Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kebiasaan Digital yang Perlu Diperbaiki agar Tidak Mudah Termakan Hoak

6 min read
Kebiasaan Digital yang Perlu Diperbaiki agar Tidak Mudah Termakan Hoak
ilustrasi bermain media sosial (freepik.com/marymar)

Media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari mencari berita terbaru, mengikuti tren, membaca informasi kesehatan, hingga mengetahui kabar yang sedang ramai dibicarakan, semuanya bisa dilakukan hanya melalui ponsel. Namun, kemudahan ini juga membuat informasi yang belum tentu benar atau hoaks beredar dengan sangat cepat.

Ya, masalahnya informasi palsu tidak selalu terlihat mencurigakan. Ada yang dikemas dengan bahasa meyakinkan, menggunakan foto yang tampak nyata, bahkan mencatut nama ahli atau lembaga resmi. Lantas, kebiasaan apa saja yang perlu diperbaiki supaya kita lebih bijak saat menerima dan membagikan informasi di internet?

  1. 1. Berhenti membaca berita hanya dari judulnya

    ilustrasi batasi waktu bermain media sosial (pexels.com/cottonbro studio)
    ilustrasi batasi waktu bermain media sosial (pexels.com/cottonbro studio)

    Kebiasaan membaca judul tanpa membuka isi berita bisa membuat kita salah memahami suatu peristiwa. Judul yang provokatif sering kali dirancang untuk menarik perhatian dan memancing reaksi emosional. Akibatnya, seseorang bisa langsung merasa marah, takut, atau percaya pada suatu klaim, padahal isi artikel sebenarnya memberikan penjelasan yang berbeda.

    Informasi yang hanya dibaca sepintas juga rentan kehilangan konteks penting. Pakar literasi digital Mike Caulfield bersama Sam Wineburg menjelaskan pentingnya strategi SIFT dalam mengevaluasi informasi daring. Salah satu langkah awalnya adalah berhenti sejenak sebelum bereaksi terhadap suatu informasi.

    "Mengetahui konteks yang diperlukan adalah satu hal, namun membangun kebiasaan untuk mencarinya adalah hal yang berbeda," jelasnya dalam artikel mereka Learning to Verify dikutip dari American Federation of Teacher (AFT).

    "Kami merangkumnya dalam sebuah akronim yang mudah diingat: SIFT. Stop. Tanyakan pada diri sendiri apa yang sebenarnya kamu ketahui tentang klaim tersebut dan sumber yang menyebarkannya. Investigate the source. Lakukan pemeriksaan singkat untuk memastikan apakah sumber tersebut dapat dipercaya untuk konteks yang bersangkutan. Find other coverage. Baik saat kamu melihat laporan berita maupun klaim hasil penelitian, luangkan waktu sejenak untuk melihat gambaran yang lebih luas dan periksa apa yang dikatakan oleh sumber lain," lanjutnya.

    Mulai sekarang, biasakan membaca berita secara utuh sebelum mengambil kesimpulan. Periksa tanggal publikasi, isi pembahasan, dan bukti yang disertakan penulis. Jika judul terasa terlalu sensasional, jangan langsung membagikannya ke grup keluarga atau media sosial. Luangkan waktu beberapa menit untuk memahami informasi tersebut.

  2. 2. Jangan langsung percaya informasi dari grup WhatsApp

    ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Priscilla Du Preez 🇨🇦)
    ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Priscilla Du Preez 🇨🇦)

    Pesan yang dikirim oleh teman, keluarga, atau orang yang dikenal sering kali terasa lebih meyakinkan daripada informasi dari orang asing. Kita mungkin berpikir bahwa orang terdekat tidak akan membagikan kabar palsu dengan sengaja. Padahal, mereka juga bisa saja meneruskan informasi tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu.

    Pesan yang sudah berpindah dari satu grup ke grup lain pun dapat terlihat semakin meyakinkan hanya karena banyak orang membagikannya. Mike Caulfield pun menyarankan agar pengguna internet menyelidiki sumber informasi sebelum mempercayainya. Langkah ini mencakup pemeriksaan terhadap siapa yang menerbitkan informasi, apa latar belakangnya, dan apakah ada sumber independen yang mendukung klaim tersebut.

    "Lacak klaim, kutipan, atau materi media tersebut hingga ke konteks aslinya. Terkadang, sumber pertama yang Anda temukan mungkin kurang kredibel, tetapi sumber tersebut mencantumkan tautan ke tempat asal informasinya. Kunjungi sumber asli tersebut, lalu nilai (a) apakah sumber itu tepercaya, dan (b) apakah isinya benar-benar mendukung pernyataan yang disampaikan," jelanya.

  3. 3. Mengandalkan satu sumber informasi saja

    ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Alejandro Sotillet)
    ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Alejandro Sotillet)

    Membaca berita dari satu akun atau satu situs saja dapat membuat kita terjebak dalam sudut pandang yang sempit. Apalagi jika sumber tersebut sering membahas isu yang sesuai dengan pendapat atau keyakinan kita. Informasi yang terasa cocok dengan pandangan pribadi cenderung lebih mudah diterima tanpa banyak pertanyaan.

    Padahal, kesesuaian dengan pendapat kita tidak otomatis membuktikan bahwa sebuah informasi benar. Dalam artikel Learning to Verify, Mike Caulfield dan Sam Wineburg menjelaskan langkah SIFT yang disebut Find better coverage, yaitu mencari pemberitaan atau sumber lain yang lebih tepercaya untuk memeriksa sebuah klaim.

    Mereka juga menguraikan praktik lateral reading, yakni membuka sumber lain untuk mengetahui bagaimana informasi tersebut dilaporkan dan dinilai oleh pihak independen. Cara ini membantu kita mendapatkan konteks yang lebih luas daripada hanya mengandalkan penjelasan dari satu unggahan.

    "Cari liputan lain. Lakukan 'membaca secara lateral' (lateral reading) dengan membuka tab baru di peramban kamu dan gunakan internet untuk memverifikasi informasi tersebut. Jika berita atau klaim itu tidak diberitakan oleh sumber-sumber tepercaya lainnya, bersikaplah hati-hati," saran mereka.

  4. 4. Malas memeriksa foto, video, dan tanggal informasi

    ilustrasi seseorang sedang bermain media sosial (pexels.com/cottonbro studio)
    ilustrasi seseorang sedang bermain media sosial (pexels.com/cottonbro studio)

    Foto dan video sering dianggap sebagai bukti yang sulit dibantah karena terlihat nyata. Padahal, sebuah gambar bisa diambil dari peristiwa lama, dipotong sehingga menghilangkan konteks, atau digunakan untuk menggambarkan kejadian yang sebenarnya berbeda.

    Teknologi penyuntingan dan kecerdasan buatan juga memungkinkan orang membuat konten visual yang semakin meyakinkan. Karena itu, melihat suatu kejadian dalam bentuk gambar atau video tidak otomatis membuktikan bahwa keterangan yang menyertainya benar.

    Jika menemukan video bencana, foto tokoh publik, atau tangkapan layar yang menghebohkan, periksa kapan dan di mana konten tersebut pertama kali dipublikasikan. Gunakan pencarian gambar terbalik melalui Google Lens atau layanan serupa, lalu cocokkan hasilnya dengan keterangan yang beredar.

    Perhatikan pula apakah video dipotong, apakah ada sumber asli, dan apakah tanggalnya relevan dengan peristiwa yang diklaim. Jangan lupa bahwa gambar asli pun bisa digunakan untuk menyampaikan informasi yang menyesatkan jika konteksnya diubah.

  5. 5. Terlalu cepat bereaksi dan membagikan informasi yang emosional

    ilustrasi bermain media sosial (freepik.com/marymar)
    ilustrasi bermain media sosial (freepik.com/marymar)

    Informasi yang memancing kemarahan, ketakutan, kesedihan, atau kegembiraan berlebihan sering kali membuat kita ingin segera bereaksi. Kita mungkin langsung membagikan unggahan karena merasa perlu memperingatkan orang lain atau ingin menjadi orang pertama yang menyampaikan kabar terbaru.

    Sayangnya, dorongan untuk bereaksi cepat dapat mengalahkan kebiasaan berpikir kritis. Akibatnya, kita berisiko menyebarkan klaim yang belum terbukti hanya karena merasa informasi tersebut penting atau mendesak. Ada baiknya kamu perlu berhenti sejenak ketika pertama kali menemukan informasi dan menyadari respons emosional yang muncul.

    "Tanyakan pada diri sendiri apa yang sebenarnya kamu ketahui tentang klaim tersebut dan sumber yang membagikannya. Untuk saat ini, kesampingkan dulu pertanyaan mengenai benar atau salah. Apakah kaamu benar-benar memahami apa yang sedang kamu lihat? Apakah kamu yakin? Jika hal itu membuat kamu merasa terganggu atau terkejut, mengapa demikian?" jelas Mike Caulfield yang mengingatkan perlu hati-hati sebelum membagikan informasi.

    Jadi, sebelum membagikan informasi, cobalah menerapkan aturan sederhana: berhenti, periksa, bandingkan, lalu putuskan. Tanyakan kepada diri sendiri apakah informasi itu berasal dari sumber yang jelas, apakah ada bukti pendukung, dan apakah membagikannya benar-benar bermanfaat.

    Jika belum bisa memastikan kebenarannya, lebih baik tahan dulu daripada menyesal setelah informasi tersebut terbukti salah. Kita juga bisa mengoreksi unggahan yang keliru dengan cara yang sopan, menyertakan sumber tepercaya, dan tidak mempermalukan orang yang terlanjur mempercayainya.

    Menjadi pengguna internet yang cerdas bukan berarti harus selalu curiga terhadap semua informasi, melainkan mampu membedakan kabar yang memiliki dasar kuat dari klaim yang belum terverifikasi. Dengan membiasakan diri membaca berita secara utuh, memeriksa sumber, membandingkan pemberitaan, menelusuri foto dan video, serta mengendalikan dorongan untuk langsung membagikan sesuatu, kita bisa membangun kebiasaan digital yang lebih sehat.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More