Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

4 Cara Berdamai dengan Diri Sendiri saat Merasa Selalu Kurang

Ilustrasi bahagia (pexels.com/ Andrea Piacquadio)
Ilustrasi bahagia (pexels.com/ Andrea Piacquadio)
Intinya sih...
  • Berhenti membandingkan diri dengan versi hidup orang lain
  • Mengakui perasaan kurang tanpa menghakimi diri sendiri
  • Menghargai progres kecil yang sering dianggap sepele
  • Menentukan standar hidup berdasarkan nilai diri sendiri
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)


Pernah gak sih ngerasa hidup orang lain kelihatan lebih “jadi” dibanding hidup kita sendiri? Ada yang kariernya lancar, ada yang hubungannya terlihat bahagia, ada juga yang kayaknya selalu berlangkah-langkah lebih maju. Di saat seperti itu, perasaan kurang sering muncul tanpa diundang. Kurang pintar, kurang sukses, kurang beruntung, bahkan kurang layak buat bangga sama diri sendiri.

Perasaan selalu kurang ini sebenarnya wajar, apalagi di tengah budaya membandingkan diri yang makin masif, terutama lewat media sosial. Sayangnya, kalau dibiarkan terus-menerus, perasaan ini bisa bikin kita capek secara mental dan emosional. Kita jadi susah menikmati proses, gampang menyalahkan diri sendiri, dan lupa menghargai apa yang sudah dicapai. Padahal, berdamai dengan diri sendiri bukan berarti menyerah, tapi menerima bahwa kita juga manusia yang sedang bertumbuh.

Nah, berikut ini beberapa cara yang bisa membantu kamu berdamai dengan diri sendiri saat perasaan selalu kurang datang menghantui.

1. Berhenti membandingkan diri dengan versi hidup orang lain

ilustrasi individu mengalami social comparison di media sosial (pexels.com/Liza Summer)
ilustrasi individu mengalami social comparison di media sosial (pexels.com/Liza Summer)

Salah satu sumber terbesar rasa kurang adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Kita sering lupa bahwa yang kita lihat dari orang lain hanyalah potongan kecil dari hidup mereka. Media sosial, misalnya, lebih sering menampilkan pencapaian dan kebahagiaan, bukan kegagalan atau luka yang sedang mereka sembunyikan.

Saat kamu membandingkan hidupmu dengan highlight hidup orang lain, hasilnya hampir pasti bikin kamu merasa tertinggal. Padahal, setiap orang punya timeline dan tantangan masing-masing. Fokus pada perjalananmu sendiri jauh lebih menenangkan daripada sibuk mengukur diri dengan standar hidup orang lain. Semakin kamu berhenti membandingkan, semakin lega rasanya menjalani hidup apa adanya.

2. Mengakui perasaan kurang tanpa menghakimi diri sendiri

Ilustrasi sedang jatuh cinta (pexels.com/ Andrea Piacquadio)
Ilustrasi sedang jatuh cinta (pexels.com/ Andrea Piacquadio)

Banyak orang merasa bersalah saat merasa kurang, seolah perasaan itu adalah tanda kelemahan. Padahal, mengakui bahwa kamu sedang merasa tidak cukup bukan berarti kamu gagal. Justru, mengakui perasaan tersebut adalah langkah awal untuk berdamai dengan diri sendiri. Kamu gak harus selalu kuat atau positif setiap waktu. Kadang, membiarkan diri merasa sedih, kecewa, atau tidak puas adalah bentuk kejujuran emosional.

Dengan tidak menghakimi diri sendiri, kamu memberi ruang untuk memahami apa yang sebenarnya kamu butuhkan. Perasaan kurang bisa jadi sinyal bahwa ada harapan, keinginan, atau mimpi yang sedang kamu perjuangkan. Dan itu manusiawi banget.

3. Menghargai progres kecil yang sering dianggap sepele

ilustrasi sehat fisik dan emosional (pexels.com/Andre Furtado)
ilustrasi sehat fisik dan emosional (pexels.com/Andre Furtado)

Sering kali, kita merasa kurang karena terlalu fokus pada apa yang belum tercapai, bukan pada apa yang sudah dilewati. Padahal, progres kecil tetaplah progres, meski tidak selalu terlihat besar. Bangun pagi tepat waktu, menyelesaikan pekerjaan, bertahan di hari yang berat, itu semua bentuk pencapaian.

Sayangnya, hal-hal kecil ini sering kita remehkan karena merasa “ah, cuma segitu doang”. Kalau terus begitu, rasa puas gak akan pernah datang. Mulai sekarang, coba biasakan mengapresiasi diri sendiri, sekecil apa pun langkahnya. Dengan menghargai progres kecil, kamu belajar melihat dirimu dengan lebih adil dan penuh empati.

4. Menentukan standar hidup berdasarkan nilai diri sendiri

ilustrasi melihat sosial media (pexels.com/SHVETS production)
ilustrasi melihat sosial media (pexels.com/SHVETS production)

Rasa selalu kurang juga sering muncul karena kita hidup mengikuti standar orang lain. Kita merasa harus sukses di usia tertentu, punya pencapaian tertentu, atau menjalani hidup dengan cara tertentu agar dianggap “berhasil”. Padahal, standar hidup yang dipaksakan dari luar sering kali gak sejalan dengan nilai dan kebutuhan diri sendiri.

Berdamai dengan diri sendiri berarti berani bertanya, apa sebenarnya yang penting buat kamu? Apa definisi cukup versi dirimu, bukan versi orang lain? Saat kamu mulai hidup sesuai nilai sendiri, tekanan untuk selalu merasa kurang perlahan berkurang. Kamu jadi lebih tenang karena hidupmu punya arah yang kamu pahami sendiri.

Berdamai dengan diri sendiri memang bukan proses instan, tapi sangat mungkin dilakukan. Rasa kurang mungkin akan tetap datang sesekali, tapi kamu bisa belajar untuk tidak tenggelam di dalamnya. Dengan berhenti membandingkan diri, mengakui perasaan tanpa menghakimi, menghargai progres kecil, dan menentukan standar hidup sendiri, kamu memberi ruang untuk tumbuh dengan lebih sehat. Ingat, kamu tidak harus sempurna untuk layak merasa cukup. Selama kamu terus belajar dan berusaha, itu sudah lebih dari cukup.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Latest in Life

See More

4 Kesalahan Kecil di Corporate yang Bisa Fatal Buat Karier

01 Feb 2026, 22:32 WIBLife