IDN Times Xplore (Tim Up to You Aja_MAS Al Muhtaduun)
Latar Belakang:
Pernah kepikiran nggak sih, kenapa perundungan masih sering terjadi dan dianggap tradisi? Atau bagaimana cara mengubah budaya senioritas menjadi solidaritas? Kami dari Tim Up to You Aja mengajak kalian menemukan jawabannya lewat mading ini! Mulai dari mengenali perundungan berkedok tradisi, menumbuhkan empati, hingga berani bertindak untuk saling melindungi. Melalui mading ini, kami berharap teman-teman sadar bahwa tidak semua kebiasaan pantas dipertahankan, terutama jika menyakiti orang lain. Tradisi seharusnya mewariskan kebaikan, bukan luka.
Senioritas di sekolah adalah keadaan ketika siswa merasa kedudukannya lebih tinggi daripada siswa lain. Namun, senioritas kerap disalahartikan sebagai hak untuk menguasai dan menuntut kepatuhan. Anggapan bahwa kakak kelas harus selalu dihormati dan dituruti dapat memicu perundungan ketika adik kelas dianggap tidak patuh. Ironisnya, kebiasaan ini ditiru dan diwariskan ke angkatan berikutnya hingga berulang setiap tahun. Oleh karena itu, perlu perubahan pola pikir bahwa senioritas bukan tentang siapa paling berkuasa, melainkan siapa mampu menjadi teladan dan menciptakan solidaritas.
Permasalahan ini bukan sekadar kekhawatiran, melainkan kenyataan serius. Pada September 2026, seorang siswa kelas II SD di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, meninggal dunia setelah menjalani perawatan medis. Menurut kesaksian teman korban, awalnya pelaku menghadang dan memalak uang korban di kantin, lalu memukul korban di depan aula.
Di lingkungan sekolah kami, persoalan serupa perlu diperhatikan. Masih ada perilaku kakak kelas menyuruh adik kelas membelikan jajanan, bahkan meminta uang atau jajanan secara paksa. Ketika ditolak, adik kelas berisiko menerima ejekan atau perlakuan tidak menyenangkan. Tindakan itu dibungkus alasan bercanda, namun membuat siswa merasa harus menuruti senior agar terhindar masalah. Padahal, perbedaan tingkat kelas tidak memberi hak untuk memaksa orang lain.
Permasalahan lain muncul ketika siswa yang lebih muda atau berkebutuhan khusus menjadi sasaran candaan yang merendahkan. Meski pelaku merasa tidak bermaksud menyakiti, candaan tersebut tetap melukai hati korban. Situasi ini menunjukkan empati sangat dibutuhkan agar setiap siswa memahami batasan, menghargai perbedaan, dan menyadari bahwa yang lucu bagi satu orang belum tentu menyenangkan bagi orang lain.
Selain itu, ada siswa yang merasa paling berkuasa karena kekuatan fisik atau posisi sebagai ketua organisasi. Kedudukan itu terkadang disalah artikan sebagai alasan untuk mengatur dan memerintah teman. Hal ini membuktikan perundungan tidak selalu berupa kekerasan fisik, tetapi juga hadir melalui pemaksaan, intimidasi, dan penyalahgunaan kekuasaan.
Lalu, bagaimana memutus rantai perundungan yang terlanjur dianggap kebiasaan? Mengingatkan saja tidak cukup. Diperlukan langkah nyata untuk mengubah pola pikir, membangun kepedulian, dan memberikan perlindungan. Berangkat dari itu, GERAK SOLID hadir sebagai upaya penanganan dan pencegahan perundungan secara berkelanjutan. Berikut inovasi dari GERAK SOLID:
SUARA SOLID: Berani Bersuara dan Bangun Kepedulian
Ketika perundungan terjadi, tidak semua siswa berani menceritakan pengalamannya. Ada yang takut tidak dipercaya, khawatir jadi bahan pembicaraan, atau merasa melapor akan memperburuk keadaan. Jika keresahan terus dipendam, bagaimana sekolah mengetahui masalah yang perlu ditangani? Untuk itu, SUARA SOLID menghadirkan akun Instagram sebagai media edukasi sekaligus wadah aspirasi anonim bagi siswa.
Melalui wadah ini, siswa dapat menyampaikan pengalaman tanpa mengungkap identitas. Aspirasi yang masuk dimoderasi untuk menjaga privasi dan mencegah penyebaran ejekan maupun tuduhan yang belum terverifikasi. Akun ini juga menjadi sarana kampanye melalui video edukasi dan poster digital tentang dampak perundungan, penyalahgunaan senioritas, pentingnya empati, serta cara membantu teman yang mengalami perundungan.
SAHABAT SOLID : Kepedulian yang Hadir dalam Tindakan
Berani bersuara adalah langkah awal, tetapi apakah setiap korban sudah berani menghadapinya? Sebagian siswa butuh seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi atau menyalahkan. Kepedulian tidak cukup disampaikan lewat kata-kata, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan nyata. SAHABAT SOLID hadir sebagai program pendampingan teman sebaya untuk memberi dukungan bagi siswa yang menghadapi perundungan.
SAHABAT SOLID mengajak siswa membangun budaya saling melindungi. Ketika melihat teman direndahkan, siswa dapat memilih tidak ikut menertawakan dan mencari bantuan dengan cara aman. Tindakan sederhana ini penting karena perundungan terus berlangsung jika lingkungan menganggapnya hal biasa. Melalui pendampingan teman sebaya, kami ingin menumbuhkan pemahaman bahwa solidaritas adalah keberanian untuk menghargai dan membantu siapa pun yang membutuhkan.
AKAR SOLID: Menelusuri Penyebab, Mencegah Pengulangan
Perundungan tidak selalu berhenti setelah pelaku ditegur. Jika hanya dihentikan tanpa memahami faktor penyebabnya, tindakan serupa berisiko terulang. Bagaimana memastikan penanganan tidak hanya sementara? AKAR SOLID melibatkan guru BK dan pihak sekolah untuk memahami faktor perilaku siswa sekaligus mencegah pengulangan.
Guru BK melakukan pendekatan untuk menggali akar masalah, seperti tekanan teman sebaya, kesulitan mengelola emosi, pengalaman menjadi korban, atau persoalan keluarga. Memahami latar belakang pelaku bukan berarti membenarkan tindakannya, melainkan membantu menemukan penanganan menyeluruh agar siswa belajar bertanggung jawab. Evaluasi berkala juga dilakukan untuk memastikan perundungan telah berhenti dan lingkungan sekolah kembali aman secara berkelanjutan.
Kesimpulan:
GERAK SOLID hadir untuk mengubah budaya senioritas yang disalahgunakan menjadi solidaritas yang menguatkan. SUARA SOLID membuka ruang bagi siswa untuk menyuarakan keresahan melalui edukasi digital. SAHABAT SOLID menghadirkan dukungan agar siswa tidak menghadapi perundungan sendirian, sedangkan AKAR SOLID mendorong penanganan menyeluruh melalui pembinaan, perlindungan, dan evaluasi. Ketiga inovasi ini saling melengkapi karena lingkungan bebas perundungan butuh kesadaran, tindakan nyata, dan tanggung jawab bersama.
Menghormati kakak kelas bukan berarti harus menuruti semua perintahnya, sebagaimana menjadi senior bukan berarti berhak menguasai adik kelas. Senioritas seharusnya menjadi kesempatan memberi teladan, membimbing, dan melindungi. Tradisi baik bukan kebiasaan yang dipertahankan hanya karena lama berlangsung, melainkan kebiasaan yang membawa kebaikan bagi semua. Melalui GERAK SOLID, mari buktikan bahwa sekolah kuat bukan sekolah yang membuat siswanya takut, melainkan sekolah yang membuat setiap siswanya merasa aman dan dihargai.
Berani peduli, berani bergerak, hentikan perundungan!