Sesi inspirational talk bersama Prof. Stella Christie, Ph.D., Wamendiktisaintek di TSG 2026 - RGE Community Center, Riau Kompleks PT RAPP, Pangkalan Kerinci, Riau (IDN Times/Anastasia Desire)
Lanjut, kita masuk ke sesi yang tak kalah ‘daging’ bersama Prof. Stella Christie, Ph.D., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, dalam inspirational talk “Transformasi Pendidikan dan Peningkatan Daya Saing Generasi Muda di Era Akal Imitasi (AI)”. Setidaknya, di hadapan 240 Tanoto Scholar yang hadir, Wamen Stella memaparkan kondisi economic bubble, kondisi saat value suatu aset naik terlalu tinggi, lalu mendadak turun drastis saat minat pasar menghilang. Pertanyaannya: apakah AI masuk dalam fenomena economic bubble atau tidak?
Jawabannya, mungkin. Pasalnya, kini kita sedang berada di fase di mana hampir semua permasalahan, pertanyaan, dan kebutuhan kita itu seolah bisa dijawab oleh AI. Sebut saja, mulai dari rumah sakit, perusahaan, bahkan sampai institusi pendidikan pun kini banyak memanfaatkan AI.
"Kalau semua jawaban dari semua pertanyaan itu hanya satu, saya rasa kita sedang berada di dalam bubble," ungkap Stella.
Pesan Wamen Stella
Para Tanoto Scholar lakukan selfie bersama Prof. Stella Christie, Ph.D., Wamendiktisaintek di TSG 2026 - RGE Community Center, Riau Kompleks PT RAPP, Pangkalan Kerinci, Riau (Dok. Tanoto Foundation)
Menjawab hal tersebut, Wamen Stella menambahkan ketika sebuah institusi pendidikan menerapkan AI itu sebenarnya kembali bergantung dari apa yang diajarkan. Secara garis besar, apapun yang diajarkan (prodi/bidangnya), setidaknya ada tiga ‘resep’ supaya institusi pendidikan bisa tetap adaptif di tengah gempuran AI:
Creation of knowledge: institusi pendidikan perlu terus lahirkan gagasan dan pengetahuan baru, sehingga inovasi jadi bagian yang tak terpisahkan dari dunia akademik.
Transmission of knowledge: institusi pendidikan perlu menawarkan nilai yang benar-benar dibutuhkan mahasiswa.
Curation of knowledge: institusi pendidikan perlu berperan mengubah fakta menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi peradaban.
Lalu bagaimana dengan para Tanoto Scholar? Secara khusus, Wamen Stella ingatkan tentang pentingnya terus berkembang di era AI, terutama sebagai calon pemimpin di masa depan.
“AI dapat menyajikan jutaan informasi dalam hitungan detik. Namun, manusialah yang mampu mengubah informasi menjadi pengetahuan, dan pengetahuan menjadi kebijaksanaan. Itulah kompetensi yang harus dibangun oleh pemimpin muda: kemampuan mengkurasi pengetahuan untuk menghadirkan keputusan yang berdampak bagi masyarakat dan masa depan bangsa,” pesan Wamen Stella.