Comscore Tracker

Kisah Nabi Nuh, Bahtera, dan Air Bah yang Menenggelamkan Dunia

Banjir besar tersebut merupakan azab untuk kaum Nabi Nuh

Di setiap tetes hujan, terdapat rahmat Allah di dalamnya. Dengan air yang turun dari langit tersebut, hiduplah semua tumbuh-tumbuhan yang lantas menyokong kehidupan di bumi. Akan tetapi, ini tidak berlaku bagi kaumnya Nabi Nuh.

Nabi Nuh AS merupakan nabi dan rasul utusan Allah yang datang setelah Nabi Idris AS. Dirinya diutus untuk memperingatkan kaumnya yang telah mempersekutukan Allah SWT. Akan tetapi, mereka enggan percaya dan malah mendustakan Nabi Nuh.

Sikap mereka yang sombong tersebut tentu mendatangkan murka Allah sehingga ditimpakanlah mereka azab berupa bencana banjir yang dahsyat. Selengkapnya, berikut IDN Times rangkum kisah Nabi Nuh, bahtera, dan air bah yang menenggelamkan dunia.

1. Keturunan kesembilan Nabi Adam AS yang hidup hingga lebih dari 1.000 tahun

Kisah Nabi Nuh, Bahtera, dan Air Bah yang Menenggelamkan Duniailustrasi Al-Qur'an (unsplash.com/Anis Coquelet)

Nabi Nuh AS merupakan salah satu dari 25 nama nabi yang wajib diimani umat Islam. Dari berbagai riwayat, disebutkan bahwa Nabi Nuh dan kaumnya hidup 6.000 tahun lalu atau sekitar 4.000 SM di lembah Efrat dan Tigris. Daerah tersebut dikelilingi gunung-gunung tinggi dengan mata air yang mengalir ke lembah tersebut.

Berdasarkan literatur sejarah, "Nuh" sebenarnya adalah sebuah julukan. Nama asli Nabi Nuh adalah 'Abdul Ghaffar atau Yasykur. Julukan tersebut disematkan kepadanya lantaran dirinya yang sering meratap alias menangis.

Diriwayatkan oleh As-Sa'di atau As-Si'di dari Al-Kisa'i, dikatakan bahwa Nabi Nuh menjadi sering menangis setelah menghina seekor anjing yang memiliki empat mata kudisan. Kepada 'Abdul Ghaffar (Nuh), anjing itu lantas berkata,

"Hai 'Abdul Ghaffar, apakah engkau menghina ciptaan ataukah engkau menghina Pencipta? Seandainya hinaan itu ditujukan kepada ciptaan, seandainya urusannya ada padaku, tentu aku tidak akan memilih menjadi anjing; dan seandainya hinaan itu ditujukan kepada Pencipta, maka sebetulnya Dia tidak berhak mendapat hinaan. Sebab, Dia mengerjakan sekehendak-Nya."

Mendengar itu, 'Abdul Ghaffar merasa berdosa dan kerap meratapi kesalahannya tersebut. Sementara itu, merujuk Makna Kisah Nuh AS dalam Al-Qur'an (Persepektif Hermeneutika Filosofis) oleh Rusydi (2017) dalam Al-Banjari, 'Abdul Ghaffar dijuluki "Nuh" karena dirinya adalah orang yang mudah terharu sampai-sampai ketika mengucapkan syukur kepada Tuhannya, ia kerap menangis. Wallahu a'lam bishawab.

Terlepas dari itu, Nabi Nuh AS merupakan anak dari Lamik (Lamaka) bin Mutawasylah bin Akhnukh (Idris AS). Artinya, Nabi Nuh merupakan keturunan ketiga dari Nabi Idris AS dan kesembilan dari Nabi Adam AS.

Dalam Al-Qur'an, nama Nuh disebutkan sebanyak 43 kali dengan satu surah secara khusus diberi nama setelah dirinya, yakni surah ke-71, Surah Nuh.

Perlu diketahui pula, Nabi Nuh AS memiliki umur yang sangat panjang. Menurut Ibnu Abbas RA, ia hidup hingga usianya melebihi 1 milenium, yakni  kurang lebih 1.050 tahun. Umur yang panjang tersebut lantas menjadi salah satu mukjizat yang diberikan Allah SWT kepadanya.

2. Merupakan rasul ulul 'azmi pertama yang diutus untuk kaum penyembah berhala

Kisah Nabi Nuh, Bahtera, dan Air Bah yang Menenggelamkan Duniailustrasi Nabi Nuh dan bahteranya (pixabay.com/jeffjacobs1990)

Ada berbagai pendapat mengenai kapan Nabi Nuh AS diangkat menjadi seorang rasul. Menurut keterangan Wahab bin Munabbih, pengutusannya terjadi ketika Nabi Nuh berusia 480 tahun. Disebutkan bahwa Malaikat Jibril menghampiri Nabi Nuh dalam wujud laki-laki rupawan.

Nabi Nuh AS menanyakan siapakah dirinya. Malaikat Jibril pun menjawab bahwa ia adalah utusan Allah SWT yang bertugas untuk membawa risalah kepada Nuh, yakni bahwa Nuh diutus untuk mendakwahi kaumnya yang membangkang.

Bersamaan dengan pesan tersebut, dijelaskan pula bahwa Malaikat Jibril memakaikan Nabi Nuh dengan pakaian mujahidin, mengalungkannya dengan serban pertolongan, dan memberinya pedang keteguhan.

Berbeda dengan Ibnu Abbas, ia meriwayatkan bahwa Nabi Nuh menjadi rasul saat umurnya menginjak 40 tahun. Sementara itu, Al-Thabari mengatakan bahwa di umur 350 tahunlah, Allah mengutus Nuh AS sebagai rasul untuk kaumnya. Wallahu a'lam.

Namun yang pasti, Nabi Nuh AS diutus untuk membawa peringatan kepada kaumnya. Hal ini seperti yang tertuang dalam Surah Nuh ayat 1. Allah SWT berfirman,

"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan), 'Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih,'" (QS. Nuh, [71]:1).

Sejak hari itu, misi dakwah Nabi Nuh kepada kaumnya yang menyembah berhala pun dimulai. Oleh kaum Nabi Nuh, ada lima buah berhala yang mereka sembah. Kelimanya diberi nama Wadd, Suwa, Yaghus, Yauq, dan Nasr.

"Dan mereka berkata, 'Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr.'" (QS. Nuh, [71]:23).

Berdasarkan Rusydi (2017), patung-patung tersebut memiliki rupa yang berbeda-beda, di mana

  • Wadd berwujud laki-laki yang dianggap sebagai dewa keperkasaan;
  • Suwa berwujud perempuan yang menjadi simbol kecantikan atau kelembutan;
  • Yaghus digambarkan sebagai seekor singa yang menjadi simbol kekuatan dan diyakini mampu menolong seseorang dari kesulitan;
  • Yauq berbentuk kuda yang menjadi simbol kecepatan untuk perjalanan dan peperangan; serta
  • Nasr berwujud elang yang dipercaya mampu memperpanjang umur dan bertugas "mencuri" berita dari langit.

Padahal, kelima nama tersebut dulunya adalah orang-orang saleh. Mereka hidup dalam ketaatan kepada Allah SWT. Akan tetapi, generasi berikutnya membangkang dan malah menyembah mereka dalam wujud berhala.

Untuk itulah Nabi Nuh datang membawa ajaran tauhid supaya mereka kembali mengesakan dan beribadah kepada Allah SWT. Namun, perjalanan dakwahnya tidaklah mudah.

Nabi kerap menerima ejekan hingga cacian dari kaumnya sendiri. Bukan hanya itu, masa dakwahnya pun tidak tergolong singkat, yakni selama 950 tahun. Meskipun sangat berat, Nabi Nuh AS senantiasa bersabar sembari memohon pertolongan Allah SWT. Itulah mengapa ia dijuluki sebagai rasul ulul 'azmi, yaitu utusan yang memiliki ketabahan dan kesabaran yang luar biasa.

Baca Juga: Kisah Nabi Ismail serta Sejarah Idul Adha dan Kemunculan Air Zamzam

3. Berhala yang disembah sebenarnya dulu adalah orang-orang saleh

Kisah Nabi Nuh, Bahtera, dan Air Bah yang Menenggelamkan Duniailustrasi patung (stocksnap.io/Bob Richards)

Tahukah kamu? Patung-patung yang menjadi objek persembahan oleh kaum Nabi Nuh sebenarnya dahulu adalah orang-orang saleh. Dijelaskan dalam Rusydi (2017), lima berhala yang mereka panggil Wadd, Suwa, Yaghus, Yauq, dan Nasr adalah murid-murid Nabi Idris AS—literatur lain hanya menyebut mereka sebagai keturunan Nabi Adam.

Kelima orang tersebut ditunjuk oleh Nabi Idris agar meneruskan ajarannya (agama Allah) apabila dirinya sudah tiada. Setelah kepergian Nabi Idris, mereka menjalankan amanah tersebut dengan baik. Bahkan, masyarakat menyukai dakwah mereka karena mampu disesuaikan dengan orang-orang setempat.

Sampailah pada akhirnya, orang-orang saleh tersebut meninggal. Para pengikutnya pun bersedih karena telah kehilangan sosok guru yang telah menuntun mereka mempelajari agama Allah. Merujuk kanal YouTube ferry channel, kondisi tersebut lantas dimanfaatkan oleh setan.

Dalam wujudnya sebagai manusia, setan kemudian menyeru kepada pengikut-pengikut lima orang saleh tersebut dan mempertanyakan sikap mereka yang seolah melupakan begitu saja guru-guru mereka. Setan lantas menghasut mereka untuk membuatkan replika kelima orang saleh tersebut. Untuk apa?

Tujuannya adalah untuk mengenang tokoh-tokoh beriman tersebut. Selain itu, setan berdalih, dengan melihati patung orang-orang beriman, itu akan membantu menghidupkan kembali semangat beribadah di saat diri dilanda futur (melemahnya iman).

Jika didengar-dengar, alasan tersebut sangat masuk akal. Alhasil, orang-orang pun menuruti perintah setan dan membuat patung-patung yang mereka taruh di majelis.

Mulanya, tujuan pembuatan patung tersebut terkesan baik. Akan tetapi, itu berubah seiring berjalannya waktu. Yang awalnya hanya untuk membantu menghilangkan futur, lama-kelamaan objek tersebut malah menjadi sesembahan di generasi-generasi berikutnya.

Perlahan tapi pasti, setan telah berhasil mampu menyesatkan manusia dengan tipu dayanya yang begitu licik. Maka dari itu, kepada kaumnya yang dipimpin oleh Duramsyil bin Fumail bin Jaij bin Qabil bin Adam, seorang raja zalim yang pertama kali menciptakan minuman anggur dan memainkan undian, Nabi Nuh menjadi pembawa peringatan agar mereka segera bertobat dan meninggalkan perbuatan syirik yang telah mereka kerjakan.

4. Dikatai orang sakit jiwa dan pendusta ketika berdakwah

Kisah Nabi Nuh, Bahtera, dan Air Bah yang Menenggelamkan Duniailustrasi Al-Qur'an (pexels.com/GR Stocks)

Seperti yang disinggung di bagian sebelumnya, Nabi Nuh AS membawakan ajaran tauhid yang menekankan tentang keesaan Allah SWT. Dalam Surah Al-A'raf ayat 59, Nabi Nuh berseru,

"Wahai kaumku, sembahlah Allah. Sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat)." (QS. Al-A'raf, [7]: 59).

Sayangnya, seruan tersebut tak diindahkan oleh kaumnya. Dalam Surat Hud ayat 27, pemimpin kafir dari kaum Nabi Nuh berkata,

"Kami tidak melihat kamu (Nuh), melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina-dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta." (QS. Hud, [11]:27).

Jika merujuk pada Rusydi (2017), sebenarnya sudah ada perkembangan pemikiran pada manusia-manusia yang hidup di zaman Nabi Nuh untuk memahami sifat-sifat Tuhan. Akan tetapi, pemikiran mereka masih tergolong sederhana.

Dalam pikiran mereka, wahyu ataupun peringatan dari Tuhan harusnya disampaikan oleh malaikat atau semacamnya, bukan manusia (QS. Al-Mu'minun, [23]:24). Itulah mengapa orang-orang kafir menghiraukan pesan Nabi Nuh.

Penolakan yang dilakukan oleh orang-orang kafir tersebut bukan sebatas keengganan saja. Setiap bantahan kerap mereka bubuhi dengan hinaan dan cercaan kepada Nabi beserta para pengikutnya.

Seperti pada ayat ke-27 Surat Hud di atas, pengikut Nabi Nuh dikatakan sebagai orang yang hina-dina. Berdasarkan Rusydi (2017), kaumnya Nabi Nuh memiliki sistem kelas yang didasarkan pada kekayaan dan status sosial.

Golongan pertama diisi oleh orang-orang kaya, para pemimpin kaum, hingga pemuka agama. Sementara itu, golongan kedua diisi oleh rakyat miskin yang tidak memiliki status sosial dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang beriman yang menjadi pengikut Nabi Nuh.

Oleh golongan pertama, masyarakat ke bawah tersebut dipandang sebelah mata. Mereka sering menghina, menindas, hingga meminta Nabi Nuh untuk mengusir orang-orang miskin tersebut. Lebih parahnya lagi, orang-orang kafir tersebut enggan menuruti perintah Nabi hanya karena semua pengikutnya berasal dari golongan kedua.

Kaum Nabi Nuh berkata, "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?"

Nabi lantas menjawab, "Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman!"

(QS. Asy-Syu'ara, [26]:111–114).

Kaum Nabi Nuh juga tak segan menjuluki rasul yang diutus kepada mereka sebagai pendusta dan orang yang kurang akal (QS. Al-A'raf, [7]:66) serta berpenyakit gila (QS. Al-Mu'minun, [23]:25). Bahkan, karena bosan dan geram dengan dakwah Nabi Nuh, mereka sampai mengancam ingin merajam Nabi. Naudzubillah min dzalik.

"Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti, hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.'" (QS. Asy-Syu'ara, [26]:116).

5. Segala macam dakwah telah dicoba Nabi Nuh, tapi tetap gagal membuka pintu hati kaumnya

Kisah Nabi Nuh, Bahtera, dan Air Bah yang Menenggelamkan Duniailustrasi Al-Qur'an (pixabay.com/shzern)

Menasihati orang yang susah diberitahu tentu melelahkan. Namun, dengan kesabarannya yang sangat tinggi, Nabi Nuh AS tak berhenti mendakwahi kaumnya untuk kembali ke jalan yang lurus.

Segala macam dakwah telah dicoba Nabi, mulai dari dakwah secara terang-terangan hingga sembunyi-sembunyi. Mungkin, cara seperti itu terkesan terlalu mendikte. Untuk itu, Nabi Nuh beralih metode dengan mengajak kaumnya untuk "berdiskusi" dan berpikir bahwa sekeliling mereka itu ada karena Allah SWT.

Hal tersebut seperti yang tertuang dalam Surat Nuh ayat 13–20. Nabi Nuh AS berkata,

"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal, Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (dari padanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu." (QS. Nuh, [71]:13–20).

Lagi-lagi, mereka masih enggan mendengarkan. Dakwah selama 950 tahun tersebut hanya mampu menggaet 80 orang saja, bahkan hanya 40 orang menurut riwayat lain. Sementara itu, Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim mengatakan bahwa pengikut Nabi Nuh bukan berjumlah 80 orang, melainkan 80 keluarga.

Sedikitnya jumlah pengikut Nabi Nuh mungkin terjadi karena Allah SWT memang sudah menutup pintu hati kaumnya yang membangkang. Namun, tidak menutup kemungkinan itu semua karena orang-orang kafir yang mengajak sesamanya untuk tidak mengindahkan dakwah Nabi Nuh.

Dari kanal YouTube ferry channel, disebutkan bahwa kaum Nabi Nuh bukan hanya mewasiatkan harta kepada cucu-cucu mereka, tapi juga pesan supaya keturunan mereka tidak ada yang mengikuti ajaran Nuh. Subhanallah.

Jangan pula dikira penolakan hanya berasal dari kaumnya saja. Istri dan salah satu putranya, yaitu Kan'an (nama lainnya adalah Yam), juga tidak mengimani kerasulan Nabi Nuh.

Dengan semua cercaan dan penolakan itu, Nabi Nuh hanya bisa bersabar seraya berdoa. Dalam Surat Nuh ayat 5–7, Nabi "curhat" kepada Allah SWT,

"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat." (QS. Nuh, [71]:5–7).

Baca Juga: 5 Pelajaran dari Kisah Nabi Nuh yang Bisa Diterapkan di Kehidupan

6. Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat sebuah bahtera

Kisah Nabi Nuh, Bahtera, dan Air Bah yang Menenggelamkan Duniailustrasi bahtera Nabi Nuh (pixabay.com/neufal54)

Peringatan demi peringatan telah didustakan oleh kaum Nabi Nuh. Padahal, Nabi sama sekali tidak meminta upah ataupun imbalan sedikit pun jikalau mereka memutuskan untuk beriman ataupun berpaling dari peringatannya.

Begitu pula dengan Allah SWT yang masih begitu baik menangguhkan waktu sekiranya mereka masih berkeinginan untuk bertobat. Namun, kasih sayang Allah malah dibalas dengan air tuba oleh kaum Nabi Nuh. Malahan, mereka meminta supaya disegerakan azab yang diancamkan oleh Nabi.

"Mereka berkata, 'Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami. Maka, datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar." (QS. Hud, [11]:32).

Sedikit mereka ketahui bahwa apabila ketetapan Allah sudah berlaku, maka perkara tersebut sama sekali tidak dapat ditarik kembali. Dengan ini, yang orang-orang kafir tersebut mintakan pun dikabulkan oleh Allah.

Setelah berdakwah selama 950 tahun, Nabi Nuh kemudian diperintahkan oleh Allah untuk membuat sebuah bahtera dan diminta agar tidak ambil pusing dengan mereka yang enggan beriman. Karena sejatinya, mereka semua kelak akan ditenggelamkan (QS. Hud, [11]:36–37).

Proses pembuatan bahtera pun dimulai. Jangan kira batang-batang kayu yang akan menjadi material sudah disediakan. Nyatanya, Nabi Nuh benar-benar harus memulai dari nol, yakni dengan menanam pohon terlebih dahulu.

Pohon yang ditanam tersebut pun bukan langsung tumbuh dalam semalam. Berdasarkan kitab Albidayah Wan Nihayah oleh Ibnu Katsir, butuh waktu 40–80 tahun menunggu pepohonan tersebut tumbuh menjadi besar. Setelah besar, barulah pohon-pohon tersebut ditebang.

Dalam Surat Hud ayat 37, dijelaskan bahwa pembuatan bahtera berada dalam pengawasan dan petunjuk wahyu Allah SWT. Nah, menurut ahli tafsir, wahyu di situ merujuk pada para malaikat Allah. Dalam hal ini, Nabi Nuh beserta pengikutnya memperoleh bantuan dari malaikat dalam membangun kapal kolosal tersebut.

7. Bahtera diisi oleh Nabi Nuh dan keluarga, orang-orang beriman, serta binatang-binatang

Kisah Nabi Nuh, Bahtera, dan Air Bah yang Menenggelamkan Duniailustrasi bahtera Nabi Nuh (publicdomainpictures.net/Dawn Hudson)

Diriwayatkan Ibnu Katsir dalam Qashash Al-Anbiya, Nabi Nuh membangun bahtera jauh dari pemukiman warga. Alih-alih di dekat laut, Ibnu Abbas merincikan, kapal tersebut dibuat di area pegunungan, yakni Gunung Nudh yang diyakini sejarawan berada di Sri Lanka.

Orang-orang kafir yang mengetahui hal tersebut tentu tidak tinggal diam. Mereka mengejek dan mengolok-olok Nabi Nuh beserta pengikutnya. Mereka meledek Nuh yang dulu mengaku sebagai utusan Tuhan sekarang beralih profesi sebagai tukang kayu.

Nabi Nuh tetap tenang dan hanya tersenyum. Ejekan mereka dijawabnya dengan,

"Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal." (QS. Hud, [11]:38–39).

Singkat cerita, selesailah pengerjaan bahtera tersebut. Tak berapa lama setelah itu, tanda-tanda akan terjadinya air bah pun muncul. Disebutkan dalam Surat Hud ayat 40, tanda tersebut berupa keluarnya air dari tanur alias perapian.

Ada yang memaknai kata "tanur" secara harfiah, yaitu tungku perapian di dapur milik Nabi Nuh. Namun, ahli tafsir mengartikan "tanur" pada ayat tersebut lebih luas, yaitu merujuk pada seluruh lubang yang ada di bumi meliputi sumur hingga mata air.

Tatkala semua lubang tersebut mulai memancarkan air, Allah SWT memerintahkan Nabi Nuh untuk mengisi bahtera yang telah ia buat. Dalam Surat Hud ayat 40, Allah SWT berfirman,

"Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya, dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman." (QS. Hud, [11]:40).

Masuklah seluruh hewan, baik yang jinak maupun buas, ke dalam bahtera. Berdasarkan kanal YouTube ferry channel, bahtera Nabi Nuh terbagi atas tiga tingkatan. Yang paling bawah diisi oleh binatang-binatang buas, bagian diisi hewan-hewan jinak, sedangkan yang paling atas akan dipenuhi oleh kawanan burung.

Mungkin kita bertanya-tanya, bagaimana bisa hewan buas berbaur dengan hewan yang lebih jinak? Dari referensi yang penulis temukan, itu karena Allah telah menundukkan kepala para hewan buas sehingga nalurinya hilang untuk sementara waktu.

Alasan lain adalah, sekalipun tidak berakal, binatang merupakan makhluk Allah dan mereka sejatinya tetap takut pada Sang Pencipta. Di saat bencana air bah terjadi, mereka tahu bahwa Allah sedang murka sehingga tidak memicu huru-hara di dalam bahtera Nabi Nuh. Wallahu a'lam.

Tak lupa pula Nabi Nuh memberitahu semua orang agar senantiasa menyebut nama Allah (berzikir) di saat kapal tersebut berlayar hingga berlabuh nantinya. Hal ini seperti yang telah diceritakan dalam Surah Al-Mu'minun ayat 28 dan 29 di mana Allah SWT berfirman,

"Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah, 'Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim.' Dan berdoalah, 'Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat.'" (QS. Al-Mu'minun, [23]:28–29).

8. Bencana air bah terbesar yang pernah ada sebagai azab untuk kaum Nabi Nuh

Kisah Nabi Nuh, Bahtera, dan Air Bah yang Menenggelamkan Duniailustrasi bencana air bah di masa Nabi Nuh (pixabay.com/pixundfertig)

Bukan hanya dari bumi, air juga diturunkan dari langit. Hujan yang terjadi bukan seperti hujan rintik-rintik yang selama ini kita alami. Pada saat itu, langit menumpahkan air layaknya mata air yang memancar dengan begitu deras dan tanpa henti. Alhasil, bumi pun mulai digenangi oleh air.

Bahtera Nabi Nuh yang besar dibawa oleh gelombang yang tak kalah besar. Disebutkan dalam Surat Hud ayat 42, gelombang air tersebut memiliki ukuran sebesar gunung! Dengan gelombang sebesar itu, tentu tidak akan ada manusia yang bisa selamat.

Lewat bencana air bah tersebut, Nabi Nuh memohon kepada Allah agar memusnahkan seluruh kaumnya yang membangkang. Dan memang benar, Allah SWT sama sekali tidak menyisakan satu orang pun dari kalangan orang-orang yang telah mendustakan Nabi.

"Nuh berkata, 'Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya, jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir." (QS. Nuh, [71]:26–27).

Baca Juga: 6 Peran Nabi Muhammad dalam Kehidupan yang Wajib Jadi Panutan

9. Nabi Nuh dan putranya yang dipisahkan untuk selamanya oleh sapuan ombak dahsyat

Kisah Nabi Nuh, Bahtera, dan Air Bah yang Menenggelamkan Duniailustrasi bahtera Nabi Nuh (pixabay.com/hanyalashkar)

Di sela-sela bencana banjir, Nabi Nuh melihat putranya, Kan'an, di sebuah tempat terpencil. Sebagai seorang ayah, Nabi tentu sangat menginginkan anaknya itu tetap selamat sekalipun sebelumnya ia membangkang. Percakapan keduanya terekam dalam Surat Hud ayat 42 dan 43:

Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”.

Anaknya menjawab, "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!"

Nuh berkata, "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang."

(QS. Hud, [11]:42–43).

Padahal, niat sang ayah sudah sangat baik. Akan tetapi, Allah telah menutup pintu hati Kan'an. Dirinya malah lebih percaya kepada gunung ketimbang Allah SWT.

Akhirnya, di sela-sela pembicaraan tersebut, tiba-tiba gelombang besar menerjang. Gelombang tersebut lantas memisahkan Nabi Nuh dan Kan'an serta menjadikan putranya sebagai salah satu orang yang ditenggelamkan oleh Allah.

Menyaksikan secara langsung anaknya yang tenggelam ditelan ombak, Nabi Nuh langsung mengadu kepada Allah SWT,

"Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya." (QS. Hud, [11]:45).

Pada ayat tersebut, Nabi menagih janji Allah yang akan menyelamatkan seluruh anggota keluarganya. Akan tetapi, di ayat berikutnya, Allah SWT dengan tegas menjawab,

"Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya (adalah) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan." (QS. Hud, [11]:46).

Ayat ke-46 dari Surat Hud di atas sekaligus menjadi teguran kepada Nabi Nuh agar tidak sembarangan memintakan sesuatu. Oleh karena itu, Nabi langsung tersadar dan memohon ampun kepada Tuhannya. Ia berkata,


Rabbi innii a'udzu bika an asalaka maa laisa lii bihii iilm, wa illaa taghfir lii wa tar-ḥamnii akum minal-khaasiriin

Artinya: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Hud, [11]:47).

Untuk istri Nabi Nuh sendiri, tidak terdapat ayat Al-Qur'an yang menjelaskan nasibnya ketika bencana banjir melanda. Namun, bisa dipastikan bahwa ia juga tenggelam bersama orang-orang zalim lantaran dirinya yang telah mendurhakai suaminya sendiri.

"Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing). Maka, suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah dan dikatakan (kepada keduanya), 'Masuklah ke dalam Jahanam bersama orang-orang yang masuk (Jahanam).'" (QS. At-Tahrim, [66]:10).

10. Setelah 150 hari, air surut dan kehidupan baru pun dimulai kembali

Kisah Nabi Nuh, Bahtera, dan Air Bah yang Menenggelamkan Dunialukisan bencana air bah di masa Nabi Nuh (pixabay.com/beauty_of_nature)

Diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim, bencana banjir terjadi selama 150 hari atau kurang lebih 5 bulan. Barulah setelah itu, Allah memerintahkan langit untuk menghentikan hujannya dan bumi untuk menelan air yang menggenanginya.

Air pun menjadi surut. Dalam Surat Hud ayat 44, disebutkan bahwa bahtera Nabi Nuh mendarat di sebuah bukit bernama Al-Judi, tetapi ada pula yang mengatakan Gunung Ararat.

Terlepas dari itu, keluarlah Nabi Nuh, ketiga putranya, para pengikutnya, beserta hewan-hewan yang diangkut dari bahtera. Hanya merekalah manusia yang selamat dari bencana air bah tersebut.

Dari orang yang tersisa, hanya tiga putra Nabi Nuh—Sam, Ham, dan Yafet—saja yang menghasilkan keturunan. Untuk pengikut Nabi yang beriman sendiri, mereka wafat tanpa dikaruniai seorang anak pun. Jadi, seluruh manusia yang ada saat ini sebenarnya adalah keturunan Nabi Nuh AS.

Lebih jelasnya, Sam merupakan bapaknya bangsa arab. Darinya, lahirlah manusia ras semit dengan ciri kulit berwarna putih. Bukan hanya itu, keturunan Sam juga banyak yang menjadi nabi dan rasul, seperti Nabi Ibrahim, Isa, hingga Muhammad.

Untuk Ham, keturunannya dicirikan dengan kulit yang berwarna gelap (hitam). Darinyalah muncul bangsa Afrika yang kebanyakan menjadi abdi raja. Namun, salah satu keturunan Ham, yakni Kush, didoakan Nabi Nuh menjadi raja.

Terakhir, dari Yafet, akan lahir keturunan raja-raja dengan ciri kulit merah dan cokelat. Silsilah inilah yang menjadi nenek moyang dari bangsa Romawi dan sebagian besar bangsa di Eropa.

Nah, itulah tadi kisah lengkap tentang perjalanan dakwah Nabi Nuh untuk kaumnya. Dari cerita tersebut, bisa kita lihat bahwa betapa berharganya hidayah dari Allah SWT.

Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk memohon kepada Allah agar hatinya senantiasa dibukakan untuk menerima hidayah. Semoga artikel tadi bermanfaat dan jangan lupa share ke teman dan keluarga, ya!

Baca Juga: Kisah Nabi Zakaria serta Mukjizatnya, Dikaruniai Anak di Usia Senja

Topic:

  • Bella Manoban
  • Febriyanti Revitasari
  • Langgeng Irma Salugiasih

Berita Terkini Lainnya