.
Aktivitas lain yang bisa dicoba adalah Freeze Dance menggunakan musik dan balon. Anak diminta bergerak atau menepuk balon agar tetap berada di udara selama musik dimainkan, kemudian berhenti dan membeku ketika musik dihentikan. Menurut Vierheller, permainan tersebut dapat membantu melatih koordinasi mata-tangan, keseimbangan, kekuatan otot inti, dan kekuatan lengan bagian atas.
3. Anak prasekolah

ilustrasi anak kecil bermain (pexels.com/cottonbro) Memasuki usia prasekolah, aktivitas motorik kasar bisa dibuat lebih menantang dengan mengajak anak bermain di playground. Anak dapat berlatih memanjat, menaiki tangga, menjaga keseimbangan, berlari, dan melompat dari ketinggian rendah yang aman, atau mencoba sepeda roda tiga dan skuter untuk melatih koordinasi serta kemandirian.
Nature walk juga bisa menjadi permainan yang menyenangkan dengan mengajak anak melangkah dari satu batu ke batu lain, meniti batang kayu yang aman, memanjat batu, atau melompati batang kayu kecil. Di rumah, aktivitas seperti engklek, bermain bola, mengejar teman, dan menari juga dapat menjadi cara sederhana untuk mengembangkan motorik kasar.
“Biarkan anak memanjat dengan bantuan sesedikit mungkin, sambil memberikan pengawasan atau ‘tangan yang siap membantu’ agar mereka dapat melakukannya dengan sukses, yang dapat membangun keterampilan motorik kasar sekaligus kepercayaan diri,” ujar Crystal Barchacky, terapis okupasi berlisensi, dikutip dari Parents.
Saat anak mencoba gerakan baru, termasuk memanjat, beri kesempatan untuk melakukannya sendiri selama tetap aman dan diawasi. Cara ini membantu anak mengenali kemampuan tubuh sekaligus membangun kepercayaan diri. Pilih aktivitas sesuai kemampuan anak dan jangan memaksanya melakukan gerakan yang belum siap dikuasai.
Pada akhirnya, mengembangkan motorik kasar anak tak harus lewat aktivitas yang rumit karena bermain dan bergerak sesuai usia sudah bisa menjadi stimulasi yang berarti. Dengan pendampingan yang tepat dan tanpa memaksa, biarkan si kecil bereksplorasi sambil tumbuh, belajar, dan semakin percaya diri.





















