Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[MADING] Tubuh Bukan Sasaran: Perundungan di Sekolah

[MADING] Tubuh Bukan Sasaran: Perundungan di Sekolah
Cover (Amelia Rizkiana)

Hello Generasi Peduli! Kami tim Texaz Studios dari SMK Teladan Kertasemaya menghadirkan sebuah karya visualisasi dari mading digital kami yang berjudul "TUBUH BUKAN SASARAN"

Tim redaksi kami terdiri dari:

  • Guru Pendamping: Ahmad Zeni, S.Sn
  • Ketua: Najwa
  • Anggota: Amelia Rizkiana, Nur Kiki, Putri Galia Ramadhani, Ristani, Saputra

Karya ini dibuat untuk keperluan kompetisi Mading Digital IDN Times Xplore 2026. Mading ini ditampilkan apa adanya tanpa proses penyutingan dari redaksi IDN Times.

  1. Esai

    MADING EXPLORE
    Cover Essay (Ristani)

    Bullying di Sekolah Masih Dianggap Wajar?

    Awal Masalah/Tindakan

    Pernah nggak sih kalian para generasi peduli kepikiran kalo candaan yang menurut kita tuh biasa aja tapi ternyata bisa bikin orang lain sakit hati? Misalnya mengejek fisik orang lain, merendahkan, memanggilnya dengan julukan yang nggak mereka sukai, mengucilkannya atau mempermalukan seseorang di depan banyak orang.

    Hal-hal seperti ini di era sekarang maupun dulu biasanya emang sering dianggap cuman bercanda, padahal kalo dilakuin secara terus-menerus dan membuat seseorang merasa takut atau nggak nyaman, itu tuh udah termasuk bullying loh.

    Kalian tau nggak para generasi peduli, bullying tuh bisa bikin orang yang ngerasain jadi lebih pendiam, sering menyendiri, bahkan bisa sampai depresi. Tindakan bullying itu bentuknya nggak cuman kekerasan fisik, atau menyakiti orang lain, tapi juga bisa berupa ejekan, penghinaan, pengucilan, intimidasi bahkan komentar di media sosial.

    Di era sekarang bullying masih sangat banyak terjadi di sekolah baik SD, SMP, SMA/SMK. Bahkan banyak yang melakukan tindakan bullying yang sangat parah sampai orang yang di-bully-nya terluka hingga masuk rumah sakit, bullying biasanya dilakukan oleh seseorang yang merasa lebih baik dari korban serta mereka juga menganggap korban itu lemah atau korban ada kekurangan fisik.

    Orang yang melakukan bullying pasti tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan itu bisa bikin orang yang mereka bully itu jadi trauma, takut, dan suka menyendiri, serta mengalami depresi. Bayangin aja kalo kita yang ngerasain jadi korban bullying pasti rasanya nggak enak kan? Masalah bullying di sekolah udah cukup serius.

    Berdasarkan jurnal “Kasus Bullying di Lingkungan Sekolah”, sekitar 10–60% siswa di Indonesia melaporkan pernah mengalami ejekan, cemoohan, pengucilan, pemukulan, tendangan, atau dorongan setidaknya sekali dalam seminggu.

    Data tersebut menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang mengalami tindakan yang membuat mereka nggak nyaman berada di sekolah. Penelitian Yayasan Semai Jiwa Amini tahun 2008 di Yogyakarta, Surabaya, dan Jakarta juga mencatat adanya tindakan kekerasan sebesar 67,9% pada tingkat SMA dan 66,1% pada tingkat SMP. Kekerasan psikologis seperti pengucilan, penghinaan/ejekan juga menjadi salah satu bentuk yang banyak ditemukan di sekolah.

    Generasi peduli dampak bullying nggak bisa dianggap sepele loh, banyak korban bullying yang merasa takut, sering minder, kehilangan rasa percaya dirinya, sulit berkonsentrasi saat belajar, bahkan menjauh dari lingkungan pertemanan. Kalo terus dibiarin, bullying juga bisa ngeganggu kesehatan mental dan konsentrasi saat belajar.

    Penyelesaian Masalah/Solusi

    Maka dari itu generasi peduli ayo kita bersama-sama untuk mencegah tindakan bullying di sekolah maupun di mana saja, karena tindakan bullying itu dilihat dari mana saja memang hal yang nggak baik.

    Bullying itu nggak bisa diselesaikan cuma hanya menyuruh korban untuk "sabar" saja atau menganggap bullying itu hal yang wajar, kita harus berani membela, mendukung, serta membantu korban yang sedang di-bully, kita bisa melaporkan pembully kepada guru BK, atau keluarganya, agar tindakan pembullyan tersebut tidak terus berlanjut ke depannya.

    Hal pertama yang bisa dilakukan untuk menghindari pembullyan adalah mulai dari diri kita sendiri. Kita harus belajar menjaga ucapan kita dan tidak menjadikan kekurangan orang lain itu sebagai bahan candaan, kalo ada teman atau seseorang yang sedang menjadi korban bullying, kita jangan ngeliatinnya aja atau malah ikut-ikutan menertawakan atau ikut membullynya. Kita harus berikan dukungan dan membantu membela korban. Guru dan pihak sekolah juga punya peran penting. Sekolah perlu menciptakan lingkungan yang aman dan nggak membiarkan bullying dianggap sebagai candaan biasa.

    Kegiatan seperti bimbingan konseling, kampanye anti-bullying, dan pembelajaran tentang cara menyelesaikan konflik agar siswa bisa lebih memahami dampak dari bullying.

    Pada akhirnya, menciptakan sekolah tanpa bullying bukan cuma tugas guru atau pihak sekolah. Kita semua punya peran. Mulai dari nggak ikut-ikutan mengejek, menghargai perbedaan, berani melapor, sampai membantu teman yang sedang mengalami masalah.

    Sekolah seharusnya menjadi tempat untuk belajar, berkembang, berteman, dan merasa aman. Jadi, jangan sampai kata “cuman bercanda” menjadi alasan untuk membenarkan bullying. Kalau kita mulai lebih peduli dan saling menghargai, langkah kecil dari setiap orang bisa membuat lingkungan sekolah menjadi jauh lebih nyaman dan aman untuk semua.

  2. Ruang Kreasi - Infografik Bullying

    MADING EXPLORE
    Rubik Diskusi-Infografik Bullying (Amelia Rizkiana)
  3. Ruang Kreasi - Review Film

    MADING EXPLORE
    Ruang Kreasi-Review Film (Nur Kiki)
  4. Rubrik Diskusi 1

    MADING EXPLORE
    Rubrik Diskusi-Infografik Biofarma (Amelia Rizkiana)
  5. Rubrik Diskusi 2

    MADING EXPLORE
    Rubrik Diskusi-Poster Bukit Asam (Najwa)

    Melalui mading ini, tim Texaz Studios mengajak Masyarakat untuk lebih peduli terhadap masalah bullying di sekolah. Bullying bukan sekedar candaan, tetapi tindakan yang dapat menyaki fisik maupun perasaan korban. Oleh karena itu, mari bersama-sama mencegah bullying dengan hargai perbedaan, membantu korban dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi semua.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More