5 Novel yang Bahas Kemiskinan Struktural, Bukan Kurang Kerja Keras!

- Artikel menyoroti perdebatan soal anggapan rezeki selalu sebanding dengan kerja keras, di tengah biaya hidup dan pajak yang menekan masyarakat.
- Lima novel pilihan menggambarkan kemiskinan struktural melalui upah rendah, akses kerja dan pendidikan terbatas, korupsi, monopoli sumber daya, serta trauma institusional.
- Kisah-kisah tersebut menunjukkan kemiskinan dapat terjadi mendadak dan sulit diatasi, meski seseorang bekerja panjang, karena pilihan serta mobilitas sosial kerap terbatas.
Di tengah tingginya tingkat stres rakyat Indonesia karena dicekik biaya hidup dan pajak, Maia Estianty mengunggah sebuah pernyataan yang dianggap tidak etis. Menyinggung korelasi rezeki dengan kerja keras, pernyataan itu justru menuai kontra. Ini karena kenyataannya, kerja keras tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah rezeki materi yang didapat.
Ada yang namanya kemiskinan struktural dan sistem kapitalisme yang menghalangi keyakinan tersebut. Faktanya banyak yang sudah bekerja belasan jam per hari untuk dapat upah setara bahkan kurang dari gaji minimum regional. Coba perkaya perspektifmu dengan membaca 5 buku berikut, deh.
1. The Ragged-Trousered Philanthropists (Robert Tressell)

The Ragged Trousered Philanthropists karya Robert Tressell (dok. Penguin/The Ragged Trousered Philanthropists) Sesuai judulnya, Tressell berargumen lewat buku ini kalau pekerja itu adalah filantropis untuk atasan mereka. Bagaimana tidak? Sering kali pekerja yang bekerja paling keraslah yang digaji paling mini. Ini berlaku di banyak sektor, kok. Namun, Tressell pakai kasus para kuli bangunan yang gajinya segitu-gitu saja, padahal orang-orang kaya yang memperkerjakan mereka punya kekuasaan untuk mengambil untung lebih. Dalam buku ini, para pekerja juga mendiskusikan apa sebenarnya penyebab kemiskinan dan jawabannya gak sesederhana karena kelebihan penduduk, kemalasan atau kebiasaan buruk.
2. A Tree Grows in Brooklyn (Betty Smith)

A Tree Grows in Brooklyn karya Betty Smith (dok. Penguin/A Tree Grows in Brooklyn) Kemalasan juga bukan alasan keluarga Nolan dalam novel A Tree Grows in Brooklyn miskin selama beberapa generasi. Dalam buku ini Betty Smith menampakkan faktor-faktor kemiskinan yang sebenarnya dengan cerdas. Semuanya sistemik, mulai dari keterbatasan akses pekerjaan layak, kecilnya peluang anak-anak keluarga miskin dapat pendidikan cukup karena harus membantu orangtua memenuhi kebutuhan harian, dan lain sebagainya. Semua faktor-faktor tadi akhirnya menghalangi peluang keluarga miskin melakukan mobilitas sosial.
3. The Women at the Pump (Knut Hamsun)

The Women at the Pump karya Knut Hamsun (dok. Profile Books/The Women at the Pump) The Women at the Pump adalah novel yang cukup unik ketika mendiskusikan kemiskinan. Lagi-lagi, bukan kemalasan dan kurang kerja keras, kemiskinan yang dipotret Hamsun di desa yang jadi latar novelnya adalah korupsi. Bukan soal penggelapan dana saja, korupsi dalam arti luas juga kecurangan-kecurangan lain yang dinormalisasi. Seperti monopoli sumber daya, manipulasi status sosial, dan lain-lain. Lewat buku ini, kita diajak menyelami bagaimana kesulitan ekonomi bisa memengaruhi proses pengambilan keputusan yang kemudian dihakimi kelas atas dan menengah sebagai sebuah sesat pikir.
4. Hard Rain Falling (Don Carpenter)

Hard Rain Failing karya Don Carpenter (dok. NYRB/Hard Rain Failing) Dua remaja terlantar beda ras di Amerika Serikat bertemu dan berkawan. Namun, nasib memisahkan mereka saat keduanya tertangkap ketika melakukan “kenakalan remaja”. Jack yang masih di bawah umur dibawa ke pusat rehabilitasi anak-anak untuk dibina dan sejak itu, ia tak tahu keberadaan rekannya, Billy. Sampai bertahun-tahun kemudian, nasib Jack dan Billy bersilangan lagi. Billy kini sudah jadi pria kelas menengah dengan keluarga kecil dan bisnisnya. Sementara, Jack yang mengalami perlakuan tak menyenangkan di pusat rehabilitas mengalami trauma dan hidupnya masih berantakan. Billy memang berhasil melakukan mobilisasi sosial, tetapi masa lalunya bisa mencerabutnya dari ilusi kestabilan tersebut.
5. Down and Out in Paris and London (George Orwell)

Down and Out in Paris and London karya George Orwell (dok. Penguin/Down and Out in Paris and London) Terinspirasi pengalamannya sendiri, Down and Out in Paris and London menggambarkan bagaimana seseorang bisa jatuh dalam jurang kemiskinan tiba-tiba dan akan sulit keluar setelahnya. Semua bermula dari musibah pencurian yang membuat Orwell jatuh miskin mendadak. Di tengah tekanan finansial itu, ia akhirnya bekerja jadi pencuci piring di sebuah restoran dengan jam kerja panjang dan gaji menyedihkan. Pada fase ini, ia berkenalan dengan banyak pekerja kerah biru yang tersisih dan tak punya banyak opsi untuk keluar dari kemiskinan. Orwell memang bukan penulis yang ideal alias cukup kontroversial, tetapi poinnya dalam buku ini menarik.
Kemalasan dan kemiskinan bukan hukum sebab-akibat yang sederhana. Ada banyak faktor penentu lain yang perlu kamu tahu dan kaji. Buku-buku tadi bisa jadi pengantar yang menarik untuk jadi warga yang tak buta dan tuli akan realitas lapangan. Mari membaca!





















