ilustrasi Al-Qur'an dan tasbih (freepik.com/freepik)
Dari bagian-bagian sebelumnya, sudah kita ketahui bahwa Lauhul Mahfudz berisi segala peristiwa dari permulaan hingga hari akhir. Bukan hanya itu, takdir seluruh makhluk pun tercatat, termasuk manusia.
Takdir manusia yang tercatat meliputi rezeki, jodoh, musibah, hingga ajal. Penetapan takdir tersebut sudah terjadi bahkan jauh sebelum penciptaan manusia. Dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al 'Ash, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda,
"Allah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi." (HR. Muslim no. 2653).
Kalau semuanya sudah ditakdirkan, bukankah manusia seolah-olah menjadi boneka? Eits, jangan sampai berpikiran seperti itu, ya.
Perlu kita ingat pula, di samping takdir yang telah tertulis, manusia juga memiliki kehendaknya sendiri. Dalam hal ini, apakah manusia ingin menjadi orang yang baik atau jahat maupun kaya atau miskin, semuanya ada dalam kendali manusia.
Meskipun rezeki telah ditetapkan, seseorang yang kerjaannya hanya bermalas-malasan sampai kapanpun tidak akan kaya. Mengapa? Karena dirinya tetap harus berikhtiar dengan menjemput rezeki dari Allah.
Perintah menjemput rezeki Allah salah satunya tertera dalam Surah Al-Jumu'ah ayat 10 yang artinya,
"Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung." (QS. Al-Jumu'ah, [62]:10).
Ajal pun juga sedemikian. Dari laman Institut Agama Islam Sahid, sementara kematian adalah ketetapan pasti dari Allah, cara seseorang manusia meninggal masih ada dalam kendalinya. Dia bisa memilih meninggal dengan cara mendahului takdir—bunuh diri—atau menunggu ajal menghampiri sembari memperbanyak bekal untuk hari akhir.
Mungkin, masih agak membingungkan. Namun, cobalah untuk mengingat pendapat dari Ahlus Sunnah wal Jamaah berikut yang penulis sadur dari laman Institut Agama Islam Sahid:
Sikap seorang muslim dalam menyikapi takdir Allah adalah meyakini dengan sepenuh hati bahwa takdir alam semesta telah ditetapkan oleh Allah sejak permulaan, tetapi tidak lupa berikhtiar untuk menjadi yang terbaik dan melakukan hal-hal yang baik.
Itulah pembahasan mengenai Lauhul Mahfudz, makhluk ciptaan Allah yang berisi takdir seluruh makhluk hidup dan kejadian dari zaman azali hingga kiamat nanti. Meskipun wujudnya sulit untuk dibayangkan akal, wajib bagi kita mengimani keberadaannya. Semoga bermanfaat!
Penulis: Fria Sumitro