Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Penerbit Lokal Jarang Rilis Buku dalam Ukuran Saku?
buku-buku penerbit lokal yang dirilis dalam format saku (dok. Pustaka Obor Indonesia/Perempuan di Titik Nol | dok. Malire/Ajengan Anjing)
  • Penerbit lokal jarang merilis buku saku karena margin keuntungannya kecil, biaya bahan baku naik, dan nilai tukar rupiah yang lemah membuat produksi format ini kurang menguntungkan.
  • Minat baca masyarakat Indonesia yang rendah serta pola konsumsi yang memprioritaskan kebutuhan pokok membuat penerbit lebih fokus menjual buku sebagai barang kolektibel dengan desain menarik.
  • Peralihan pembaca ke buku digital dan e-reader yang dianggap lebih praktis turut mempercepat berkurangnya produksi buku saku di pasar lokal maupun global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sebagai pembaca, kamu mungkin familier dengan format buku saku atau yang secara internasional dikenal dengan istilah mass market paperback. Format ini cukup nyaman dan mungkin jadi format favorit banyak orang. Kecil, ringkas, bisa dibawa ke mana saja dan ringan digenggam.

Sayang, tak banyak penerbit lokal yang merilis format saku untuk buku-buku mereka. Penerbit luar negeri pun sudah mengurangi produksi buku saku. Kenapa, ya? Apa yang bikin penerbit “alergi” terhadap format buku favorit sejuta umat itu?

1. Format buku saku kurang menguntungkan dari segi bisnis

Perempuan di Titik Nol karya Nawal Es Sa'dawi dirilis dalam format saku (dok. Penerbit Obor Indonesia/Perempuan di Titik Nol)

Mass market paperback atau buku saku pertama kali diperkenalkan pada 1930-an di negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat. Ada pesan mulia dibaliknya yakni upaya demokratisasi sastra alias memperluas akses buku ke khalayak luas, termasuk orang-orang kelas menengah bawah. Sebelum itu, buku identik dengan kelas atas karena harganya yang mahal, maklum sampulnya hardcover dan ukuran standarnya cukup besar, yakni sekitar 14,8 x 21 cm sampai 21,5 x 22,9 cm.

Ketika mengadopsi format saku, sampul buku diganti paperback (jauh lebih tipis, dengan laminasi minimal) dan ukurannya lebih kecil dari standar, yakni sekitar 11 x 18 cm. Dengan format saku ini, biaya produksi bisa dipangkas dan alhasil harga buku pun bisa lebih murah. Dahulu di Barat, harga buku mass market paperback diusahakan tak lebih mahal dari sebungkus rokok dan ukurannya muat di saku para pekerja/buruh. Meski, terlihat menguntungkan di mata konsumen, merilis buku saku sebenarnya tidak berpihak pada penerbit yang butuh margin keuntungan untuk mempertahankan bisnis mereka. Apalagi, sekarang harga bahan baku kertas naik dan dikeluhkan oleh seluruh penerbit di berbagai negara.

Khusus untuk penerbit lokal, masalah makin pelik karena mata uang yang melemah. Selain bahan baku impor, mereka juga dibikin pusing saat akan membeli lisensi hak penerjemahan dan penerbitan yang tentunya transaksinya pakai mata uang asing standar seperti dolar Amerika Serikat (USD). Tak pelak, buku saku adalah format paling terakhir yang dipilih penerbit dalam alur penerbitan sebuah karya tulis. Artinya, banyak buku yang dirilis perdana dalam format hardcover. Baru kemudian dirilis ulang dalam versi paperback berukuran standar.

Bila daya jualnya masih tinggi, barulah mass market paperback dirilis. Di negara yang minat bacanya tak seperti negara-negara Barat, bisa dimaklumi ketika penerbit lokal memilih jalur aman. Bukan hardcover yang terlalu mahal, bukan pula buku saku yang terlalu murah, mereka mengambil jalan tengah dengan mencetak buku dalam format paperback ukuran standar: 14 x 21 cm atau sedikit lebih ramping: 13 x 19 cm.

2. Di negara dengan minat baca kurang, strategi yang diterapkan pun berbeda

novel Ajengan Anjing karya Ridwan Malik dirilis dalam format saku (dok. Malire/Ajengan Anjing)

Alasan lain yang mungkin masuk akal adalah fakta bahwa minat baca di Indonesia cukup rendah dibanding negara-negara Barat di mana mass market paperback pernah populer. Apalagi ada pola perilaku konsumen yang berbeda pula di sini.

Di Indonesia, buku adalah kebutuhan tersier, cukup mewah bila dibandingkan dengan pendapatan rata-rata kita yang sebagian besar sudah habis untuk kebutuhan pokok (pangan, papan, sandang), terutama makanan yang rata-rata mencapai 50 persen. Faktornya dua, antara lain memang harga pangan yang mahal dan gaji yang kekecilan.

Alhasil, untuk mengakomodasi pola konsumen seperti ini, tak sedikit penerbit yang menjual buku sebagai barang kolektibel ketimbang sebuah bacaan biasa. Mereka sering membuat buku dengan sampul menarik. Tak jarang yang dijual beserta pernak-pernik tambahan untuk menarik minat pembeli dan meningkatkan angka penjualan.

3. Invasi buku digital dan e-reader yang dicap lebih praktis

novel Middlemarch karya George Elliot dirilis dalam format buku saku (dok. Gramedia Pustaka Utama/Middlemarch)

Alasan berikutnya sebenarnya cukup universal alias berlaku di semua negara. Apalagi kalau bukan invasi buku digital yang bikin perilaku konsumen ikut berubah. Ketimbang membawa buku-buku yang relatif berat, banyak yang beralih ke e-reader. Baik ponsel pintar ataupun gawai yang memang fungsinya fokus untuk membuka buku digital (epub, mobi, azw3) dan memberikan pengalaman baca ala buku konvensional. Yakni, warna layarnya lebih redup dan adem di mata serta terintegrasi dengan toko buku elektronik. Masalahnya, selain harga gawai yang lumayan, harga e-book ternyata tak beda jauh dengan buku fisik alias tetap mahal.

Kelangkaan buku saku sepertinya tak terelakkan. Ini sebenarnya alarm yang patut direnungkan. Pada 1930-an, pebisnis punya niat mulia memperluas akses buku sembari tetap dapat profit. Kini, buku kembali jadi komoditas eksklusif yang hanya bisa diakses kaum tertentu. Tentunya yang punya disposable income, alias sisa penghasilan di luar kebutuhan-kebutuhan pokok dan mendesak.

Bagaimana menurutmu? Apakah kamu salah satu pencinta buku saku yang menyayangkan keputusan para penerbit?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article