- American Academy of Dermatology, Tips for Healthy Hair. American Academy of Dermatology – Tips for Healthy Hair
- American Academy of Dermatology, How to Treat Dandruff. American Academy of Dermatology – How to Treat Dandruff
- Cleveland Clinic, How Often Should You Really Wash Your Hair?. Cleveland Clinic – How Often Should You Wash Your Hair?
Haruskah Menunggu Rambut Lepek Baru Keramas? Ini Penjelasannya

- Frekuensi keramas tidak perlu menunggu rambut lepek, melainkan disesuaikan dengan seberapa cepat rambut dan kulit kepala menjadi berminyak atau kotor.
- Pemilik kulit kepala berminyak atau rambut lurus dan halus dapat perlu keramas lebih sering, bahkan setiap hari bila kondisi tersebut mengganggu.
- Rambut kering, tebal, keriting, atau bertekstur membutuhkan jeda lebih panjang; perhatikan juga gatal, ketombe, keringat, serta penumpukan minyak dan produk di kulit kepala.
Ada anggapan bahwa rambut sebaiknya dibiarkan sampai lepek terlebih dahulu sebelum keramas. Alasannya, terlalu sering mencuci rambut dianggap bisa membuat minyak alami rambut hilang dan menyebabkan rambut menjadi kering.
Namun, menunggu rambut benar-benar lepek bukanlah patokan yang berlaku untuk semua orang. Dermatolog justru menyarankan frekuensi keramas disesuaikan dengan kondisi kulit kepala dan jenis rambut. Orang dengan kulit kepala berminyak mungkin membutuhkan keramas lebih sering, sementara pemilik rambut kering, tebal, keriting, atau bertekstur dapat mencuci rambut lebih jarang.
Lantas, kapan sebenarnya waktu yang tepat untuk keramas?
1. Rambut tidak harus menunggu lepek untuk dicuci

ilustrasi keramas (pexels.com/Armin Rimoldi) Rambut yang mulai berminyak memang merupakan salah satu tanda bahwa sudah waktunya keramas, tetapi tidak harus menunggu sampai terlihat sangat lepek. American Academy of Dermatology (AAD) menyarankan untuk mencuci rambut berdasarkan seberapa cepat rambut dan kulit kepala menjadi kotor atau berminyak.
Pada orang dengan rambut lurus dan kulit kepala berminyak, keramas setiap hari bahkan bisa diperlukan. Jadi, tidak ada aturan bahwa seseorang harus menunggu minyak menumpuk terlebih dahulu sebelum mencuci rambut.
2. Kulit kepala berminyak bisa membutuhkan keramas lebih sering

ilustrasi keramas (pexels.com/https://kaboompics.com/) Setiap orang menghasilkan minyak atau sebum dalam jumlah yang berbeda. Pada orang yang kulit kepalanya cepat berminyak, menunda keramas terlalu lama justru dapat membuat rambut terlihat lepek dan kulit kepala terasa tidak nyaman.
Cleveland Clinic menyebut orang dengan kulit kepala berminyak dapat memilih keramas setiap hari jika merasa terganggu dengan kondisi tersebut. Rambut yang lebih halus juga cenderung lebih cepat terlihat berminyak dibandingkan rambut yang lebih tebal atau kasar.
Karena itu, kalau rambut sudah terasa berminyak, berat, atau kotor, tidak perlu sengaja menunggu sampai beberapa hari hanya demi mengikuti aturan tertentu.
3. Rambut kering justru tidak perlu terlalu sering dicuci

ilustrasi menyisir rambut (pexels.com/Yan Krukau) Di sisi lain, pemilik rambut kering tidak selalu membutuhkan frekuensi keramas yang sama. Rambut keriting, tebal, atau bertekstur cenderung lebih mudah terasa kering karena minyak alami dari kulit kepala lebih sulit menyebar hingga ke seluruh batang rambut. Terlalu sering mencuci rambut juga dapat membuat rambut semakin kering dan rentan mengalami kerusakan.
AAD juga menyarankan pemilik rambut kering, bertekstur, keriting, atau tebal untuk keramas sesuai kebutuhan, bukan mengikuti jadwal yang sama dengan orang yang memiliki kulit kepala berminyak. Jadi, kalau rambut belum terasa kotor atau berminyak, tidak ada keharusan untuk mencucinya hanya karena sudah beberapa hari.
4. Terlalu jarang keramas juga bukan berarti lebih sehat

ilustrasi seorang wanita sedang merapikan rambut didepan cermin (pexels.com/Andrea Piacquadio) Menunda keramas bukan berarti selalu lebih baik untuk rambut. Kulit kepala tetap menghasilkan minyak, sel kulit mati, keringat, serta dapat mengalami penumpukan produk rambut.
AAD menjelaskan bahwa ketombe dapat berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk kebiasaan perawatan rambut dan kulit kepala yang berminyak. Keramas secara teratur dapat membantu membersihkan minyak berlebih dan penumpukan pada kulit kepala. Jika terlalu jarang mencuci rambut dan kemudian muncul gatal, kemerahan, atau ketombe yang mengganggu, frekuensi keramas mungkin perlu dievaluasi.
5. Patokannya bukan cuma rambut, tetapi juga kulit kepala

ilustrasi keramas (pexels.com/Hairlust Official) Salah satu kesalahan dalam menentukan jadwal keramas adalah hanya memperhatikan tampilan batang rambut. Padahal, sampo terutama digunakan untuk membersihkan kulit kepala. AAD merekomendasikan sampo diaplikasikan terutama pada kulit kepala untuk membersihkan minyak berlebih, sel kulit mati, dan sisa produk tanpa membuat bagian rambut yang lebih kering ikut kehilangan terlalu banyak minyak alami.
Karena itu, coba perhatikan beberapa tanda. Jika kulit kepala cepat berminyak, terasa kotor, berkeringat, gatal, atau mulai muncul penumpukan, mungkin sudah waktunya keramas. Sebaliknya, jika rambut terasa sangat kering atau mudah patah, frekuensi mencuci bisa jadi terlalu sering.
Jadi, haruskah nenunggu rambut lepek baru keramas?
Jawabannya tidak harus. Rambut tidak perlu dibiarkan sampai benar-benar lepek sebagai tanda wajib sebelum keramas. Frekuensi yang tepat berbeda pada setiap orang. Pemilik kulit kepala berminyak dan rambut lurus mungkin perlu mencuci rambut lebih sering, sedangkan rambut kering, tebal, atau keriting dapat membutuhkan jeda lebih panjang.
Daripada mengikuti aturan seperti “harus menunggu lepek” atau “tidak boleh keramas setiap hari”, lebih baik melihat kondisi rambut dan kulit kepala sendiri. Dengan begitu, rutinitas keramas bisa disesuaikan tanpa terlalu sering mencuci maupun terlalu lama membiarkannya tanpa dibersihkan.
Referensi
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)























