Doomscrolling sebelum Tidur: Mengapa Sulit Berhenti Scroll?

- Doomscrolling adalah kebiasaan terus mengonsumsi informasi negatif yang membuat otak tetap memproses ancaman, sehingga pikiran sulit tenang menjelang tidur.
- Rasa ingin tahu dan kebutuhan akan kepastian membuat pengguna terus mencari pembaruan, meski unggahan serta komentar baru membuat siklus scrolling sulit berakhir.
- Paparan kabar buruk berulang dapat membentuk gambaran dunia yang lebih negatif, memicu kecemasan, dan mengganggu rutinitas tidur; jeda dari ponsel sebelum tidur dapat membantu.
Pernah berniat melihat satu atau dua unggahan sebelum tidur, tetapi akhirnya terus menggulir layar sampai berjam-jam? Kebiasaan mencari dan mengonsumsi berbagai berita negatif, mengkhawatirkan, atau mengganggu secara terus-menerus ini sering disebut doomscrolling.
Sekilas terlihat seperti cara sederhana untuk mengisi waktu luang, tetapi terlalu banyak terpapar informasi negatif, terutama menjelang tidur, dapat membuat pikiran semakin sulit beristirahat. Lantas, mengapa kebiasaan scrolling tanpa henti sebelum tidur bisa membuat pikiran semakin gelisah? Berikut beberapa alasannya.
1. Otak terus menerima informasi negatif

ilustrasi seorang pria scrolling media sosial (pexels.com/Matheus Bertelli) Saat melakukan doomscrolling, kita cenderung terus berpindah dari satu informasi ke informasi lain tanpa benar-benar memberi waktu bagi pikiran untuk berhenti memprosesnya. Berita tentang konflik, kecelakaan, masalah ekonomi, hingga berbagai kejadian buruk dapat membuat perhatian terus tertuju pada hal-hal yang mengancam.
Paparan berulang terhadap informasi semacam ini dapat membuat dunia terasa lebih penuh dengan bahaya daripada biasanya. Akibatnya, seseorang mungkin tetap memikirkan apa yang baru dilihat meskipun sudah meletakkan ponsel. Apalagi jika kebiasaan tersebut dilakukan menjelang tidur ketika tubuh seharusnya mulai memasuki kondisi yang lebih tenang.
2. Rasa ingin tahu membuatmu terus menggulir

ilustrasi seorang wanita yang menatap hp di tangannya (pexels.com/Dima Sh) Salah satu alasan doomscrolling sulit dihentikan adalah keinginan untuk mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. Setelah membaca satu berita buruk, kita mungkin terdorong mencari informasi tambahan untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap.
Masalahnya, pencarian tersebut sering tidak memiliki titik akhir karena selalu ada unggahan, komentar, atau berita baru yang bisa dibaca. Karena semakin ingin mendapatkan kepastian, seseorang justru bisa semakin lama berada di dalam siklus scrolling.
3. Membuat pikiran sulit beralih ke mode istirahat

ilustrasi seorang wanita yang sedang melamun (pexels.com/Polina) Menjelang tidur, tubuh dan pikiran membutuhkan kesempatan untuk memperlambat aktivitas. Namun, jika beberapa menit terakhir sebelum memejamkan mata diisi dengan berbagai informasi yang memicu kekhawatiran, pikiran bisa tetap aktif memprosesnya.
Kamu mungkin sudah berada di tempat tidur, tetapi kepala masih memikirkan berita atau kejadian yang baru saja dibaca. Kondisi tersebut membuat waktu sebelum tidur terasa kurang menenangkan. Jika berlangsung berulang, kebiasaan ini juga dapat membuat rutinitas tidur menjadi kurang teratur.
4. Membuat dunia terlihat lebih negatif

ilustrasi seorang wanita memakai media sosial (pexels.com/www.kaboompics.com) Media sosial memberikan akses kepada kita terhadap berbagai kejadian dari seluruh dunia dalam waktu yang sangat singkat. Ketika sebagian besar informasi yang dikonsumsi adalah kabar buruk, otak bisa mendapatkan gambaran yang tidak seimbang mengenai apa yang sedang terjadi.
Kita akhirnya merasa seolah-olah selalu ada sesuatu yang mengancam atau perlu dikhawatirkan. Karena itu, penting memperhatikan bukan hanya berapa lama kita menggunakan media sosial, tetapi juga jenis informasi yang terus kita konsumsi.
5. Bisa menjadi siklus yang sulit dihentikan

ilustrasi seorang wanita yang sedang gelisah (pexels.com/Vitaly Gariev) Ironisnya, rasa cemas itu sendiri terkadang membuat seseorang semakin ingin mencari informasi. Kita mungkin berpikir bahwa dengan terus membaca berita, mencari penjelasan, atau melihat perkembangan terbaru, rasa khawatir akan berkurang.
Namun, ketika informasi yang ditemukan justru semakin banyak dan mengganggu, kecemasan dapat kembali muncul dan mendorong kita untuk mencari informasi berikutnya. Siklus semacam ini membuat doomscrolling terasa seperti usaha untuk mendapatkan ketenangan, padahal justru membuat pikiran terus aktif. Mengenali pola tersebut bisa menjadi langkah awal untuk mulai membatasi kebiasaan scrolling, terutama menjelang waktu tidur.
Tidak semua aktivitas scrolling sebelum tidur otomatis merupakan doomscrolling, dan membaca berita bukan berarti sesuatu yang buruk. Yang perlu diperhatikan adalah ketika kebiasaan tersebut terasa sulit dihentikan, didominasi informasi negatif, atau membuat pikiran semakin gelisah setelahnya.
Cobalah memberikan jeda sebelum tidur dengan meletakkan ponsel, memilih bacaan yang lebih ringan, atau melakukan aktivitas yang membantu tubuh dan pikiran beralih ke suasana istirahat. Dengan begitu, kualitas tidur pun menjadi lebih baik. Semoga bermanfaat!






















