IDN Time Xplore (Tim Widyaloka_SMAN 2 Amlapura)
Pernahkah kamu berpikir ingin menjadi kaya, tetapi bingung harus mulai dari mana? Sudah mencoba menabung, tetapi sulit untuk konsisten? Kondisi ini semakin diperparah oleh perkembangan teknologi digital yang memberikan kemudahan akses terhadap berbagai layanan. Hanya dengan satu kali klik, barang datang dan uang berkurang tanpa terasa.
Di sisi lain, muncul pula tren fear of missing out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal karena tidak mengikuti tren yang sedang berkembang. Remaja sering kali merasa perlu mengikuti gaya hidup tertentu agar tidak dianggap ketinggalan zaman, seperti nongkrong di kafe, membeli pakaian baru, atau ikut menonton konser. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh pola pikir bahwa kita hanya hidup sekali atau you only live once (YOLO). Tidak berhenti sampai di situ, banyak remaja juga berlindung di balik istilah self reward. Pada dasarnya, self reward merupakan bentuk penghargaan sederhana kepada diri sendiri setelah berhasil mencapai sesuatu atau melalui masa yang sulit. Namun, istilah ini sering disalahartikan sebagai alasan untuk membeli barang mahal setiap kali merasa lelah, stres, atau mengalami masalah. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut dapat mendorong perilaku konsumtif.
Menurut Darmawan (2026), berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan, tingkat literasi keuangan generasi Z masih tergolong rendah. Pada tahun 2022, tingkat literasi keuangan nasional baru mencapai sekitar 49,68%. Akan tetapi, seiring semakin luasnya akses terhadap layanan keuangan, pemahaman masyarakat juga terus terdorong. Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) terbaru yang diumumkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2026, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia sukses meningkat hingga 69,57%. Angka ini menunjukkan adanya kemajuan nyata, yang berarti remaja Indonesia masih memiliki peluang besar untuk terus memperkuat literasi keuangannya.
Melek finansial bukan hanya tentang kemampuan mengatur uang, tetapi juga tentang memahami cara membuat keputusan keuangan yang bijak, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta mempersiapkan kondisi finansial untuk masa depan. Kemampuan ini penting dimiliki remaja agar tidak mudah terpengaruh oleh tren dan mampu mengendalikan pengeluaran sesuai kemampuan. Dengan memahami dasar-dasar pengelolaan keuangan, remaja dapat membangun kebiasaan finansial yang sehat serta lebih siap menghadapi berbagai kebutuhan di masa mendatang.
Lalu, harus mulai dari mana? Guna memutus rantai perilaku konsumtif, remaja harus mulai membatasi diri dalam memberikan self reward. Mulailah belajar menyisihkan uang, bukan menabung dari sisa uang yang ada. Dengan menyisihkan uang secara rutin sejak awal bulan, kita dapat membangun kebiasaan menabung sekaligus belajar mengendalikan pengeluaran.
Selain itu, ketika muncul keinginan membeli sesuatu akibat FOMO, cobalah menerapkan aturan 24 jam, yaitu menunda keputusan pembelian selama satu hari. Jika setelah 24 jam barang tersebut masih dirasa penting dan benar-benar dibutuhkan, barulah pertimbangkan untuk membelinya. Jika tidak, cukup lihat dan lupakan. Remaja harus berani mengubah pola pikir dari FOMO menjadi JOMO (Joy of Missing Out). JOMO adalah rasa senang, puas, dan bangga ketika kita memilih untuk absen dari tren yang tidak kita butuhkan. Remaja yang menerapkan JOMO akan merasa tenang karena menyadari bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh apa yang mereka pamerkan. JOMO adalah self love yang sesungguhnya karena bisa melindungi mental dan dompet kita dari tekanan media sosial.
Ingat, menolak ikut-ikutan tren bukanlah tanda bahwa kita ketinggalan zaman, melainkan bukti nyata dari kematangan emosional dan kemandirian dalam memegang kendali finansial.
Pada akhirnya, melek finansial bukan sekadar teori di atas kertas survei, melainkan keberanian mengambil kendali atas masa depan kita sendiri. Membangun kesadaran finansial sejak dini adalah modal utama agar generasi muda tidak mudah terombang-ambing oleh gengsi. Mari berhenti menjadikan self reward sebagai tameng pemborosan, dan mulailah bangga merayakan indahnya hidup dalam prinsip JOMO.