Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Buku yang Membuktikan kalau Pria Juga Dirugikan Patriarki

5 Buku yang Membuktikan kalau Pria Juga Dirugikan Patriarki
Fight Club dan The Temple of the Golden Pavilion (dok. Penguin/Fight Club | dok. Tuttle/The Temple of the Golden Pavilion)
Intinya Sih
  • Patriarki juga bisa menekan pria lewat tuntutan maskulinitas dan dominasi.

  • Lima buku ini menunjukkan dampak destruktif patriarki terhadap kehidupan pria.

  • Tekanan sosial patriarki sering melahirkan kekerasan, trauma, dan krisis identitas.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Patriarki merupakan sistem yang berorbit pada dominasi pria dan tak pelak menguntungkan kaum mereka pula. Namun, dalam banyak kasus, sistem ini sebenarnya juga merugikan pria, lho. Tak percaya? Ketika pria mengeluh soal kebijakan tertentu, seperti wajib militer dan diskursus beban pencari nafkah utama, sebenarnya mereka sedang mendebat sistem patriarki itu sendiri. Sistem ini menempatkan mereka untuk jadi pelindung, penggerak utama ekonomi, dan pemegang dominasi.

Masih belum yakin? Coba baca lima novel dan buku nonfiksi berikut untuk tahu seberapa destruktifnya patriarki, termasuk terhadap pria. Ada apa saja?

1. Fight Club (Chuck Palahniuk)

Fight Club karya Chuck Palahniuk
Fight Club karya Chuck Palahniuk (dok. Penguin/Fight Club)

Fight Club jadi novel yang memicu perdebatan. Ada yang menganggapnya sebagai kritik terhadap patriarki dan kapitalisme, tetapi gak sedikit yang justru mengeklaim buku ini bak manifesto untuk orang-orang yang meyakini dua sistem tersebut. Fight Club pada intinya menjelajahi batin seorang pria yang bergejolak hebat gara-gara tekanan pekerjaan dan akhirnya meluapkannya dengan cara yang destruktif, yakni bertarung di ring tinju. Ia bisa dilihat sebagai satire dan sindiran terhadap kultur maskulinitas toksik, patriarki, dan kapitalisme. Meski begitu, tak bisa dimungkiri ada bagian yang mungkin bikin orang yang membacanya merasa ini sebagai upaya romantisasi.

2. The Temple of Golden Pavilion (Yukio Mishima)

The Temple of the Golden Pavilion karya Yukio Mishima
The Temple of the Golden Pavilion karya Yukio Mishima (dok. Tuttle/The Temple of the Golden Pavilion)

Seperti novel sebelumnya, The Temple of Golden Pavilion juga sering dicurigai sebagai upaya Yukio Mishima yang dikenal sebagai penganut fasisme untuk meromantisasi kekerasan dan amarah. Namun, novel ini juga bisa dilihat sebagai eksplorasi batin pria yang sebenarnya ditekan patriarki, sistem yang ironisnya familier dan mereka yakini sebagai sesuatu yang mutlak. Lakon dalam novel ini adalah Mizoguchi, biksu muda yang juga seorang difabel wicara.

Ia tersisih dari masyarakat dan menyimpan trauma karena dirundung sejak kecil. Ketika Jepang kalah Perang Dunia II, amarah dan rasa kecewanya ikut memuncak hingga berakibat fatal. Mizoguchi bisa jadi gambaran sosok involuntary celibate (incel), istilah yang dipakai untuk menamai pria-pria yang menyimpan amarah dan dendam karena tekanan patriarki, tetapi biasanya melampiaskannya kepada kaum yang mereka anggap lebih lemah seperti perempuan.

3. The Male Complaint: The Manosphere and Misogyny (Simon James Copland)

The Male Complaint karya Simon James Copland
The Male Complaint karya Simon James Copland (dok. Polity Books/The Male Complaint)

Manosphere merupakan sebuah istilah yang juga belakangan jadi diskursus sengit di media. Ia merujuk pada forum dan komunitas siber yang meromantisasi maskulinitas toksik dan patriarki. Beberapa penggeraknya bahkan jadi panutan jutaan pria di dunia, seperti Andrew Tate dan Sneako. Lewat buku ini, Copland mencoba mengupas bagaimana bisa pria tertarik pada ajaran tersebut. Di dalamnya, kita pun akan disuguhi irisan antara ajaran patriarki dan kapitalisme. Siap-siap ditampar kenyataan bahwa kapitalisme yang menciptakan itu dan pada akhirnya diuntungkan pula olehnya. Lantas, apakah para pengikutnya dapat manfaat setimpal?

4. Things Fall Apart (Chinua Achebe)

Things Fall Apart karya Chinua Achebe
Things Fall Apart karya Chinua Achebe (dok. Penguin/Things Fall Apart)

Things Fall Apart adalah novel legendaris yang brilian dari segi plot. Chinua Achebe berhasil menyenggol patriarki dan kolonialisme dalam satu waktu. Lakon kita adalah Okonkwo, pria yang dalam pandangan masyarakat Nigeria tradisional masa itu ialah cerminan maskulinitas ideal. Ia kuat secara fisik dan resilien secara mental. Namun, tanpa ia sadari, Okonkwo sebenarnya sedang menggali kuburannya sendiri dengan menuruti berbagai aturan ketat dalam klannya itu. Saat koloni Inggris datang dan mengobrak-abrik tatanan masyarakat Nigeria, Okonkwo pun mulai kehilangan arah.

5. Bolla (Pajtim Statovci)

novel Bolla karya Pajtim Statovci
novel Bolla karya Pajtim Statovci (dok. Faber & Faber/Bolla)

Dalam Bolla, kamu juga akan disuguhi bukti bahwa pria pun dirugikan oleh patriarki. Berlatar Kosovo yang terkoyak perang sipil pada 1990-an, novel ini memakai POV dua pria bernama Arsim dan Milos. Keduanya bertemu dan jatuh cinta, tetapi terhalang norma sosial serta konflik antaretnik yang berkecamuk hebat di negara mereka. Arsim membohongi dirinya sendiri dengan menuruti keinginan keluarga yang menikahkannya dengan perempuan. Milos, di sisi lain turun ke garis depan sebagai prajurit dan membiarkan dirinya diterpa kekerasan. Hal ini ternyata sudah familier untuknya sejak kecil.

Pria dan perempuan sesungguhnya sama-sama dirugikan patriarki meski sekilas sistem itu terdengar menguntungkan satu pihak. Buku-buku tadi bisa jadi pembuka wawasan, nih. Yuk, baca dan ekspos dirimu dengan hal-hal yang bisa jadi tak muncul di algoritma media sosialmu!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Related Articles

See More