ilustrasi kritik (pexels.com/Yan Krukau)
Membela hak untuk mengkritik bukan berarti semua kritik otomatis benar atau harus diterima begitu saja. Tuduhan tanpa bukti, serangan pribadi, dan keluhan yang tak menjelaskan persoalan memang layak dipertanyakan. Kritik yang kuat setidaknya menunjukkan apa yang dianggap bermasalah, mengapa hal itu perlu diperhatikan, dan dampak apa yang muncul jika persoalan tersebut dibiarkan. Dengan begitu, pembicaraan bisa berangkat dari masalah yang konkret tanpa ada syarat pengkritik sudah memiliki jawaban untuk setiap kemungkinan.
Ada perbedaan antara meminta kritik yang lebih jelas dengan menolak kritik karena tidak disertai solusi. Pertanyaan tentang data pendukung atau dampak yang dimaksud dapat membantu memperjelas persoalan, sedangkan tuntutan agar pengkritik menyelesaikan semuanya, berisiko membebankan tanggung jawab secara keliru. Jika seseorang memang memiliki usulan, tentu akan lebih baik bila usulan itu ikut dibahas. Namun, usulan tersebut seharusnya menjadi nilai tambah, bukan justru tiket wajib agar kritiknya layak didengar.
Pada akhirnya, kritik bukan berarti seseorang mengklaim mampu melakukan semua hal dengan lebih baik, melainkan menunjukkan bagian yang patut diperiksa dan dipertanggungjawabkan. Pihak yang dikritik tetap berhak meminta penjelasan, menguji bukti, atau mengajukan argumen tandingan, tetapi tidak bisa otomatis membatalkan kritik hanya karena pengkritiknya belum menawarkan solusi. Kalau setiap orang yang menemukan masalah harus sekaligus menyelesaikannya, bukankah pihak yang memang bertanggung jawab justru jadi punya alasan untuk lepas tangan?