Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Hal yang Perlu Diajarkan kepada Anak Laki-Laki sejak Dini
daftar hal penting untuk diajarkan ke anak laki-laki (pexels.com/Timur Weber)
  • Artikel menyoroti pola asuh setara untuk anak laki-laki sebagai upaya mencegah pola pikir patriarki, dengan menanamkan tanggung jawab dan tidak membiasakan mereka selalu dilayani.
  • Anak laki-laki perlu dibekali keterampilan domestik dan bela diri untuk mandiri serta aman, sambil diajarkan tidak menyalahgunakan kemampuan, menghindari bahaya, dan melapor saat mengalami perundungan.
  • Orang tua dianjurkan mengajarkan penghormatan terhadap perbedaan dan anak perempuan, termasuk batas fisik, serta melatih anak mengambil keputusan pribadi secara bertanggung jawab.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perihal patriarki alias sistem sosial yang cenderung menempatkan laki-laki pada posisi lebih dominan masih jadi concern dan topik yang terus didiskusikan, tak hanya di media sosial, melainkan juga dari mulut ke mulut. Sistem satu ini memang bisa merugikan banyak pihak, utamanya perempuan. Bahkan, tanpa disadari, tak sedikit perempuan yang ikut melanggengkan pola pikir patriarki karena sudah terbiasa menganggap pembagian peran tertentu sebagai sesuatu yang wajar. Usut punya usut, tumbuhnya seseorang tanpa punya pemahaman jelas soal tanggung jawab dirinya sebagai seorang pria juga bisa terbentuk dari pola asuh dan kebiasaan yang ditanamkan sejak masa kecil.

Banyak anak laki-laki yang dibiarkan tumbuh seenaknya tanpa punya kewajiban atau diajarkan perihal tanggung jawab mendasar di rumah, padahal semestinya hal ini menjadi pendidikan utama untuk semua gender. Anak laki-laki juga perlu memahami bahwa menjadi pria bukan berarti boleh lebih bebas dari anggota keluarga lainnya atau minta selalu dilayani. Untuk itu, demi menciptakan kehidupan masa depan yang jauh lebih kondusif dan menguntungkan bagi semua pihak, kamu sebagai orang tua perlu mengajari anak laki-lakimu perihal lima hal penting ini. Apa saja?

1. Skill mengerjakan urusan domestik

ilustrasi mengenalkan anak laki-laki pada salah satu pekerjaan rumah tangga, yaitu mencuci piring (pexels.com/Gustavo Fring)

Mulai dari menyapu, mencuci baju, menyetrika, menjahit baju yang sobek, mencuci piring, hingga memasak menu-menu sederhana, semua tugas itu juga penting untuk diketahui anak laki-laki. Poin paling utama dari mengajarkan hal ini tentunya adalah untuk melatih kemandirian mereka. Karena bakal lebih mudah bagi sang anak bila nantinya ia hidup sendiri, sehingga bakal terbiasa mengerjakan segala sesuatu secara mandiri dan tak kewalahan di perantauan.

Tapi, selain itu, hal ini juga penting untuk mengajarkan bahwa segala urusan rumah, baik kebersihan maupun memasak, gak hanya sebatas pekerjaan anak perempuan saja. Anak laki-laki pun juga mesti tahu tentang tanggung jawab mereka di rumah, bukan hanya dibiarkan berleha-leha saja, sementara saudara perempuan dan ibunya melulu yang sibuk mengerjakan urusan domestik.

2. Kemampuan bela diri

ilustrasi anak laki-laki diikutkan ke pelatihan bela diri (unsplash.com/Ozan Safak)

Bila kamu sebagai orang tua masih belum mampu atau kompeten untuk mengajari anak perihal bela diri, kamu bisa mendaftarkannya ke lembaga bela diri terpercaya dan sesuai usianya, supaya anak laki-lakimu tumbuh dengan kemampuan pertahanan diri dan bisa melindungi dirinya sendiri ketika berada dalam situasi bahaya. Tanamkan juga bahwa kemampuan tersebut jangan sampai menjadikan anak merasa superior hingga mencoba menindas anak lain. Selain bisa merugikan orang lain, perilaku semacam ini justru dapat membuat anak dijauhi dan mendapat masalah di kemudian hari.

Oh iya, semisal anak terjebak pada situasi di mana dirinya menghadapi sekumpulan anak pembully, daripada ia sok-sokan berani melawan meski punya kemampuan bela diri, jauh lebih baik menasihatinya untuk tidak merespons atau mencoba melawan balik komplotan tersebut. Potensi anak untuk babak belur jauh lebih besar ketimbang ia berhasil menumpaskan mereka semua. Lebih baik ambil opsi menghindar perlahan dan segera mencari tempat yang aman, lalu minta anak melaporkannya kepada guru atau orang dewasa yang dipercaya perihal perundungan yang dialaminya.

3. Perihal perbedaan latar belakang

ilustrasi pertemanan anak sekolah yang tak memandang latar belakang masing-masing kawannya (pexels.com/Norma Mortenson)

Walaupun di kurikulum sekolah, pelajaran mengenai perbedaan sudah sering menjadi topik yang dibahas. Sayangnya, kebanyakan guru cuma sebatas menerangkan teori tanpa memastikan murid benar-benar memahami dan menerapkannya. Alhasil, perilaku bullying karena ada anak yang dianggap berbeda atau menjadi minoritas masih sering terjadi, tak hanya di lingkungan sekolah, tapi juga di lingkungan bermain anak sehari-hari.

Anak laki-laki perlu diajari bahwa masing-masing orang tak sekadar punya kepercayaan atau latar belakang religius yang berbeda-beda, melainkan juga ada anak yang memang lahir dari suku atau keturunan tertentu, sehingga wajar jika terdapat perbedaan ciri fisik, entah dari bentuk mata, tipe rambut, sampai warna kulit. Perbedaan tak seharusnya jadi pembenaran untuk menindas sesama. Beri pemahaman pada anak untuk merangkul kawan yang cenderung sendirian karena dijauhi atau sebab tertentu, karena perhatian sederhana seperti itu bisa sangat berarti bagi mereka sekaligus mengurangi potensi terjadinya perundungan.

4. Cara menghormati anak perempuan

ilustrasi bocah laki-laki dengan teman perempuan kelasnya (pexels.com/Gustavo Fring)

Banyak anak laki-laki, apalagi yang masih kecil, tumbuh dengan tak memahami batasan-batasan terhadap teman dari kalangan anak perempuan. Mereka mengira bahwa segala hal yang bisa diterapkan atau biasa dilakukan terhadap sesama anak laki-laki juga bisa dilakukan dengan cara yang sama kepada teman perempuannya. Padahal, ini adalah mentalitas yang salah dan berpotensi terus terbawa hingga dewasa jika anak tak segera diwanti-wanti dan diberi pemahaman yang tepat.

Tekankan pada anak untuk tidak sembarangan mengomentari bagian tubuh teman perempuannya, menghindari kontak fisik yang bikin lawan jenis gak nyaman, serta tidak melakukan pelecehan, entah secara verbal maupun tindakan kurang etis. Ajarkan bahwa menyentuh bagian privat, mengintip bagian tubuh teman, atau melakukan tindakan jahil bernuansa seksual bukanlah candaan yang bisa dibenarkan.

5. Mengambil keputusan berdasarkan pilihan pribadinya

ilustrasi membiasakan anak laki-laki untuk mengambil keputusan sendiri sedari kecil tanpa harus selalu ada intervensi dari orangtua (pexels.com/Katerina Holmes)

Tanpa mesti selalu ada intervensi dari orang dewasa, anak juga perlu diberi kesempatan menentukan pilihannya sendiri setelah mempertimbangkan berbagai hal dengan matang. Ajarkan ia untuk benar-benar memahami apa yang diinginkan atau sedang diminatinya, bukan sekadar penasaran lalu langsung melepaskannya ketika hasilnya tak sesuai ekspektasi. Paling tidak, biasakan ia menyelesaikan sesuatu yang sudah dipilihnya terlebih dahulu sebelum memutuskan apakah memang ingin melanjutkan atau beralih ke pilihan lain.

Dengan begitu, anak akan lebih terbiasa mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Karena ketika dewasa, sudah semestinya ia mampu menentukan banyak hal dalam hidup tanpa selalu bergantung pada keputusan orang lain. Dengan dibiasakan memilih sejak kecil, ia juga diharapkan gak mudah ragu ketika nantinya harus menentukan pilihan besar, mulai dari jurusan pendidikan, pekerjaan, pasangan, hingga berbagai kerumitan hidup lainnya.

Mengasuh anak laki-laki dengan fondasi empati dan kesetaraan adalah investasi jangka panjang untuk memutus rantai patriarki yang merugikan. Ketika orang tua berani tegas dan tak lagi memaklumi perilaku seenaknya dengan alasan "namanya juga anak laki-laki", di situlah perubahan nyata dimulai. Dari pola asuh di rumah inilah, lahir generasi laki-laki yang tangguh, mandiri, dan mampu menghargai sesama (terutama perempuan) secara tulus.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article