5 Aktivitas Positif Anak Selama Libur Sekolah Selain Bermain Gadget

- Libur sekolah jadi momen anak beristirahat sambil mencoba aktivitas yang mengasah gerak, imajinasi, dan interaksi tanpa bergantung pada layar digital.
- Lima kegiatan positif seperti membaca, bergerak aktif, membuat karya sederhana, membantu pekerjaan rumah, dan bermain peran dapat mendukung perkembangan anak secara menyeluruh.
- Setiap aktivitas bisa disesuaikan dengan usia, minat, serta lingkungan agar liburan tetap seru sekaligus memperkuat keterampilan sosial dan tanggung jawab anak.
Libur sekolah memberi ruang bagi anak untuk beristirahat sekaligus mencoba kegiatan di luar rutinitas kelas. Waktu luang tersebut dapat diisi dengan aktivitas yang melibatkan gerak, imajinasi, keterampilan, dan interaksi bersama keluarga. Pilihan yang beragam juga membuat masa liburan tidak hanya bergantung pada hiburan dari layar digital.
American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa bermain mendukung perkembangan motorik, bahasa, kreativitas, serta kemampuan sosial dan emosional anak. Aktivitas sederhana di rumah maupun di luar ruangan juga dapat disesuaikan dengan usia, minat, dan kemampuan anak. Berikut lima aktivitas positif yang dapat menjadi pilihan selama libur sekolah.
1. Membaca buku dan membicarakan ceritanya

Membaca dapat dijadikan kegiatan santai tanpa menyerupai tugas sekolah yang kaku. Melansir HealthyChildren, membaca membantu memperluas kosakata, imajinasi, dan rasa ingin tahu anak. Buku cetak juga menawarkan pengalaman yang melibatkan sentuhan halaman, ilustrasi, dan perhatian yang lebih minim gangguan.
Kegiatan ini dapat dilakukan dengan memilih buku sesuai minat, lalu membacanya sendiri atau bersama anggota keluarga. Cerita yang selesai dibaca dapat dibahas melalui percakapan mengenai tokoh, peristiwa, atau bagian yang paling menarik. HealthyChildren menyebut diskusi saat membaca membantu anak mempelajari bahasa, ekspresi, dan komunikasi.
2. Bergerak aktif di luar ruangan

Aktivitas fisik dapat berupa berjalan kaki, bersepeda, bermain bola, berlari, atau melakukan permainan gerak lainnya. Menurut CDC, anak dan remaja berusia 6 sampai 17 tahun dianjurkan melakukan aktivitas fisik sedang hingga berat setidaknya 60 menit setiap hari. Kegiatannya sebaiknya beragam, sesuai usia, dan terasa menyenangkan.
Aktivitas fisik rutin mendukung kebugaran, kesehatan mental, tulang, otot, serta kesehatan otak anak. American Academy of Pediatrics juga menjelaskan bahwa permainan luar ruangan membantu melatih keseimbangan, kesadaran ruang, dan rentang perhatian. Karena itu, taman, halaman, atau area bermain aman dapat dimanfaatkan selama masa liburan.
3. Membuat mainan atau karya dari barang sederhana

Barang yang tersedia di rumah dapat diubah menjadi bahan permainan kreatif tanpa memerlukan perlengkapan mahal. Dilansir dari Raising Children Network, mainan buatan sendiri dapat merangsang rasa ingin tahu, kreativitas, dan imajinasi. Kardus, kertas, kain bekas, serta wadah yang aman dapat menjadi bahan awal.
Anak usia sekolah dapat membuat rumah dari kardus, buku cerita keluarga, kolase, atau permainan kata sederhana. Proses membuat sesuatu memberi kesempatan untuk mencoba ide dan menyelesaikan persoalan kecil yang muncul. Raising Children Network juga menekankan bahwa bahan permainan harus tidak beracun, tidak mudah pecah, dan tidak memiliki sisi tajam.
4. Membantu pekerjaan rumah sesuai usia

Libur sekolah dapat menjadi kesempatan untuk mengenalkan tanggung jawab melalui tugas rumah yang ringan. Raising Children Network menjelaskan bahwa pekerjaan rumah membantu anak belajar merawat diri, rumah, dan keluarga. Kegiatan tersebut juga mengenalkan keterampilan praktis seperti menyiapkan makanan, membersihkan, mengatur barang, dan berkebun.
Tugas dapat dipilih berdasarkan usia dan kemampuan agar tidak terlalu sulit atau berbahaya. Anak usia sekolah, misalnya, dapat menyiram tanaman, melipat pakaian, menyapu, memberi makan hewan, atau membantu menyiapkan hidangan dengan pengawasan. Keterlibatan ini juga dapat melatih komunikasi, kerja sama, rasa mampu, dan tanggung jawab.
5. Bermain peran bersama keluarga

Bermain peran memungkinkan anak menciptakan cerita dan mencoba berbagai situasi sosial secara langsung. Menurut American Academy of Pediatrics, permainan peran mendorong kreativitas serta membantu anak memahami peran sosial. Aktivitas tersebut juga melatih kemampuan bekerja sama, bernegosiasi, berkomunikasi, dan menggunakan bahasa.
Permainan dapat dibuat sederhana dengan tema sekolah, toko, rumah makan, perjalanan, atau profesi tertentu. Anggota keluarga dapat ikut memainkan tokoh, menyiapkan benda pendukung yang aman, dan mengikuti arah cerita anak. Cara ini membuat interaksi keluarga terasa menyenangkan sekaligus memberi ruang bagi anak untuk menyampaikan gagasan.
Membaca, bergerak, berkreasi, membantu di rumah, dan bermain peran menawarkan pengalaman yang berbeda selama libur sekolah. Seluruh kegiatan tersebut dapat dipilih sesuai usia, kemampuan, minat, serta kondisi lingkungan yang tersedia. Dengan pilihan aktivitas yang beragam, masa liburan dapat tetap menyenangkan sambil mendukung keterampilan dan perkembangan anak.



















