- Judul asli: Ungeduld des Herzens atau Beware of Pity
- Penerjemah: Tiya Hapitiawati
7 Novel Terjemahan yang Layak Dikoleksi, Antimainstream!

- Artikel merekomendasikan tujuh novel terjemahan antimainstream dari berbagai negara dengan kualitas cerita dan penerjemahan yang unggul.
- Setiap novel menampilkan tema kuat, mulai dari konflik sosial, kolonialisme, hingga perjuangan perempuan dalam sistem yang tidak adil.
- Tulisan ini juga menyoroti pentingnya peran penerjemah dalam menjaga keaslian makna dan memperkaya wawasan pembaca lintas budaya.
Butuh rekomendasi novel terjemahan yang superior dari segala sisi? Cerita bagus dan terjemahannya pun tak asal-asalan? Ada tujuh buku terjemahan menarik antimainstream buatmu, nih. Mereka datang dari berbagai negara dan gak sedikit yang diterjemahkan langsung dari bahasa aslinya, bahasa Inggris. Alhasil, lebih mengena dan jauh dari kesan kaku.
Benar-benar paket komplet untuk pencinta buku yang suka menjelajah dan ingin dimanjakan dengan diksi ciamik yang mengalir. Mari bahas satu per satu novel tersebut melalui ulasan berikut.
1. Kalut (Stefan Zweig)

Butuh novel yang pakai perspektif pria dan ditulis pula oleh pria? Kalut dari Stefan Zweig bisa jadi jawabannya. Novel klasik ini berlatarkan Austria jelang Perang Dunia I dan berlakonkan Toni, seorang serdadu yang tak sengaja bikin putri seorang pebisnis kaya malu. Merasa tak enak hati, ia mencoba untuk meminta maaf dengan mengiriminya bunga dan menemaninya ngobrol di rumah. Namun, ia justru terjebak dalam rasa iba tak berkesudahan yang membuat gadis itu jatuh hati dan mengira Toni membalas cintanya.
2. Segalanya Berantakan (Chinua Achebe)

Ini adalah novel antikolonial asal Nigeria yang berpusat pada Okonkwo, pria yang setia mengamini dan menjalankan adat dan kepercayaan sukunya. Bahkan saat harus melakoni sebuah tradisi yang menurutnya tidak sesuai dengan moral kompasnya, Okonkwo pun menurut.
Sampai satu hari, semua berubah ketika pendatang Eropa yang arogan menjajah dan memaksa warga lokal Nigeria untuk mengikuti prinsip hidup baru yang kerap berlawanan dengan apa yang warlok percaya dan terapkan selama ini. Okonkwo berada di persimpangan jalan dan akibatnya fatal.
- Judul asli: Things Fall Apart
- Penerjemah: tidak disebut
3. Murambi, Buku tentang Tulang Belulang (Boubakar Boris Diop)

Murambi adalah buku berlatar perang saudara Rwanda 1994 yang penting dibaca. Diop memakai beberapa perspektif sekaligus. Mulai dari seorang eksil yang baru pulang, penyintas pembantaian dari etnis Tutsi, otak pembantaian yang ternyata berhasil mempertahankan reputasi positifnya, hingga para jagal yang merupakan anggota kelompok militan yang dimanfaatkan sebagai bagian dari instrumen kekerasan. Murambi begitu menyesakkan dibaca, tetapi bisa jadi pelajaran berharga.
- Judul asli: Murambi, le livre des ossements
- Penerjemah: Ari Bagus Panuntun
4. Waktu Bintang (Clarice Lispector)

Meski pakai sentuhan surealisme, Clarice Lispector sebenarnya sedang menceritakan realitas pahit kehidupan manusia tanpa privilese dalam novel ini. Kamu akan diajak berkenalan dengan Macabea, perempuan kelas pekerja di Brasil yang hidup dalam kemiskinan tanpa benar-benar menyadari ketidakberuntungannya. Kisahnya diceritakan oleh sesosok asing bergender pria dengan segala privilese yang ia miliki. Begitu kontras dan miris.
- Judul asli: The Hour of the Star
- Penerjemah: Gladhys Elliona
5. 1970 (Henrique Schneider)

Seperti novel sebelumnya, buku ini juga diterjemahkan langsung dari bahasa aslinya, Portugis. Seperti judulnya, ceritanya berkutat pada tahun 1970 ketika Brasil masih dikuasai rezim militer.
Seorang pria biasa jadi korban salah tangkap. Ia diinterogasi dan disiksa, bahkan dipaksa mengaku sebagai bagian dari organisasi sayap kiri yang dianggap ilegal oleh rezim. Ketika para penculik menyadari kesalahan mereka, sang pria dibebaskan tanpa permintaan maaf. Pilu, lajunya pas, dan begitu lekat dengan realitas.
- Judul asli: Setenta
- Penerjemah: Gladhys Elliona
6. Monster Kepala Seribu (Laura Santullo)

Bergenre hiperealisme, Monster Kepala Seribu adalah kisah Sonia Bonet, perempuan yang benar-benar sudah muak dengan perlakuan perusahaan asuransi terhadap keluarganya. Mengganjal Sonia dengan birokrasi berbelit-belit, asuransi hendak menghindar dari tanggung jawab membiayai prosedur pengobatan suami Sonia. Ia berjuang dengan cara baik-baik pada awalnya, tetapi saat semua itu tak berguna, ia nekat melakukan hal di luar batas. Menurutnya, lawannya memang bukan lagi manusia, tetapi monster yang harus dilawan pula dengan cara tak biasa.
- Judul asli: Un monstruo de mil cabezas
- Penerjemah: Ratna Dyah Wulandari
7. Heart Lamp (Banu Mushtaq)

Heart Lamp karya Banu Mushtaq memang tidak diterjemahkan langsung dari bahasa aslinya (Kanada) ke bahasa Indonesia. Namun, penerjemah bahasa Indonesia mempertahankan gaya translasi bahasa Inggris Deepa Bhasthi yang memutuskan untuk tidak serta merta menerjemahkan semua istilah lokal yang dipakai Mushtaq. Ini dilakukannya untuk mempertahankan keautentikan cerita dan memperjelas motif karakter. Secara umum, Heart Lamp adalah kumpulan cerpen yang semuanya berkutat para perjuangan perempuan India Selatan melawan maupun bertahan di tengah tatanan dan sistem yang tidak berpihak pada mereka.
- Judul asli: Heart Lamp
- Penerjemah: Damhuri Muhammad
Hampir semua novel di atas diterjemahkan langsung dari bahasa pertamanya, lho. Sebuah pengingat kalau kemampuan bahasa adalah kunci dari transfer ilmu pengetahuan dan perspektif. Mari lebih menghargai keberadaan dan profesi penerjemah mulai sekarang.