6 Novel Fantasi yang Ceritanya Lebih Seru dari Harry Potter

- The Enchantress – Michael Scott: Cerita epik lintas mitologi dan sejarah dunia dengan klimaks penuh kejutan dan konsekuensi emosional yang terasa matang.
- The House of Hades – Rick Riordan: Petualangan penuh aksi, tekanan psikologis, dan ancaman kematian yang nyata dalam dunia para dewa.
- The Magicians – Lev Grossman: Sudut pandang sinis tentang dunia sihir dengan pendidikan sihir yang penuh tekanan, depresi, dan konsekuensi emosional.
Dunia fantasi tidak berhenti di Hogwarts. Meski Harry Potter punya tempat spesial di hati banyak pembaca, genre fantasi terus berkembang dengan cerita yang lebih gelap dan sering kali lebih berani mengambil risiko. Banyak novel fantasi lain yang menawarkan dunia sihir lebih luas dan karakter dengan lapisan emosi yang jauh lebih rumit.
Buat pembaca yang merasa sudah tumbuh dari dunia Harry Potter atau sekadar ingin menjelajah kisah fantasi dengan skala dan kedalaman berbeda, daftar ini bisa jadi pintu masuk yang pas. Dari mitologi kuno hingga politik berdarah, inilah novel-novel fantasi yang sering dianggap lebih seru dan lebih berkesan.
1. The Enchantress – Michael Scott

Nama Nicholas Flamel mungkin terdengar familiar bagi pembaca Harry Potter, tetapi di tangan Michael Scott, sosok alkemis legendaris ini menjadi pusat cerita epik lintas mitologi dan sejarah dunia. Ceritanya memadukan tokoh-tokoh nyata, dewa-dewi kuno, dan ramalan kehancuran dengan tempo yang nyaris tak pernah melambat.
The Enchantress menyajikan klimaks penuh kejutan dan konsekuensi emosional yang terasa matang. Scott tidak hanya menutup konflik besar, tetapi juga memberi resolusi memuaskan untuk karakter-karakternya. Skala ceritanya terasa jauh lebih luas dibandingkan Harry Potter, dengan taruhan global dan nuansa fantasi yang lebih gelap serta ambisius.
2. The House of Hades – Rick Riordan

Sebagai bagian dari seri The Heroes of Olympus, buku ini sering disebut sebagai karya Rick Riordan yang paling kelam. Cerita langsung dibuka dengan Percy dan Annabeth yang terjebak di Tartarus, tempat paling mengerikan dalam mitologi Yunani. Dari sini, Riordan membawa pembaca ke petualangan yang tidak hanya penuh aksi, tetapi juga sarat tekanan psikologis.
The House of Hades terasa lebih dewasa karena cara Riordan menulis penderitaan, ketakutan, dan trauma para tokohnya. Perspektif berganti dengan mulus, konflik terasa lebih berat, dan ancaman kematian jauh lebih nyata. Ini adalah fantasi remaja yang tidak takut menunjukkan sisi brutal dari dunia para dewa.
3. The Magicians – Lev Grossman

Sering dijuluki “Harry Potter versi dewasa”, The Magicians menawarkan sudut pandang yang jauh lebih sinis tentang dunia sihir. Novel ini mengikuti Quentin Coldwater, seorang pemuda yang menemukan bahwa sihir itu nyata, namun tidak seindah yang selama ini ia bayangkan. Pendidikan sihir di sini justru penuh tekanan, depresi, dan konsekuensi emosional.
Lev Grossman dengan cerdas membedah fantasi itu sendiri, mempertanyakan apakah sihir benar-benar menyelesaikan masalah hidup. Bukunya terasa tajam, gelap, dan sangat relevan bagi pembaca yang sudah melewati fase fantasi remaja. Ini bukan kisah pelarian dari realitas, melainkan konfrontasi langsung dengannya.
4. Words of Radiance – Brandon Sanderson

Sebagai buku kedua dalam seri The Stormlight Archive, Words of Radiance sering dianggap puncak kejayaan Brandon Sanderson. Novel ini menghadirkan dunia Roshar yang luar biasa kompleks, lengkap dengan sistem sihir yang detail, sejarah politik, dan konflik moral yang berlapis. Meski tebalnya lebih dari seribu halaman, ceritanya mengalir dengan sangat adiktif.
Sanderson unggul dalam pengembangan karakter, terutama dalam menggambarkan trauma, rasa bersalah, dan perjuangan batin para tokohnya. Fantasi di sini bukan sekadar pertarungan antara baik dan jahat, tetapi tentang pengorbanan dan harga yang harus dibayar atas kekuatan. Skalanya jauh melampaui kisah sekolah sihir mana pun.
5. A Storm of Swords – George R. R. Martin

Buku ketiga dari A Song of Ice and Fire ini sering dianggap sebagai salah satu novel fantasi terbaik sepanjang masa. Di sinilah dunia Westeros mencapai titik paling brutal dan mengejutkan. George R. R. Martin tanpa ampun menyingkirkan karakter penting dan membalik ekspektasi pembaca di hampir setiap bab.
A Storm of Swords begitu kuat karena keberaniannya menolak formula fantasi klasik. Tidak ada karakter yang benar-benar aman dan moralitas sering kali berada di wilayah abu-abu. Dibandingkan Harry Potter, novel ini jauh lebih realistis dalam menggambarkan kekuasaan dan pengkhianatan.
6. The Fellowship of the Ring – J.R.R. Tolkien

Sulit membicarakan fantasi tanpa menyebut Tolkien. The Fellowship of the Ring adalah fondasi dari hampir seluruh fantasi modern. Dunia Middle-earth dibangun dengan detail luar biasa, lengkap dengan bahasa, sejarah, dan mitologi yang terasa hidup.
Meski adaptasi filmnya sangat ikonik, versi novelnya menawarkan pengalaman yang jauh lebih kaya. Tolkien tidak hanya menciptakan cerita petualangan, tetapi sebuah dunia yang benar-benar utuh. Jika Harry Potter membuka pintu fantasi bagi banyak pembaca muda, Tolkien adalah alasan mengapa pintu itu ada sejak awal.
Fantasi adalah genre yang terus berevolusi, dan Harry Potter hanyalah satu bagian dari perjalanan panjangnya. Novel-novel di atas membuktikan bahwa dunia sihir bisa jauh lebih luas dan menantang. Dari keenam novel ini, mana yang paling bikin kamu penasaran untuk dibaca lebih dulu?


















