Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Batasan dengan Orangtua yang Bukan Tanda Pembangkangan
ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/vdre)
  • Anak dewasa berhak menjaga privasi kehidupan pribadi, termasuk pertemanan, pekerjaan, ponsel, dan percintaan, tanpa dianggap menyembunyikan hal buruk atau membangkang.
  • Nasihat orangtua dapat menjadi pertimbangan, tetapi anak tetap berhak menentukan keputusan terkait pekerjaan, pendidikan, pertemanan, pasangan, waktu, dan ruang pribadinya.
  • Batasan keuangan serta komunikasi diperlukan: anak dapat menentukan bantuan finansial sesuai kemampuan dan meminta perlakuan hormat tanpa bentakan, penghinaan, perbandingan, atau ancaman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hubungan antara anak dan orangtua memang punya tempat yang berbeda dibandingkan dengan orang lain. Ada rasa sayang, rasa hormat, sekaligus sejarah panjang yang membuat hubungan ini tidak selalu mudah. Ketika sudah dewasa, kamu mungkin mulai punya pekerjaan, penghasilan, pasangan, pertemanan, dan kehidupan sendiri

Di titik ini, muncul keinginan untuk memiliki ruang pribadi. Namun, bukan berarti kamu sudah tak membutuhkan orangtua atau mulai melupakan keluarga. Sayangnya, menetapkan batasan dengan orangtua masih sering dianggap sebagai bentuk pembangkangan. Padahal sebenarnya ada lima batasan yang sangat wajar dimiliki anak sebagai berikut.

1. Batasan tentang privasi dan kehidupan pribadi

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/kampus production)

Menjadi anak tidak berarti kamu harus menceritakan seluruh isi kehidupanmu kepada orangtua. Ketika sudah dewasa, kamu tetap punya hak atas privasi, termasuk soal pertemanan, pekerjaan, isi percakapan di ponsel, hingga kehidupan percintaan. Orangtua mungkin bertanya karena perhatian.

Namun, perhatian dan hak untuk mengetahui semuanya adalah dua hal yang berbeda. Kamu boleh memilih informasi mana yang ingin dibagikan dan mana yang cukup menjadi urusan pribadi. Menetapkan batasan dalam hal privasi bukan berarti menyembunyikan sesuatu yang buruk. Kamu hanya sedang belajar memiliki ruang pribadi sebagai individu yang sudah dewasa.

2. Batasan dalam mengambil keputusan hidup

ilustrasi pasangan menikah (unsplash.com/jkalen71)

Punya orangtua yang memberikan nasihat sebenarnya sangat baik. Pengalaman mereka bisa menjadi pertimbangan ketika kamu sedang menghadapi keputusan besar. Namun, menerima nasihat tidak berarti semua keputusan dalam hidup harus mengikuti keinginan mereka.

Kamu berhak menentukan pilihan terkait pekerjaan, pendidikan, pertemanan, hingga pasangan. Orangtua boleh memberikan pendapat, tapi pada akhirnya kamu yang akan menjalani konsekuensi dari keputusan tersebut. Perbedaan pilihan juga gak otomatis berarti kamu tidak menghormati mereka. Kamu dan orangtua memang tumbuh di zaman yang berbeda, sehingga memiliki pandangan tentang kehidupan yang tak selalu sama.

3. Batasan tentang waktu dan ruang pribadi

ilustrasi kamar tidur (pexels.com/Vlada Karpovich)

Setelah dewasa, kamu mungkin punya rutinitas sendiri. Ada pekerjaan yang menguras energi, teman yang ingin ditemui, hobi, waktu untuk pasangan, dan sebagainya. Karena itu, sangat wajar kalau kamu membutuhkan batasan mengenai waktu dan ruang pribadi. Misalnya, kamu tidak selalu bisa mengangkat telepon kapan pun orangtua menghubungi.

Kamu juga mungkin membutuhkan waktu sendiri setelah pulang kerja atau tidak ingin rumah didatangi secara mendadak ketika sedang memiliki agenda lain. Kebutuhan tersebut bukan berarti kamu tidak peduli kepada orangtua. Sama seperti orang lain, kamu juga memiliki kapasitas energi yang terbatas. Hal-hal kecil seperti ini memang sepele, tapi bisa mengurangi banyak potensi konflik.

4. Batasan dalam urusan keuangan

ilustrasi menghitung anggaran (pexels.com/karolina-grabowska)

Uang sering menjadi topik sensitif dalam hubungan keluarga. Ketika sudah memiliki penghasilan sendiri, kamu mungkin masih ingin membantu orangtua secara finansial. Itu tentu merupakan pilihan yang baik. Namun, membantu orangtua tidak berarti kamu harus selalu memenuhi semua permintaan finansial mereka.

Kamu tetap berhak menentukan berapa banyak uang yang bisa diberikan, kapan bisa membantu, dan kebutuhan apa saja yang sanggup kamu tanggung. Jangan sampai keinginan untuk menjadi anak yang berbakti membuatmu mengabaikan rencana keuanganmu sendiri. Kamu bisa membuat kesepakatan yang jelas mengenai bantuan keuangan ini.

5. Batasan dalam cara berkomunikasi dan memperlakukanmu

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Hubungan keluarga tidak membuat seseorang kehilangan hak untuk diperlakukan dengan hormat. Orangtua memang memiliki posisi yang penting, tapi bukan berarti semua bentuk komunikasi bisa dibenarkan. Kamu tetap boleh merasa tidak nyaman jika sering dibentak, dipermalukan, dibandingkan dengan orang lain, atau diberi komentar yang merendahkan.

Kamu juga berhak meminta agar perbedaan pendapat dibicarakan tanpa hinaan atau ancaman. Menetapkan batasan dalam komunikasi bisa dimulai dengan menjelaskan perilaku yang tidak bisa kamu terima. Memasang batasan bukan berarti membalas perilaku buruk dengan perilaku buruk. Justru, kamu sedang belajar menyampaikan kebutuhan tanpa harus menyerang orang lain.

Memiliki batasan dengan orangtua bukan berarti kamu berhenti menyayangi, menghormati, atau menghargai mereka. Kamu tetap bisa dekat dengan orangtua tanpa harus menyerahkan seluruh kendali atas kehidupanmu, apalagi kehilangan dirimu sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article