3 Rekomendasi Buku Favorit Omara Esteghlal Bertema Filsafat

- On the Genealogy of Morality karya Friedrich Nietzsche membahas pandangan Nietzsche terhadap nilai-nilai universal dan mengkritisi nilai-nilai tersebut.
- Tractatus Logico–Philosophicus karya Ludwig Wittgenstein menjabarkan pemikiran Wittgenstein tentang bahasa, logika, serta realitas sebagai batas dunia kita.
- The Fall karya Albert Camus merupakan novel monolog yang mengkritik realitas sosial dengan refleksi diri yang cerdas, tajam, dan mendalam.
Di balik sepak terjangnya di dunia seni peran, Omara Esteghlal dikenal sebagai sosok yang punya ketertarikan terhadap filsafat dan literatur klasik loh. Aktor muda ini tidak hanya berbakat akting, tapi juga punya pemikiran kritis dan gemar mengeksplorasi makna hidup.
Tak heran jika Omara begitu tertarik dengan topik-topik eksistensialisme karena ia merupakan lulusan dari St. Olaf College, Amerika Serikat, dengan gelar di bidang Filsafat dan Psikologi. Latar belakang akademis dan buku bacaannya inilah yang membentuk cara berpikir seorang Omara Esteghlal. Buku bacaan favoritnya pun terbilang berbobot dan mengangkat tema filsafat yang cukup kental. Berikut adalah daftar buku bacaan favorit Omara Esteghlal!
1. On the Genealogy of Morality karya Friedrich Nietzsche

On the Genealogy of Morality (Zur Genealogie der Moral) merupakan buku karya Friedrich Nietzsche yang terbit pada tahun 1887. Friedrich Nietzsche merupakan seorang penulis, filsuf, dan kritikus budaya asal Jerman. Buku ini membahas tentang pandangan Nietzsche terhadap nilai-nilai universal.
Nilai-nilai universal adalah nilai yang kerap dianggap sebagai aturan moral yang berlaku secara universal (di dunia), contoh nilai-nilai ini seperti kejujuran, keadilan, perdamaian, kasih sayang, dan rendah hati. Dalam pandangan umum, nilai-nilai tersebut dianggap sebagai kebenaran, kan, yang membuat manusia mulia dan beradab.
Nah, dalam bukunya On the Genealogy of Morality, Nietzsche justru mengkritisi dan membedah nilai-nilai itu. Sebab, ia berpendapat bahwa tidak ada nilai yang sifatnya universal karena setiap nilai selalu berakar dari budaya tertentu. Pemikirannya ia tuangkan ke dalam tiga esai di buku ini yang masing-masing membahas tentang kejahatan, kebaikan, keburukan, rasa bersalah, nurani yang buruk, serta cita-cita asketik.
Di bagian pendahuluan buku ini, Nietzsche mengungkapkan bahwa penyusunan buku ini berawal dari sebuah pertanyaan, “Dari manakah istilah kebaikan dan kejahatan yang kita miliki sekarang?”
2. Tractatus Logico–Philosophicus karya Ludwig Wittgenstein

Ludwig Wittgenstein merupakan seorang filsuf kelahiran Wina, Austria. Ia adalah salah satu pemikir paling berpengaruh di abad ke-20. Karyanya yang monumental adalah Tractatus Logico–Philosophicus yang ditulis Wittgenstein pada tahun 1921. Buku ini menjabarkan pemikiran Wittgenstein tentang bahasa, logika, serta realitas.
Menurut Wittgenstein, filsafat dianggap menjadi sesuatu hal yang rumit bukan karena masalahnya yang sulit, melainkan karena adanya kesalahan dalam penggunaan bahasa selama ini. Jelasnya, masalah filsafat adalah masalah bahasa. Dia mengatakan bahwa batas bahasa adalah batas dunia kita. Artinya, dunia kita terdiri dari fakta-fakta yang dapat kita lihat, sentuh, serta buktikan. Karena bahasa berfungsi untuk menggambarkan fakta itu, apa yang tidak bisa dibahasakan pun tidak bisa dipikirkan secara logis.
Tractatus Logico–Philosophicus menjadi monumental karena menunjukkan bahwa tujuan utama filsafat bukan untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang rumit, melainkan untuk memahami apa yang sanggup dan tidak sanggup diungkapkan oleh bahasa kita. “Kita harus diam ketika tidak bisa menjelaskan sesuatu,” begitu kata Ludwig Wittgenstein.
3. The Fall karya Albert Camus

Jika dua buku sebelumnya termasuk dalam kategori buku nonfiksi, nah The Fall merupakan buku fiksi berbentuk novel monolog. The Fall adalah novel monolog populer karya Albert Camus, seorang filsuf, jurnalis, maupun penulis yang pernah meraih Nobel Sastra. Novel ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1956.
The Fall mengkritik realitas sosial dengan latar kota Amsterdam, Belanda. Melalui keluh kesah tokoh bernama Jean-Baptiste Clamence terhadap karakter manusia, kamu selaku pembaca akan diajak berpikir: Apakah saya juga seperti itu? Buku ini menghadirkan refleksi diri yang cerdas, tajam, dan mendalam, tetapi tetap mengalir. Alur pikiran tokoh yang unik mampu membuat pembaca merasa penasaran sekaligus terheran dalam memahami tiap-tiap poinnya. Camus tidak hanya bercerita tentang dunia luar, tapi juga menyelam ke dalam pikiran manusia yang kompleks.
Buku favoritnya memang tidak kaleng-kaleng, ya. Daftar rekomendasi ini menunjukkan bahwa literatur klasik tetap relevan dijadikan cermin diri di era modern. Dari daftar buku bacaan tersebut, adakah buku yang pernah kamu baca atau masuk wishlist kamu?


















