Ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/hoang anh)
Mengurangi doomscrolling bukan berarti harus menghindari berita atau bersikap tidak peduli terhadap masalah di sekitar. Justru, tujuan utamanya adalah mengubah kebiasaan konsumsi informasi agar lebih terarah. Kamu bisa menentukan waktu khusus untuk membaca berita, memilih sumber yang kredibel, dan menghindari membuka media sosial secara otomatis setiap kali merasa bosan atau cemas.
Joanne Orlando, pakar perilaku digital dari Western Sydney University, menyarankan agar orang lebih menyadari bagaimana berita dan media sosial memengaruhi perasaan mereka. Ia juga menyarankan untuk menunda membuka berita atau media sosial segera setelah bangun tidur.
"Dampak jangka panjang doomscrolling terhadap kesehatan mental seseorang bisa diibaratkan dengan berada 'di dalam ruangan tempat orang-orang terus-menerus berteriak kepada kamu'. Hal itu benar-benar memengaruhi cara kamu memahami dunia dan posisi kamu di dalamnya," jelasnya kepada The Guardian.
Jadi, selain membatasi waktu, cobalah membuat jeda setelah membaca berita yang berat. Letakkan ponsel, lakukan aktivitas yang melibatkan tubuh, berbicara dengan orang terdekat, atau beralih ke kegiatan yang membuat pikiran kembali berada pada saat ini. Jika kebiasaan tersebut mulai mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan sosial, atau memicu kecemasan yang sulit dikendalikan, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental.
Doomscrolling bisa terasa melelahkan karena kita tidak hanya membaca informasi, tetapi juga terus memproses ancaman, ketidakpastian, dan emosi yang menyertainya. Mengikuti berita tetap penting, tetapi kamu tidak harus memiliki batasan dan kontrol diri.