Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Rekomendasi Buku untuk Sambut Piala Dunia FIFA 2026
Buku Hyperpolitics dan Barbaric Sport (Hyperpolitics karya Anton Jager dan Barbaric Sport karya Marc Perelman/dok. Verso Books)
  • Piala Dunia FIFA 2026 tetap digelar di AS, Kanada, dan Meksiko meski situasi global tak menentu, mencerminkan sikap FIFA yang kerap abai terhadap isu moral dan politik.
  • Lima buku direkomendasikan untuk memahami sisi gelap olahraga: dari hipokrisi politik, kapitalisme dalam olahraga, hingga diskriminasi gender dan dampak psikologis pada atlet.
  • Artikel menyoroti bahwa di balik euforia Piala Dunia, masih ada ketimpangan sosial dan ekonomi yang kontras dengan citra pesta olahraga dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Terlepas dari kemelut keamanan dan ekonomi global, Piala Dunia FIFA 2026 tampaknya bakal tetap digelar pada Juni 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Tidak seperti kasus Rusia beberapa tahun lalu, FIFA bergeming seolah tak mau rugi.

Meski mengganggu, pola ini cukup tertebak. Sejak lama, FIFA memang bukan institusi yang kamu harapkan bisa konsisten soal moral. Mengapa? Jawaban serta berbagai penjelasan lain soal sepak bola dan olahraga lainnya sepertinya bisa kamu temukan dalam lima buku berikut. Cocok dibaca sembari menyambut Piala Dunia 2026, nih!

1. Hyperpolitics (Anton Jager)

Hyperpolitics (Hyperpolitics karya Anton Jager diterbitkan Verso Books)

Sebelum fokus ke sepak bola, kamu bisa baca buku tipis provokatif berjudul Hyperpolitics. Di sini, Anton Jager mencoba membedah betapa hipokritnya kita sebagai manusia modern. Berbagai gerakan politik progresif dengan cepat viral di internet, tetapi nyatanya kerap lenyap begitu saja setelah beberapa waktu.

Jarang dari gerakan itu yang bermanifestasi jadi kebijakan dan aksi konkret, nyatanya, pemimpin-pemimpin terpilih dunia saat ini justru didominasi oleh kelompok konservatif sayap kanan. Argumen Jager cocok untuk menjelaskan bungkamnya FIFA soal kelakuan AS dan Israel di Asia Barat (Timur Tengah) padahal mereka selalu menggaungkan nilai-nilai progresif seperti perdamaian, persatuan, dan antidiskriminasi.

2. One Day, Everyone Will Have Always Been Against This (Omar El Akkad)

One Day, Everyone Will Have Always Been Against This (One Day, Everyone Will Have Always Been Against This karya Omar El Akkad diterbitkan Knopf)

Buku ini tipis, tapi nampol. Omar El Akkad menggarisbawahi hipokrisi Barat, terutama saat merespons genosida di Palestina. El Akkad melakukannya dengan membedah pola yang sudah terjadi selama beberapa tahun terakhir di beberapa negara.

Satu konsep yang disenggol El Akkad dalam buku ini dan cukup mengena untuk menjelaskan hipokrisi tersebut adalah “moral convenience”, yakni penerapan kompas moral yang tebang pilih sesuai kebutuhan, sehingga mengabaikan yang kiranya bisa mengganggu kenyamanan mereka sendiri. Sebagai salah satu bagian dari institusi Barat sekaligus warisan kolonial, FIFA pun punya tendensi serupa yang dapat diamati dengan cukup mudah.

3. Barbaric Sport: A Global Plague (Marc Perelman)

Barbaric Sport (Barbaric Sport karya Marc Perelma diterbitkan Verso Books)

Piala Dunia dan ajang olahraga akbar lainnya, seperti Olimpiade, sering dipotret sebagai pesta rakyat, tetapi bila kamu perhatikan lebih saksama, yang terjadi justru sebaliknya. Dalam buku Barbaric Sport karya Marc Perelman, kamu akan disuguhi fakta-fakta yang bikin tak nyaman. Terutama soal komodifikasi olahraga dan berbagai eksploitasi lain yang dilakukan kapitalis demi profit maksimal. Olahraga dan tetek bengeknya kini lebih dekat dengan elite, korporasi, dan pelanggeng ide-ide kolonial serta konservatif dibanding sebaliknya.

4. Sidelined: Sports, Culture, and Being a Woman in America (Julie DiCaro)

Sidelined (Sidelined karya Julie DiCaro diterbitkan Penguin Random House)

Dalam Sidelined, Julie DiCaro mengupas bagaimana nilai-nilai misogini merasuk dalam olahraga. Paling mudah jelas lewat diskriminasi akses untuk jadi profesional bagi perempuan, basis penggemar yang didominasi pria dan kerap toksik serta mengeksklusifkan diri, sampai objektifikasi terhadap tubuh perempuan yang bekerja di sektor itu.

Semua ia lakukan dan sarikan dari riset dan pengalaman pribadinya sendiri sebagai jurnalis olahraga di Amerika Serikat. Hal ini mungkin diingkari banyak penggemar dan pegiat olahraga, tetapi sebenarnya masih terjadi dan tidak pernah sungguh-sungguh dibenahi.

5. Panenka (Ronan Hession)

Panenka (Panenka karya Ronan Hession diterbitkan Bluemoose Books)

Selain buku-buku nonfiksi, kamu bisa memperkaya diri dengan membaca novel berjudul Panenka. Novel ini pendek, tetapi menampar. Lakonnya mantan pemain sepak bola yang pensiun dini setelah ia dihujat habis-habisan gara-gara gagal mengeksekusi tendangan penalti pada satu pertandingan krusial.

Trauma itu menghancurkan hidupnya perlahan-lahan, dimulai dengan keputusannya untuk mengisolasi diri dari keluarga inti. Novel ini jadi pengingat betapa besarnya dampak psikologis dari bullying, sesuatu yang mirisnya makin mudah kita lakukan terhadap atlet gara-gara fenomena parasosial.

Piala Dunia 2026 memang ajang olahraga yang dikemas penuh suka cita, tetapi jika kita melihat dunia lebih saksama, ia bak sebuah fenomena mengganggu seperti dalam film-film distopia. Di belahan dunia sana, gemuruh stadion menggema, roda ekonomi berputar dengan cepatnya. Di sisi lain, orang harus berjuang keras hanya untuk hidup layak dan damai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team