Perempuan di Titik Nol karya Nawal Es Sa'dawi dirilis dalam format saku (dok. Penerbit Obor Indonesia/Perempuan di Titik Nol)
Mass market paperback atau buku saku pertama kali diperkenalkan pada 1930-an di negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat. Ada pesan mulia dibaliknya yakni upaya demokratisasi sastra alias memperluas akses buku ke khalayak luas, termasuk orang-orang kelas menengah bawah. Sebelum itu, buku identik dengan kelas atas karena harganya yang mahal, maklum sampulnya hardcover dan ukuran standarnya cukup besar, yakni sekitar 14,8 x 21 cm sampai 21,5 x 22,9 cm.
Ketika mengadopsi format saku, sampul buku diganti paperback (jauh lebih tipis, dengan laminasi minimal) dan ukurannya lebih kecil dari standar, yakni sekitar 11 x 18 cm. Dengan format saku ini, biaya produksi bisa dipangkas dan alhasil harga buku pun bisa lebih murah. Dahulu di Barat, harga buku mass market paperback diusahakan tak lebih mahal dari sebungkus rokok dan ukurannya muat di saku para pekerja/buruh. Meski, terlihat menguntungkan di mata konsumen, merilis buku saku sebenarnya tidak berpihak pada penerbit yang butuh margin keuntungan untuk mempertahankan bisnis mereka. Apalagi, sekarang harga bahan baku kertas naik dan dikeluhkan oleh seluruh penerbit di berbagai negara.
Khusus untuk penerbit lokal, masalah makin pelik karena mata uang yang melemah. Selain bahan baku impor, mereka juga dibikin pusing saat akan membeli lisensi hak penerjemahan dan penerbitan yang tentunya transaksinya pakai mata uang asing standar seperti dolar Amerika Serikat (USD). Tak pelak, buku saku adalah format paling terakhir yang dipilih penerbit dalam alur penerbitan sebuah karya tulis. Artinya, banyak buku yang dirilis perdana dalam format hardcover. Baru kemudian dirilis ulang dalam versi paperback berukuran standar.
Bila daya jualnya masih tinggi, barulah mass market paperback dirilis. Di negara yang minat bacanya tak seperti negara-negara Barat, bisa dimaklumi ketika penerbit lokal memilih jalur aman. Bukan hardcover yang terlalu mahal, bukan pula buku saku yang terlalu murah, mereka mengambil jalan tengah dengan mencetak buku dalam format paperback ukuran standar: 14 x 21 cm atau sedikit lebih ramping: 13 x 19 cm.