5 Novel Klasik tentang Radikalisasi Pekerja, Sosialis!

- Lima novel klasik menyoroti perjuangan dan radikalisasi pekerja yang menghadapi eksploitasi, ketidakadilan, serta tekanan sistem kapitalis di berbagai negara.
- Tokoh-tokoh seperti Bartleby, Jurgis Rudkus, hingga para buruh dalam karya Takiji Kobayashi menggambarkan bentuk perlawanan terhadap sistem kerja yang menindas.
- Artikel menegaskan bahwa radikalisasi pekerja berperan penting dalam lahirnya hak-hak buruh modern seperti cuti, upah minimum, dan jam kerja manusiawi.
Pernahkah kamu merasa sumpek dan gak dihargai di tempat kerja? Sampai-sampai rasanya percaya kalau percuma saja bekerja sekuat tenaga bila akhirnya apa yang didapat tak sebanding dengan pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari. Isu ini ternyata beberapa kali menjadi topik utama novel klasik, lho.
Kalau gak percaya, ini lima novel klasik yang membahas proses radikalisasi pekerja. Kondisi kerja yang memuakkan akhirnya mendorong mereka melakukan pemberontakan hingga revolusi. Berikut lima judulnya.
1. Bartleby, The Scrivener (Herman Melville)

Bartleby adalah lakon dalam novel karya Herman Melville, seorang pegawai di sebuah firma hukum yang perlahan kehilangan semangat dan motivasi bekerja. Ia secara bertahap menolak tugas-tugas yang dibebankan padanya.
Cara memberontak cukup nonkonvensional, bukan dengan protes dan berteriak. Lebih ke penolakan halus dengan efek yang tak langsung, tetapi ternyata efektif. Ini salah satu novel pendek yang bakal membuatmu termenung beberapa saat setelah menamatkannya. Apakah Bartleby seorang pahlawan atau justru antagonis?
2. The Jungle (Upton Sinclair)

Novel klasik lain yang membahas radikalisasi pekerja adalah The Jungle. Latarnya berkutat di sebuah pabrik pengemasan daging di Chicago yang pegawainya mayoritas pekerja migran. Status mereka membuat pengelola dengan leluasa melakukan eksploitasi dan pelanggaran.
Upton Sinclair menggunakan tokoh Jurgis Rudkus, imigran asal Lithuania yang pindah ke Amerika Serikat untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik, tetapi justru menjadi korban kapitalis serakah. Mirisnya, perbaikan yang diharapkan Sinclair dari perilisan novel ini tak terwujud. Otoritas AS lebih fokus pada isu sanitasi yang buruk di pabrik pengemasan daging, ketimbang memperbaiki nasib pekerja. Ini sesuai dengan kecenderungan otoritas AS yang tak bersahabat terhadap serikat pekerja.
3. The Crab Cannery Ship (Takiji Kobayashi)

Jepang ternyata punya novel sosialis dengan judul The Crab Cannery Ship. Dirilis pada 1929, novel ini berkutat pada beberapa protagonis yang jalan hidupnya berbeda-beda.
Namun, satu hal yang sama, mereka adalah kaum yang teropresi karena ketidakadilan dan keserakahan manusia lain. Ada nelayan yang terjebak dalam kemiskinan struktural, remaja yang terpaksa jadi buruh pabrik untuk menghidupi dirinya sendiri, serta murid-murid sekolah yang berekspektasi tinggi tentang profesi pelaut sampai kenyataan pahit menampar mereka.
4. God's Bits of Wood (Ousmane Sembene)

Dari Jepang, mari ke Senegal, negara yang juga pernah menjadi saksi kekejaman dan keserakahan pemerintah kolonial Prancis. Dalam God’s Bits of Wood, kamu akan berkenalan dengan warlok yang mayoritas bekerja untuk pemerintah kolonial dan merasa tak dihargai.
Beberapa dari mereka nekat menginisiasi gerakan mogok kerja (strike). Aksi ini direspons dengan sangat licik oleh pihak Prancis. Mereka menggunakan berbagai cara untuk menghancurkan mental massa aksi, terutama para pekerja perempuan.
5. The Ragged Trousered Philanthropists (Robert Tressell)

Terinspirasi sebagian dari pengalaman pribadinya sendiri, Robert Tressell mengajak kita menyelami POV pekerja kerah biru. Ia menggambarkan dirinya dan kawan-kawannya sebagai donatur, lebih tepatnya orang yang bekerja mati-matian hanya untuk melihat para kapitalis (pemilik modal) bergelimang harta di atas penderitaan pegawainya. Salah satu tokoh yang jadi kunci ceritanya adalah Frank, penganut sosialisme yang berusaha menyadarkan rekan-rekannya tentang ketidakadilan ini.
Radikalisasi sering dikaitkan dengan terorisme dan pandangan ekstrem, tetapi sebenarnya, artinya cukup luas, lho. Dalam konteks pekerja, radikalisasi sering menjadi bensin dalam gerakan protes dan penetapan hak. Sebagai pekerja, kamu wajib bersyukur atas proses ini, karena darinya lah berbagai hak, seperti cuti, upah minimum, dan jam kerja bisa kamu nikmati sekarang.



















