"Otak kita butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang baru. Ketika terlalu banyak (stimulus), maka otak jadi kepenuhan kapasitasnya. Kita jadi anxious, gak enak, uneasy, cranky, malah lebih mudah emosian," katanya di Pesta Anak Bahagia 2026, Sabtu (25/7/2026).
Kenapa Sulit Fokus Setelah Scroll TikTok? Ini Fakta Ilmiahnya

- Video pendek berintensitas tinggi dapat membuat otak kewalahan oleh stimulus visual dan audio, sehingga memicu rasa cemas, tidak nyaman, mudah emosional, serta sulit fokus.
- Konsumsi konten singkat yang berganti cepat dikaitkan dengan penurunan kapasitas pemrosesan kognitif dan kebiasaan berpikir lompat-lompat, membuat konsentrasi stabil lebih sulit.
- Menurut psikolog, rangsangan berfrekuensi tinggi dari screen time dapat mendorong individu menghindari aktivitas yang memerlukan pemikiran keras, seperti belajar atau bekerja.
Video yang bereda di media sosial, seperti Instagram, TikTok, YouTube Shorts punya durasi yang sangat pendek. Konten-konten instan seperti ini ternyata sangat berpengaruh pada attention span seseorang atau kemampuan seseorang untuk konsentrasi terhadap suatu hal. Tentunya, ada banyak faktor yang membuat screen time berdampak buruk.
Dengan mengonsumsi video berdurasi singkat, tanpa sadar otak sudah terprogram dengan pola tersebut. Nah, apa lagi yang bisa membuat kita sulit fokus setelah scroll TikTok?
1. Otak butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan stimulus baru

Pertanyaan tersebut sangat berkaitan dengan bagaimana sistem kerja otak ketika mengonsumsi screen time berlebihan. Menurut psikolog klinis Ghianina Armand, screen time bisa membuat seseorang overstimulating. Terlalu lama scrolling TikTok juga termasuk screen time, loh. Nah, mengapa bisa overstimulating?
Dalam jurnal "The impact of short video addiction on the creativity of college students: the mediating role of intrinsic motivation and innovative self-efficacy" juga dijelaskan bahwa video pendek itu bisa memicu pengurangan kapasitas dalam pemrosesan kognitif. Dengan begitu, seseorang akan mudah kehilangan fokus karena energi otak yang semakin berkurang untuk berpikir.
2. Format video membuat otak terbiasa dengan gaya berpikir yang lompat-lompat

Dampak lainnya dari video pendek adalah perubahan gaya pemrosesan kognitif. Dalam jurnal tersebut juga dijelaskan, bahwa format konten dengan durasi singkat dan berganti-ganti topik melatih otak untuk berpikir secara lompat-lompat.
Selain itu, juga ada mekanisme umpan balik instan yang bisa menyebabkan seseorang berpikir lebih dangkal. Dari penelitian tersebut dikatakan bahwa otak sulit beradaptasi kembali dengan kegiatan yang membutuhkan konsentrasi stabil dalam waktu lama setelah individu menonton video-video pendek.
Dilansir NetPsychology, penelitian menunjukkan bahwa pengguna TikTok punya attention span yang sangat rendah. Attention span adalah kemampuan seseorang untuk bisa fokus terhadap suatu hal tanpa adanya distraksi. Rata-rata pengguna TikTok hanya bisa fokus 47 detik tanpa distraksi dan setiap 35 detik mudah beralih tugas. Berbeda dengan orang yang tidak menggunakan TikTok, mereka bisa berkonsentrasi lebih lama sekitar 2,5 menit tanpa adanya distraksi dan bisa mengalihkan perhatian ke hal lain setelah 3 menit.
Artinya, pengguna TikTok hanya butuh 2 detik untuk melihat suatu konten dan langsung menggeser ke video lain ketika tidak menarik. Aktivitas inilah yang menjadikan otak seseorang mengharapkan hal baru dalam waktu yang cepat. Akhirnya, kegiatan seperti membaca atau berinteraksi dalam waktu yang lama terasa sangat membosankan.
3. Tanpa sadar membuat kita menghindari hal-hal yang mengharuskan berpikir keras seperti belajar atau bekerja

Psikolog Ghianina Armand menyebut screen time bisa menjadi sumber daya stimulasi baru. Artinya, setiap konten yang dilihat memberikan rangsangan kepada otak dari segi visual hingga audio. Ketika otak menerima rangsangan berfrekuensi tinggi, maka hormon dopamin semakin sulit dilepaskan.
Secara tidak sadar, otak sudah terprogram untuk berpikir secara kompleks. Itulah yang membuat individu mudah tidak fokus karena mereka cenderung menghindari hal-hal yang mengharuskan berpikir cukup keras.
Otak harus terus beradaptasi dengan informasi baru dalam waktu singkat. Proses ini meningkatkan beban kognitif dan mengurangi kemampuan untuk berkonsentrasi dalam jangka panjang.
4. Algoritma TikTok menawarkan hal-hal yang membuat kita penasaran

Dilansir NetPsychology, algoritma TikTok membuat otak terbiasa dengan kepuasan instan. Cara kerjanya seperti mesin slot yang membuat orang terjebak dalam rasa penasaran. Konten video yang singkat memungkinan individu terdorong untuk terus mengeser video dan menemukan konten-konten baru lainnya.
Paparan inilah yang menyebabkan seseorang susah fokus untuk waktu yang lama. Fenomena ini disebut attention residue di mana otak tidak langsung melepaskan informasi sebelumnya ketika seseorang swipe ke konten lainnya.
Di balik video-video pendek, nyatanya ada dampak negatif yang berpengaruh, kan? Yuk, mulai sekarang kurangi sedikit demi sedikit scrolling media sosial supaya otakmu tidak terlalu banyak terpapar oleh video-video pendek.




















