Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Kebiasaan yang Menimbulkan Rasa Malas Berkepanjangan

5 min read
5 Kebiasaan yang Menimbulkan Rasa Malas Berkepanjangan
Ilustrasi menunda pekerjaan (magnific.com/BalashMirzabey)
  • Kebiasaan menunda pekerjaan, menunggu suasana hati ideal, dan terlalu lama merencanakan tanpa bertindak dapat membuat tugas menumpuk serta sulit memulai aktivitas.
  • Penggunaan ponsel tanpa batas berpotensi menyita waktu dan perhatian, sehingga fokus untuk bekerja atau belajar makin sulit dialihkan dari hiburan digital.
  • Pola tidur berantakan dapat menurunkan energi, konsentrasi, dan suasana hati; rasa malas berkepanjangan juga perlu dievaluasi karena bisa terkait kebutuhan pemulihan atau masalah kesehatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasa ingin melakukan banyak hal, tetapi setiap kali hendak memulai, kamu justru memilih menundanya? Pekerjaan yang seharusnya selesai hari ini akhirnya bergeser ke hari berikutnya. Rencana yang sudah disusun sejak awal minggu pun kembali terbengkalai karena kamu merasa gak punya energi untuk menjalankannya.

Sesekali merasa malas sebenarnya wajar. Tubuh dan pikiran membutuhkan waktu istirahat, terutama setelah menjalani aktivitas yang melelahkan. Namun, jika rasa malas terus muncul hingga mengganggu rutinitas, kamu perlu mengevaluasi kebiasaan sehari-hari yang mungkin ikut memengaruhinya.

Tanpa disadari, beberapa kebiasaan kecil bisa membuatmu semakin sulit memulai aktivitas dan mempertahankan fokus. Kondisi ini juga bisa dipengaruhi oleh stres, kurang tidur, atau masalah kesehatan tertentu. Supaya kamu bisa lebih memahami penyebabnya, berikut lima kebiasaan yang berpotensi membuat rasa malas bertahan lebih lama.

  1. 1. Terbiasa menunda pekerjaan

    Seseorang memegang ponsel sambil menunda pekerjaan, menggambarkan kebiasaan scroll yang mengganggu produktivitas.
    Ilustrasi scroll ponsel dan menunda pekerjaan (pexels.com/MART PRODUCTION)

    Menunda pekerjaan sering terasa menyenangkan karena kamu gak perlu langsung menghadapi tugas yang dianggap sulit atau membosankan. Kamu mungkin memilih membuka media sosial sebentar, menonton video, atau mengerjakan hal lain yang terasa lebih ringan. Sayangnya, kebiasaan ini bisa membuat pekerjaan semakin menumpuk dan terasa lebih berat ketika tenggat waktu mulai mendekat.

    Semakin sering menunda, semakin besar kemungkinan kamu terbiasa menunggu sampai merasa benar-benar siap untuk bertindak. Padahal, perasaan siap gak selalu muncul dengan sendirinya. Akibatnya, kamu terus terjebak dalam pola yang sama: menunda, merasa bersalah, panik menjelang tenggat waktu, lalu berjanji untuk gak mengulanginya lagi.

    Cobalah memulai pekerjaan dari langkah paling sederhana. Jika tugas terasa besar, pecah menjadi beberapa bagian kecil yang lebih mudah diselesaikan. Kamu juga bisa menggunakan teknik fokus selama 15–25 menit untuk membantu membangun momentum. Gak perlu menunggu motivasi datang terlebih dahulu karena terkadang kemauan untuk melanjutkan justru muncul setelah kamu berhasil memulai.

  2. 2. Terlalu sering bermain ponsel tanpa batas waktu

    Tangan seseorang memegang ponsel dengan layar media sosial, menggambarkan aktivitas membuka platform digital.
    Ilustrasi membuka media sosial (pexels.com/Ivan S)

    Ponsel menawarkan banyak hiburan yang bisa diakses kapan saja. Saat merasa bosan atau enggan mengerjakan sesuatu, kamu mungkin langsung membuka media sosial, bermain gim, atau menonton video pendek. Aktivitas ini terasa ringan karena kamu gak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk menikmatinya.

    Masalahnya, kebiasaan tersebut bisa menyita waktu dan perhatian jika dilakukan tanpa batasan. Kamu mungkin berniat bermain ponsel selama lima menit, tetapi akhirnya menghabiskan waktu hampir satu jam. Ketika harus kembali bekerja atau belajar, kamu bisa merasa semakin sulit mengalihkan perhatian, terutama jika sudah terbiasa berpindah dari satu konten ke konten lainnya.

    Untuk mengatasinya, coba tentukan waktu khusus untuk menggunakan ponsel sebagai hiburan. Saat mengerjakan tugas penting, letakkan ponsel di tempat yang gak mudah dijangkau atau aktifkan mode fokus. Kamu juga bisa menonaktifkan notifikasi yang gak mendesak. Dengan mengurangi gangguan, kamu memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk menyelesaikan aktivitas tanpa terus-menerus terdistraksi.

  3. 3. Memiliki pola tidur yang berantakan

    Ilustrasi perempuan muda berbaring di tempat tidur sambil memegang kepala setelah terbangun oleh alarm pagi.
    Ilustrasi bangun kesiangan (magnific.com/jcomp)

    Waktu tidur yang gak teratur bisa memengaruhi energi, konsentrasi, dan suasana hati. Misalnya, kamu terbiasa tidur larut malam karena menonton film atau bermain ponsel, lalu harus bangun pagi untuk bekerja atau kuliah. Akibatnya, tubuh gak mendapatkan waktu istirahat yang cukup untuk memulihkan diri.

    Ketika kurang tidur menjadi kebiasaan, aktivitas sederhana pun bisa terasa lebih melelahkan. Kamu mungkin kesulitan berkonsentrasi, lebih sering menguap, atau merasa ingin terus berbaring meskipun masih banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan. Kondisi ini terkadang disalahartikan sebagai kemalasan, padahal tubuhmu mungkin memang sedang kekurangan istirahat.

    Cobalah membangun jadwal tidur yang lebih konsisten dan sesuaikan durasinya dengan kebutuhan tubuh. Orang dewasa umumnya membutuhkan sekitar tujuh hingga sembilan jam tidur setiap malam. Kurangi penggunaan ponsel menjelang tidur, buat suasana kamar lebih nyaman, dan hindari kebiasaan yang membuat waktu istirahat terus tertunda. Jika rasa lelah tetap berlangsung meskipun tidur sudah cukup, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

  4. 4. Terlalu sering menunggu suasana hati yang tepat

    Seorang perempuan menatap pantulan dirinya di cermin dalam ruangan, ilustrasi tentang berbicara kepada diri sendiri.
    Ilustrasi berkata kepada diri sendiri (magnific.com/ArthurHidden)

    Pernah berkata kepada diri sendiri bahwa kamu akan mulai bekerja setelah suasana hati membaik? Kamu mungkin menunggu sampai merasa lebih bersemangat, lebih fokus, atau lebih termotivasi sebelum melakukan sesuatu. Sayangnya, jika kebiasaan ini terus dipertahankan, banyak rencana bisa tertunda karena kondisi ideal yang kamu harapkan gak kunjung datang.

    Motivasi memang bisa membantu seseorang memulai aktivitas. Namun, suasana hati dapat berubah-ubah, sedangkan tanggung jawab tetap perlu diselesaikan. Ketika kamu hanya bertindak saat sedang bersemangat, kamu akan kesulitan mempertahankan rutinitas pada hari-hari ketika energi terasa lebih rendah.

    Mulailah membangun kebiasaan bertindak meskipun motivasi belum sepenuhnya muncul. Kamu bisa menetapkan target kecil, seperti membaca dua halaman, merapikan meja selama lima menit, atau menyelesaikan satu bagian pekerjaan. Setelah berhasil melakukannya, lanjutkan jika masih memiliki energi. Cara ini membantu kamu membangun konsistensi tanpa harus menuntut diri sendiri untuk selalu bersemangat setiap saat.

  5. 5. Terlalu banyak memikirkan rencana tanpa mulai bertindak

    Ilustrasi seorang pria duduk di meja kerja sambil memegang kepala, dikelilingi catatan dan pikiran yang rumit.
    Ilustrasi overthinking (magnific.com/pressfoto)

    Menyusun rencana memang penting agar kamu memiliki arah yang jelas. Namun, terlalu lama memikirkan cara terbaik untuk memulai justru bisa membuatmu gak melakukan apa-apa. Kamu mungkin sibuk mencari metode paling efektif, membandingkan berbagai pilihan, atau menunggu semua persiapan terasa sempurna sebelum mengambil langkah pertama. Akibatnya, tugas yang sebenarnya bisa dikerjakan secara bertahap terasa semakin besar karena kamu terus memikirkannya tanpa melihat perkembangan nyata.

    Kebiasaan ini juga bisa membuatmu kewalahan ketika membayangkan seluruh proses yang harus dilewati. Cobalah membatasi waktu untuk menyusun rencana, lalu tentukan satu tindakan sederhana yang bisa dilakukan hari itu. Jika ingin mulai berolahraga, misalnya, kamu gak perlu langsung membuat jadwal latihan yang rumit. Mulailah dengan berjalan kaki selama beberapa menit atau melakukan gerakan ringan di rumah. Dengan mengambil langkah kecil, kamu bisa mengevaluasi rencana berdasarkan pengalaman nyata dan menyesuaikannya sesuai kebutuhan.

    Rasa malas yang berkepanjangan gak selalu berarti kamu kurang disiplin atau gak memiliki keinginan untuk berkembang. Ada kalanya kebiasaan sehari-hari perlu diperbaiki, tetapi bisa juga tubuh dan pikiran sedang membutuhkan pemulihan. Karena itu, coba kenali hal yang membuatmu kesulitan menjalankan aktivitas, lalu perbaiki satu kebiasaan secara bertahap. Kamu gak perlu mengubah seluruh rutinitas sekaligus atau memaksakan diri untuk selalu aktif setiap hari. Jika rasa lelah, kehilangan minat, atau kesulitan beraktivitas terus berlangsung hingga mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan ragu mencari bantuan profesional. Ingat, membangun kebiasaan yang lebih baik membutuhkan proses, dan langkah kecil yang konsisten tetap layak dihargai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More