Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Kita Betah Scroll Marketplace, padahal Gak Beli Apa-apa?

Kenapa Kita Betah Scroll Marketplace, padahal Gak Beli Apa-apa?
ilustrasi seorang perempuan muda menikmati belanja online (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)
  • Scroll marketplace tanpa checkout terasa menyenangkan karena antisipasi menemukan barang baru dapat memicu dopamin, sehingga proses pencarian sendiri sudah memberi rasa seperti memanjakan diri.
  • Marketplace kerap menjadi hiburan ringan saat bosan atau stres, sekaligus pengalihan sementara dari pekerjaan dan masalah sehari-hari melalui aktivitas browsing produk.
  • Memilih produk, membandingkan harga, dan membayangkan memiliki barang memberi rasa kendali, kepuasan sebagai pembeli cermat, serta keterlibatan emosional meski tanpa transaksi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Siapa yang keranjang marketplace-nya penuh, tapi gak kunjung checkout? Kamu mungkin sering memasukkan berbagai barang ke keranjang hanya karena tertarik, penasaran dengan harganya, atau ingin menyimpannya untuk nanti. Namun, setelah lama scroll, membandingkan harga, sampai membaca ulasan, barang-barang tersebut justru dibiarkan begitu saja tanpa dibeli.

Ternyata, fenomena 'digital window shopping' ini bisa dijelaskan dari sisi psikologi. Berikut beberapa alasan yang membuat aktivitas sederhana ini terasa menyenangkan!

  1. 1. Proses mencari barang saja sudah terasa menyenangkan

    ilustrasi belanja online
    ilustrasi belanja online (magnific.com/tirachardz)

    Saat membuka marketplace, kita gak pernah benar-benar tahu barang menarik apa yang akan ditemukan. Awalnya mungkin cuma melihat pakaian, lalu berpindah ke tas, dekorasi kamar, hingga barang-barang unik yang sebelumnya gak pernah terpikir untuk dicari. Proses menemukan hal baru inilah yang bisa membuat kita terus scroll.

    Psikolog klinis Dr. Susan Albers, PsyD, menjelaskan bahwa antisipasi terhadap sesuatu yang menyenangkan dapat memicu dopamin. Inilah yang membuat proses mencari barang bisa terasa seru meskipun gak berakhir dengan transaksi.

    "Melihat-lihat, berselancar (scrolling), dan window shopping dapat memberikan dampak positif pada suasana hati. Mengantisipasi sebuah imbalan memicu lonjakan dopamin, sehingga kamu gak perlu benar-benar menghabiskan uang untuk merasa seperti sedang memanjakan diri sendiri," paparnya dilansir dari Cleveland Clinic.

  2. 2. Jadi hiburan ketika sedang bosan atau stres

    seseorang sedang melakukan belanja online (Unsplash.com/vhtm)
    seseorang sedang melakukan belanja online (Unsplash.com/vhtm)

    Marketplace juga sering dibuka bukan karena kita membutuhkan barang, melainkan karena sedang mencari hiburan. Ketika bosan saat menunggu atau ingin beristirahat sejenak dari pekerjaan, scroll produk terasa seperti aktivitas ringan yang gak membutuhkan banyak tenaga.

    Aktivitas melihat-lihat barang juga bisa menjadi pengalihan sementara dari hal yang sedang dipikirkan. Selama beberapa menit, perhatian kita berpindah dari pekerjaan atau masalah sehari-hari ke produk yang ada di layar.

    “Bahkan hanya melihat-lihat atau browsing secara online bisa memicu rasa bahagia. Belanja bisa memberikan sensasi terapeutik karena dapat memicu dorongan psikologis dan emosional,” ujar psikolog Scott Bea, PsyD, dilansir dari Cleveland Clinic.

  3. 3. Ada rasa puas karena kita bebas menentukan pilihan

    ilustrasi belanja online
    ilustrasi belanja online (pexels.com/Gustavo Fring)

    Di marketplace, hampir semua keputusan berada di tangan kita. Kita bisa menentukan barang yang ingin dilihat, mengatur rentang harga, memilih warna, membandingkan toko, sampai memutuskan apakah barang tersebut layak masuk keranjang.

    Dr. Susan kembali menjelaskan fenomena ini sebagai fenomena memulihkan kendali diri. Keputusan-keputusan kecil tersebut mungkin terlihat sepele. Namun, aktivitas memilih dapat memberikan perasaan bahwa kita punya kendali terhadap apa yang sedang dilakukan.

    "Ketika orang membuat keputusan dengan uang (atau pilihan produk), mereka merasakan peningkatan rasa tanggung jawab dan agensi diri. Berbelanja atau sekadar menyusun keranjang belanja memberikan rasa kendali (sense of control) yang hilang dalam kehidupan sehari-hari mereka." paparnya dilansir dari Cleveland Clinic.

  4. 4. Membandingkan harga memberi rasa puas meski belum membeli

    ilustrasi belanja online
    ilustrasi belanja online (pexels.com/Marcial Comeron)

    Menemukan barang dengan harga lebih murah juga bisa memberikan kepuasan tersendiri. Misalnya, ketika kita menemukan produk seharga Rp70 ribu yang sebelumnya dijual Rp100 ribu. Meski akhirnya gak jadi dibeli, rasanya tetap seperti berhasil menemukan penawaran yang menguntungkan.

    Perasaan ini dikenal sebagai smart shopper feelings. Konsep yang diperkenalkan Robert M. Schindler ini menjelaskan rasa senang yang muncul ketika seseorang berhasil mendapatkan atau menemukan penawaran bagus. Kita jadi merasa lebih pintar dan cermat dalam berbelanja.

    Hal sederhana seperti membandingkan harga, mengecek ongkir, sampai membaca ulasan dari satu toko ke toko lain pun bisa terasa seperti pencapaian kecil. Itulah kenapa berburu harga terbaik di marketplace tetap menyenangkan, bahkan ketika ujung-ujungnya gak ada barang yang di-checkout.

  5. 5. Menikmati membayangkan punya barang tersebut

    ilustrasi belanja online
    ilustrasi belanja online (freepik.com/freepik)

    Pernah melihat dekorasi kamar lalu langsung membayangkan bagaimana tampilannya kalau diletakkan di kamar sendiri? Hal serupa juga bisa terjadi saat melihat pakaian, gadget, peralatan memasak, atau barang lainnya.

    Ketika scroll marketplace, kita bisa membayangkan pengalaman jika suatu saat memilikinya. Misalnya, membayangkan memakai sebuah pakaian untuk liburan atau menggunakan meja baru agar ruang kerja terlihat lebih rapi. Fenomena ini berkaitan dengan bagaimana konsumen berinteraksi dengan produk secara emosional.

    "Konsumen mengunjungi toko atau aplikasi sering kali dengan emosi, bukan logika. Mereka membayangkan bagaimana penampilan atau perasaan mereka dengan produk tersebut, bukan sekadar membandingkan harga. Mereka gak sedang berbelanja. Mereka sedang menjelajah. Mereka sedang bermimpi," dilansir dari artikel Laporan Analisis Psikologi E-Commerce Engagement mengenai alasan di balik perilaku klik dan gulir konsumen dari Stylaquin.

    Ternyata, punya banyak barang di keranjang marketplace tapi gak kunjung beli itu fenomena wajar. Tapi, semoga kamu bisa segera checkout barang-barang di keranjang marketplace-mu ya!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More