Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Hal tentang Moral Licensing, Jebakan Nakal yang Gak Disadari
ilustrasi moral licensing membuatmu merasa 'halal' berbuat nakal (pexels.com/Phat Doan)

Guys, kamu mungkin pernah ingin melakukan sedikit ‘kenakalan’ setelah berbuat baik. Misalnya, kamu merasa sah-sah saja makan junk food secara berlebihan setelah seminggu rutin berolahraga. Nah, fenomena psikologis kayak gini sebenarnya cukup umum dan sering banget disebut dengan istilah moral licensing. Tanpa sadar, kamu jadi merasa punya semacam kupon gratis untuk melakukan hal yang kurang baik setelah berhasil berbuat kebaikan.

Kalau kebiasaan ini terus dibiarkan, kamu bisa terjebak dalam siklus sabotase diri yang merugikan tujuan awalmu, lho. Niatnya ingin sehat atau produktif, tapi kamu malah jalan di tempat karena terus-terusan memberikan kelonggaran buat hal yang merusak. Nah, biar hidupmu gak melulu dipenuhi pembenaran yang toksik, ini saatnya kamu pahami lebih dalam dan cari tahu cara memutus rantainya di artikel ini!

1. Apa itu moral licensing

ilustrasi makan junk food (pexels.com/Fernando Capetillo)

Secara sederhana, fenomena ini merupakan sebuah trik pikiran di mana tindakan baik di masa lalu memberimu rasa berhak untuk melakukan hal buruk setelahnya. Ibaratnya, kamu merasa sudah menabung banyak "poin kebaikan", sehingga merasa aman saat menukarkannya dengan sebuah pelanggaran kecil. Contoh kasus sehari-harinya gampang banget ditemui di sekitar kamu, dari urusan diet sampai keuangan. Contohnya, kamu sudah berhemat selama sebulan penuh, lalu mendadak kalap checkout keranjang belanja online karena merasa pantas mendapat self-reward yang kebablasan.

Pola pikir ini sebenarnya berbahaya karena bikin kamu gampang terjebak pada ilusi bahwa kamu sudah jadi orang yang lebih baik. Padahal, kebaikan yang satu gak selalu bisa menghapus dampak dari keburukan yang lain, apalagi kalau tujuannya memang jangka panjang. Bayangkan saja, kamu sudah serius mengerjakan tugas kuliah seharian, terus besoknya kamu bolos kelas karena merasa "sudah kerja keras". Bukannya sukses, yang ada kamu malah pusing sendiri dengan drama absensi, kan? Jadi, jangan sampai tameng "aku, kan, sudah berusaha" malah bikin kamu mempermainkan komitmenmu sendiri.

2. Kenapa hal ini bisa terjadi?

ilustrasi menonton film semalaman hingga kelelahan (pexels.com/cottonbro studio)

Terjadinya fenomena ini kerap dipicu oleh mekanisme pertahanan diri di dalam otak yang selalu mencari keseimbangan emosional. Otak  mempunyai kecenderungan untuk memberikan penghargaan pada diri sendiri saat merasa lelah atau setelah menekan ego demi melakukan hal yang benar. Selain itu, faktor eksternal seperti lingkungan sosial yang terlalu memuji pencapaian kecilmu juga bisa bikin kamu jadi besar kepala, lho. Tekanan dari luar yang menuntut kamu selalu tampil sempurna akhirnya membuatmu mencari pelarian diam-diam untuk melepaskan stres tersebut, lho.

Di sisi lain, luka trauma atau kelelahan mental dari masa lalu bisa membuat seseorang merasa berhak mendapatkan kompensasi berlebih. Ketika kamu merasa hidup ini terlalu keras dan penuh aturan, celah sekecil apa pun akan kamu manfaatkan untuk semacam "balas dendam". Contohnya, kamu dulu sering banget dituntut untuk selalu mengalah oleh keluarga, makanya sekarang kamu jadi bersikap egois sama pasangan karena merasa sudah terlalu lama berkorban. Lucunya, ego ini memang pintar banget cari alasan supaya kamu gak merasa bersalah saat bertingkah menyebalkan.

3. Dampak bagi kesehatan mental dan hubungan

ilustrasi merasa bersalah (pexels.com/www.kaboompics.com)

Kalau dibiarkan berlarut-larut, jebakan pikiran ini bakal memberikan efek domino yang gak main-main buat kesehatan mentalmu, lho. Dalam jangka pendek, kamu mungkin akan merasakan rollercoaster emosi, mulai dari rasa puas yang semu hingga berujung pada rasa bersalah yang menggerogoti pikiran. Sementara itu, untuk jangka panjangnya, kamu berisiko kehilangan kepercayaan pada kemampuan diri sendiri karena gagal mempertahankan kebiasaan baik yang sudah susah payah dibangun. 

Meski awal terasa menantang, tapi rasa frustasi karena terus-terusan balik ke titik nol inilah yang rentan banget memicu stres kronis hingga kecemasan berlebih. Guys, gak cuma merusak diri sendiri, interaksimu dengan orang-orang terdekat juga bisa ikut jadi korban, lho. Orang lain mungkin akan melihatmu sebagai sosok yang plin-plan, manipulatif, atau bahkan munafik karena tindakanmu sering gak konsisten. Makanya, penting banget buat sadar diri sebelum kebiasaan ini bikin orang-orang kesayanganmu menjauh satu per satu.

4. Cara menyikapi moral licensing

ilustrasi diskusikan harapan dan tujuan bersama (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Menyadari bahwa kamu sedang masuk ke dalam perangkap pembenaran ini jadi langkah pertama yang paling krusial buat berubah, lho. Kamu gak perlu langsung memarahi diri sendiri, tapi cukup evaluasi lagi niat awalmu tanpa mencari-cari alasan, kok. Nah, biar kamu gak terus-terusan tergelincir di lubang yang sama, coba langsung praktikkan jurus jitu di bawah ini, ya!

  • Fokus ubah cara pandangmu
    Berhenti memandang perbuatan baik sebagai sebuah pengorbanan berat yang butuh imbalan secepat kilat. Anggap saja hal positif yang kamu lakukan itu sebagai bentuk komitmen dan rasa sayang terhadap masa depanmu sendiri. Dengan begitu, kamu gak akan merasa butuh kompensasi berupa kelonggaran untuk berbuat nakal.

  • Ingat lagi tujuan utamamu
    Alih-alih cuma melihat apa yang sudah kamu capai hari ini, cobalah buat selalu mengingat apa gol jangka panjangmu. Kalau kamu fokus pada identitas baru yang ingin dibentuk, kamu gak bakal mudah tergoda untuk merusaknya dengan kebiasaan buruk. Bikin pengingat di layar HP atau catatan kecil supaya kamu terus termotivasi, ya.

  • Tetapkan batasan yang jelas
    Bikin aturan main atau batasan yang tegas buat dirimu sendiri soal apa yang boleh dan gak boleh dilakukan. Kalau mau kasih self-reward, pastikan bentuk hadiahnya sehat dan gak merusak progres yang udah susah payah dibangun. Jangan biarkan egomu yang pegang kendali penuh sampai bikin kamu kebablasan.

Terjebak dalam moral licensing memang manusiawi, tapi bukan berarti kamu bisa terus-terusan memaklumi hal yang merugikan masa depanmu. Dengan kesadaran diri dan kemauan untuk konsisten, kamu pasti bisa kok memutus siklus pembenaran yang toksik ini. Yuk, mulai hari ini jadilah versi dirimu yang lebih baik tanpa harus mencari-cari alasan buat menyerah!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorAtqo Sy

Related Article