Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Novel Klasik yang Pakai POV Penjajah, Baca Biar Kritis

5 Novel Klasik yang Pakai POV Penjajah, Baca Biar Kritis
rekomendasi novel dengan POV penjajah (dok. Penguin/Robinson Crusoe | dok. Moooi Pustaka/Amuk)
Intinya Sih
  • Lima novel klasik seperti Amok, Robinson Crusoe, dan Heart of Darkness dikupas karena memakai sudut pandang penjajah yang menormalisasi kolonialisme secara halus.
  • Setiap karya menunjukkan bias Eropa, menggambarkan warga lokal sebagai inferior atau hanya layak disimpati jika tunduk pada moral Barat.
  • Artikel mengajak pembaca menikmati sastra klasik sambil tetap kritis terhadap narasi kolonial yang terselip di balik kisah dan karakter utamanya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Sadarkah kamu kalau banyak novel klasik yang menormalisasi penjajahan atau kolonisasi? Memang tidak begitu kentara, tetapi ini bisa dilihat dari kecenderungan mereka memakai POV orang kulit putih yang menjadi pelaku atau diuntungkan oleh sistem penjajahan pada masa lampau.

Apa saja novel yang dimaksud? Berikut 5 daftarnya, beberapa cukup populer dan dicap legenda, lho. Makin penasaran, mari bahas satu per satu.

1. Amok (Stefan Zweig)

Amok Stefan Zweig
Amuk karya Stefan Zweig (dok. Moooi Pustaka/Amuk)

Amok adalah novel yang pakai struktur cerita dalam cerita. Pada bab awal kita bakal jadi seorang pria yang tak sengaja bertemu dokter di sebuah kapal. Sang dokter setelah mengobrol basa-basi dengan si pria akhirnya menceritakan alasan utama mengapa ia kembali ke Eropa. Dari POV sang dokter, Hindia Belanda, tempatnya berdinas selama beberapa waktu sudah membuatnya kehilangan kewarasan.

Ia tak menganggap warga lokal setara dengannya, ia tak sudi belajar bahasa dan budaya tempatnya berpijak, dan ia tak segan menghakimi keputusan-keputusan mereka. Buku ini memaksamu melihat segala sesuatu dari sudut pandang pendatang Eropa yang merasa superior.

2. Robinson Crusoe (Daniel Defoe)

Robinson Crusoe Daniel Defoe
Robinson Crusoe karya Daniel Defoe (dok. Penguin/Robinson Crusoe)

Disebut legenda, Robinson Crusoe sering disebut sebagai dongeng kolonial. Terang saja, novel ini memakai POV pemuda kulit putih yang terdampar di sebuah pulau antah berantah. Ia sempat diperbudak warga lokal, tetapi berhasil melarikan diri dan melanjutkan penjelajahannya. Namun, selama itu pula, kita bisa melihat berbagai privilese yang ia dapat sebagai seorang kulit putih.

Ia bergabung dengan kapal pembawa budak dari Afrika, bahkan sempat terpikir untuk menguasai sebuah wilayah dan memusnahkan penghuni yang menurutnya tak bermoral. Novel ini memang epik, tetapi bisa pula dilihat sebagai demonstrasi POV koloni Eropa ketika melihat tempat-tempat “tak terjamah” dan upaya mereka memperkenalkan peradaban serta nilai yang menurut mereka paling benar.

3. Heart of Darkness (Joseph Conrad)

Heart of Darkness
Heart of Darkness karya Joseph Conrad (dok. Norris Book/Heart of Darkness)

Walau Conrad berusaha untuk menggambarkan realitas brutal penjajah Belgia di Kongo, Heart of Darkness masih memakai bias Eropa yang membuat buku ini terasa munafik. Salah satunya adalah argumen bahwa ketiadaan peradaban (Eropa) membuat para pendatang itu kehilangan kewarasan dan akhirnya termanifestasi dalam keputusan-keputusan imoral.

Dalam buku Heart of Darkness, Conrad juga menggunakan konsep perfect victim, yakni hanya mengasihani dan bersimpati pada warga lokal (korban penjajahan) yang menurutnya tidak melanggar moral. Mereka yang mati, sakit, dan tak bisa melawan adalah yang berhak dapat simpati menurut Conrad di buku ini.

4. A Passage to India (E. M. Forster)

A Passage to India
A Passage to India karya E. M. Forster (dok. Penguin/A Passage to India)

Novel A Passage to India berkutat pada perjalanan dua perempuan Inggris yang sebentar lagi akan jadi mertua dan menantu. Datang dan berencana tinggal di India, mereka berinisiatif untuk melihat negara jajahan Inggris itu dari kacamata berbeda. Ditemani seorang warga lokal bernama Aziz, petualangan itu pun dimulai.

Tak hanya pakai POV penjajah Inggris di India, novel ini juga mencatut karakter warga lokal yang patuh dan pro terhadap kolonialisme. Tokoh Aziz bahkan mencerminkan perbedaan warga India menurut koloni Inggris. Hanya orang-orang lokal berpendidikan dan sudah mengadopsi peradaban Barat yang layak masuk sirkel mereka.

5. Mansfield Park (Jane Austen)

Mansfield Park
Mansfield Park karya Jane Austen (dok. Penguin/Mansfield Park)

Jatuh miskin dan sebatang kara. Fanny Price beruntung punya kerabat yang bersedia menampungnya sebelum ia menikah. Di sana, mau tak mau Fanny pun harus berjibaku dengan politik dan drama keluarga kaya. Namun, kalau kamu lihat lebih jeli, keluarga Bertram yang menampung Fanny adalah simbol dari koloni Eropa yang berhasil meraup kekayaan lewat cara tak etis.

Apalagi kalau tidak penjajahan, kekayaan mereka berasal dari perkebunan tebu di Antigua yang beroperasi dengan sistem perbudakan. Austen tentu tidak menyebut dan menyenggol fakta ini, tetapi keluarga Bertram bisa jadi satu bagaimana penjajahan memungkinkan orang-orang dari negara eks-penjajah bisa mengumpulkan kekayaan dengan relatif cepat, tanpa perlu kerja keras.

Novel klasik memang seru untuk dibaca. Namun, jangan berhenti sampai fase menikmati cerita dan diksinya. Lanjutkan juga dengan mencernanya pakai pemikiran kritismu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Diana Hasna
EditorDiana Hasna

Related Articles

See More