"Nikmati saja prosesnya. Biar bagaimanapun, kita yang bertanggung jawab atas hidup kita. Lagi pula, krisis tidak selamanya buruk. Pastinya juga akan berlalu," kata Rahmatika Kurnia Romadhani, dosen psikologi UNY dikutip dari laman resmi Universitas Negeri Yogyakarta.
Mengapa Gak Semua Orang Harus Terlihat Produktif di Usia 20-an?

Memasuki usia 20-an, rasanya seperti semua orang sedang berlomba mencapai sesuatu. Ada yang sudah mendapatkan pekerjaan impian, membangun bisnis, melanjutkan pendidikan, traveling ke berbagai tempat, atau mulai memiliki penghasilan sendiri. Sementara itu, sebagian lainnya masih berusaha menemukan pekerjaan yang cocok, belajar mengatur keuangan, bahkan belum benar-benar tahu ingin menjalani hidup seperti apa.
Perbedaan perjalanan ini terkadang membuat seseorang merasa tertinggal, seolah-olah ada target tertentu yang harus dicapai sebelum usia 30 tahun. Padahal, kehidupan yang terlihat produktif belum tentu menggambarkan keseluruhan cerita seseorang.
1. Setiap orang memiliki garis waktu kehidupan yang berbeda

Ilustrasi merenung (pexels.com/Photo by Leyla Qəhrəmanova) Tidak semua orang memulai usia 20-an dengan kondisi yang sama. Ada yang mendapatkan dukungan finansial dari keluarga, memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan, atau sudah mengetahui bidang pekerjaan yang ingin ditekuni.
Namun, ada juga yang harus bekerja sambil membantu keluarga, menghadapi keterbatasan ekonomi, atau masih berusaha menemukan kesempatan yang sesuai dengan kemampuan mereka. Perbedaan kondisi tersebut membuat pencapaian setiap orang tidak bisa dibandingkan begitu saja.
Seseorang mungkin sudah memiliki pekerjaan tetap pada usia 22 tahun, sementara orang lain baru mendapatkan kesempatan bekerja setelah melewati berbagai proses. Keduanya tetap memiliki perjalanan yang berarti, meskipun hasilnya terlihat berbeda. Tidak adil jika keberhasilan hanya diukur berdasarkan siapa yang lebih cepat mendapatkan pekerjaan, penghasilan besar, atau jabatan tertentu.
2. Produktif bukan berarti harus selalu sibuk

Ilustrasi sibuk bekerja (pexels.com/Photo by Photo By: Kaboompics.com) Ada anggapan bahwa seseorang yang produktif harus memiliki jadwal padat, mengikuti berbagai kegiatan, mengembangkan keterampilan, dan selalu menghasilkan sesuatu setiap hari. Padahal, kehidupan yang terus dipenuhi aktivitas belum tentu membuat seseorang merasa lebih bahagia atau berkembang.
Terkadang, terlalu banyak kegiatan justru membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan dirinya. Produktivitas juga tidak selalu terlihat dalam bentuk pencapaian besar. Belajar mengatur pengeluaran, menyelesaikan pekerjaan rumah, memperbaiki pola tidur, atau berani mengambil keputusan yang sebelumnya ditakuti merupakan bagian dari proses perkembangan.
Hal-hal tersebut mungkin tidak menarik untuk dipamerkan di media sosial, tetapi bisa memberikan dampak nyata terhadap kehidupan sehari-hari. Ingatlah bahwa setiap orang memiliki waktu yang terbatas dan tidak mungkin menyelesaikan semua hal yang ingin dilakukan.
3. Beristirahat juga bagian dari membangun kehidupan yang sehat

Ilustrasi bersantai (pexels.com/Munis Asadov) Usia 20-an sering dianggap sebagai waktu terbaik untuk bekerja keras, mengejar kesempatan, dan membangun fondasi masa depan. Tidak ada yang salah dengan memiliki ambisi, tetapi ambisi yang terus-menerus membuat seseorang mengabaikan kebutuhan tubuh dan pikirannya juga bisa menjadi masalah.
Ketika setiap waktu luang dianggap sebagai kesempatan yang harus dimanfaatkan untuk bekerja, seseorang bisa merasa bersalah hanya karena ingin beristirahat. Padahal, istirahat bukan berarti kamu kehilangan arah atau tidak memiliki tujuan.
Ada kalanya kamu membutuhkan waktu untuk tidur lebih cukup, menikmati akhir pekan tanpa agenda, bertemu teman, atau melakukan kegiatan yang tidak berkaitan dengan pekerjaan. Aktivitas tersebut dapat membantu memberikan ruang untuk memulihkan energi dan mengurangi tekanan yang muncul akibat rutinitas.
4. Tidak semua pencapaian harus dipamerkan di media sosial

Ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/hoang anh) Salah satu alasan usia 20-an terasa melelahkan adalah kebiasaan melihat kehidupan orang lain sebagai ukuran keberhasilan. Ketika teman sebaya mengunggah pencapaian, seseorang bisa merasa harus segera melakukan sesuatu agar tidak terlihat tertinggal.
Padahal, tidak semua perkembangan dalam kehidupan perlu diumumkan atau mendapatkan pengakuan dari orang lain. Ada pencapaian yang sifatnya sangat personal, seperti mulai berani mengatakan tidak, belajar menghadapi kegagalan, memperbaiki hubungan dengan keluarga, atau berhenti membandingkan diri dengan orang lain.
Perubahan tersebut mungkin tidak menghasilkan foto menarik atau cerita yang bisa dibagikan di media sosial. Namun, bukan berarti proses itu tidak memiliki nilai bagi kehidupanmu. Mengutip Sage Journals tentang A Theory of Social Comparison Processes, psikolog sosial Leon Festinger memperkenalkan teori social comparison atau perbandingan sosial melalui penelitiannya pada 1954.
Dalam teori tersebut, manusia memiliki kecenderungan mengevaluasi dirinya dengan membandingkan kemampuan dan pendapatnya dengan orang lain. Kebiasaan ini dapat membantu seseorang memahami dirinya, tetapi juga bisa membuat penilaian terhadap diri sendiri terlalu bergantung pada pencapaian orang lain.
5. Mengenali diri sendiri lebih penting daripada memenuhi ekspektasi orang lain

Ilustrasi menyendiri minum kopi (pexels.com/Photo by Daniel's Richard) Usia 20-an merupakan masa ketika seseorang mulai membuat banyak keputusan tentang kehidupan. Ada yang harus memilih pekerjaan, menentukan tempat tinggal, membangun hubungan, atau memikirkan arah pendidikan. Dalam proses tersebut, tidak jarang muncul tekanan dari lingkungan yang memiliki gambaran berbeda tentang kehidupan ideal.
Keluarga mungkin berharap kamu segera mendapatkan pekerjaan tetap, sementara teman-teman menganggap memiliki bisnis sendiri sebagai pencapaian yang lebih menarik. Namun, kehidupan yang terlihat sukses bagi orang lain belum tentu sesuai dengan kebutuhanmu.
Kamu mungkin lebih nyaman memiliki pekerjaan dengan waktu yang fleksibel daripada mengejar jabatan tinggi. Bisa juga kamu membutuhkan waktu untuk mencoba beberapa bidang sebelum menemukan pekerjaan yang benar-benar disukai.
Mengenali kebutuhan tersebut membantu kamu membuat keputusan berdasarkan kondisi nyata, bukan sekadar mengikuti ekspektasi lingkungan. Kendra Cherry, MS, spesialis rehabilitasi psikososial dan pendidik psikologi, hal tersebut berkaitan dengan self-determination theory, bahwa motivasi dan kesejahteraan manusia karena berkaitan dengan pemenuhan tiga kebutuhan psikologis dasar, yaitu otonomi, kompetensi, dan keterhubungan.
"Teori determinasi diri (self-determination theory) menyatakan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar akan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan dapat mendorong motivasi serta kesejahteraan. Mendukung rasa memiliki pilihan dan kendali pada diri seseorang dapat meningkatkan motivasi, kesehatan, dan pertumbuhan pribadi," jelasnya dikutip dari Verywell Mind.
"Teori determinasi diri menjelaskan bahwa otonomi, kompetensi, dan keterhubungan merupakan hal yang esensial bagi motivasi dan kesejahteraan. Ini adalah kerangka kerja psikologis yang menyatakan bahwa seseorang akan merasa lebih termotivasi ketika mereka dapat membuat pilihan sendiri," tambahnya.
Pada akhirnya, usia 20-an tidak harus menjadi masa ketika kamu selalu sibuk, mengejar pencapaian, dan membuktikan bahwa hidupmu berjalan lebih baik daripada orang lain. Kamu boleh memiliki ambisi, tetapi kamu juga boleh mengambil jeda, mencoba hal baru, mengubah arah, atau menjalani kehidupan yang sederhana. Keberhasilan bukan hanya tentang seberapa cepat kamu mencapai sesuatu, tetapi juga tentang bagaimana kamu menjalani perjalanan tersebut tanpa kehilangan diri sendiri.






![[MADING] RISE UP, SPEAK OUT!: BE AN UPSTANDER, NOT A BYSTANDER](https://image.idntimes.com/post/20261102/1000609021_b44118d0-dc87-4108-88c8-ca783d604a3e.jpg)















