Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Merugi Waktu atau Rugi Uang, Baiknya Pilih yang Mana?

Merugi Waktu atau Rugi Uang, Baiknya Pilih yang Mana?
ilustrasi naik ojol (unsplash.com/Afif Ramdhasuma)
Intinya Sih
  • Waktu dan uang sama-sama sumber daya, tapi waktu tidak bisa dikembalikan; banyak orang lebih sadar kehilangan uang dibanding kehilangan waktu yang sebenarnya lebih berharga.
  • Bagi yang waktunya terbatas atau bernilai tinggi, memilih rugi uang demi menghemat waktu bisa jadi keputusan logis karena menjaga energi dan produktivitas tetap optimal.
  • Saat keuangan terbatas, rugi waktu demi hemat uang masih wajar; kuncinya adalah kesadaran konteks dan tujuan agar keputusan sesuai prioritas hidup masing-masing.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Pernah dihadapkan pada situasi seperti misalnya kamu mau pergi ke suatu tempat, pilih ojek online yang lebih mahal tapi cepat atau naik angkot yang murah tapi makan waktu dua kali lipat? Bisa juga saat kamu ingin belajar skill baru, kamu bingung antara membeli kursus berbayar yang langsung to the point dan mencari tutorial gratis yang butuh waktu berjam-jam untuk menemukannya?

Dua pilihan itu akan selalu muncul di kehidupan sehari-hari tanpa kita minta. Kalau kamu ternyata hanya bisa memilih satu, lebih baik pilih yang mana? Apakah merugi waktu atau rugi uang? Simak beberapa sudut pandang berikut yang bisa membantu kamu menemukan jawabannya!

1. Waktu dan uang itu sama-sama sumber daya, tapi cara kerjanya berbeda

ilustrasi scrolling media sosial
ilustrasi scrolling media sosial (unsplash.com/Priscilla Du Preez 🇨🇦)

Waktu dan uang sering diperlakukan seolah setara. Padahal keduanya punya sifat yang sangat berbeda dalam kehidupan nyata. Uang bisa dicari lagi. Kalau bulan ini pengeluaran membengkak, bulan depan masih bisa menabung atau mencari penghasilan tambahan. Tapi waktu yang sudah lewat tidak bisa dikembalikan dengan cara apa pun. Satu jam yang terbuang untuk hal yang tidak produktif jelas akan hilang selamanya.

Masalahnya, kebanyakan orang lebih mudah merasakan sakit saat kehilangan uang dibandingkan dengan kehilangan waktu. Bayar parkir Rp10 ribu yang dirasa kemahalan bisa bikin kesal seharian. Tapi menonton konten receh di medsos selama 2 jam? Banyak yang sering tidak terasa rugi waktu sama sekali. Padahal kalau dihitung, 2 jam itu bisa dipakai untuk hal yang dampaknya jauh lebih besar dalam jangka panjang, sebab di sinilah letak jebakannya.

2. Orang yang waktunya terbatas lebih baik pilih rugi uang

ilustrasi mengantar barang
ilustrasi mengantar barang (unsplash.com/DoorDash)

Ada kondisi di mana rugi uang jauh lebih masuk akal dibandingkan dengan rugi waktu. Misalnya, seseorang yang bekerja sebagai freelancer atau memiliki usaha sendiri. Setiap jam yang dipakai untuk bekerja punya nilai rupiah yang bisa dihitung. Kalau bisa membayar seseorang Rp50 ribu untuk mengantar barang, sementara waktu itu bisa digunakan untuk mendapatkan klien baru senilai Rp500 ribu, maka keputusan itu sangat logis secara finansial.

Contoh lain yang lebih dekat, misalnya daripada memasak sendiri yang butuh waktu satu setengah jam mulai dari belanja sampai cuci piring, memesan makanan dari luar dan memakai waktu itu untuk istirahat atau menyelesaikan pekerjaan adalah pilihan yang masuk akal. Uang keluar sedikit lebih banyak, tapi energi dan waktu tetap terjaga. Keputusan seperti itu bukan pemborosan, tapi namanya mengalokasikan sumber daya dengan sadar.

3. Kalau kondisi keuangan sedang terbatas, rugi waktu dulu tidak masalah

ilustrasi kerja part time
ilustrasi kerja part time (unsplash.com/Chloe Leis)

Di sisi lain, tidak semua orang punya kemewahan untuk selalu memilih waktu. Ketika kondisi finansial belum stabil, menukar waktu dengan uang adalah hal yang wajar dan perlu dilakukan. Mahasiswa yang bekerja sambil kuliah, orang yang baru memulai karier, atau yang sedang dalam masa transisi finansial, mereka berada di fase di mana waktu memang harus diinvestasikan lebih banyak demi hasil yang lebih besar di masa depan.

Hal terpenting di sini adalah kesadaran. Rugi waktu demi uang itu oke kalau ada tujuan yang jelas di ujungnya dan dipahami sebagai pilihan sementara. Hal yang berbahaya adalah ketika seseorang terus-terusan menukar waktu dengan uang tanpa pernah keluar dari lingkaran tersebut. Karena kalau waktu habis terus, tidak akan ada ruang untuk bertumbuh, belajar, atau sekadar berpikir lebih jernih soal arah hidup sendiri.

4. Uang bisa membeli waktu, tapi tidak bisa menggantikan segalanya

ilustrasi asisten rumah tangga
ilustrasi asisten rumah tangga (unsplash.com/Josue Michel)

Ada konsep sederhana yang sering diabaikan, apalagi kalau bukan uang itu alat, bukan tujuan. Fungsi terbesar uang sebenarnya adalah untuk membeli kembali waktu yang seharusnya tidak perlu dihabiskan untuk hal-hal kecil. Menyewa asisten rumah tangga supaya ada waktu untuk quality time bersama keluarga. Membeli alat yang lebih baik supaya pekerjaan selesai lebih cepat.

Bisa juga saat kamu memilih untuk membayar lebih untuk layanan yang tidak mengharuskan antre berjam-jam. Tapi ada satu hal yang bahkan uang pun tidak bisa membelinya kembali, yakni momen. Waktu yang terlewat bersama orang tua yang sudah menua, anak yang masih kecil, atau teman lama yang jarang bertemu, itu tidak bisa dibayar dengan nominal berapa pun.

5. Cara sederhana untuk memutuskan dua pilihan ini di kehidupan sehari-hari

ilustrasi naik ojol
ilustrasi naik ojol (unsplash.com/Paul Hanaoka)

Supaya tidak bingung setiap kali dihadapkan pada dua pilihan ini, ada cara sederhana yang bisa dijadikan pegangan. Tanyakan terlebih dahulu apakah waktu yang akan dihemat ini bisa dipakai untuk sesuatu yang bernilai lebih tinggi? Kalau iya, membayar lebih untuk menghemat waktu adalah keputusan yang cerdas. Kalau waktu yang dihemat itu ujung-ujungnya hanya dipakai untuk hal yang tidak produktif, maka rugi waktu demi menghemat uang justru lebih logis.

Selain itu, perhatikan juga konteksnya. Kalau keputusan itu menyangkut hal yang terjadi secara rutin setiap hari, dampaknya akan berlipat dalam setahun. Misalnya, perjalanan sehari-hari yang menghabiskan waktu lebih dari 2 jam. Kalau bisa dipotong menjadi 1 jam dengan ongkos lebih mahal, dalam setahun sudah terhemat lebih dari 300 jam. Itu setara dengan hampir 2 minggu penuh yang bisa dipakai untuk hal lain. Keputusan kecil yang kelihatannya sepele, ternyata punya konsekuensi jangka panjang yang jauh lebih besar dari yang dibayangkan.

Pilihan antara merugi waktu atau rugi uang tidak punya jawaban yang berlaku sama untuk semua orang. Tapi satu hal yang pasti, semakin seseorang sadar betapa terbatasnya waktu yang dimiliki, semakin mudah membuat keputusan yang benar-benar sesuai dengan kondisi dan prioritas hidupnya. Jadi, sebelum memilih, tanya dulu mana yang paling kamu perlukan saat itu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo

Related Articles

See More