Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Red Flag Perubahan Perilaku Anak, Orangtua Harus Ambil Tindakan

5 Red Flag Perubahan Perilaku Anak, Orangtua Harus Ambil Tindakan
ilustrasi anak kecil sedang murung (vecteezy.com/Srinrat Wuttichaikitcharoen)
Intinya Sih
  • Perubahan perilaku anak seperti menjadi pendiam, mudah marah, atau menarik diri bisa jadi tanda adanya masalah serius seperti bullying atau tekanan sosial.

  • Lima red flag utama meliputi kesedihan berkepanjangan, penarikan diri sosial, penurunan prestasi akademik, meningkatnya kecemasan, dan keluhan fisik tanpa sebab jelas.

  • Orangtua perlu peka terhadap perubahan ini dan segera mencari bantuan profesional agar anak tidak menghadapi beban emosional sendirian.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Perubahan perilaku anak kerap dianggap wajar dan hanya bagian dari fase tumbuh kembang. Banyak orangtua berpikir, “Ah, mungkin lagi capek,” atau “Nanti juga normal lagi.” Padahal, saat anak yang biasanya ceria tiba-tiba jadi pendiam, yang dulu terbuka mendadak menutup diri, atau yang tadinya tenang berubah mudah marah, itu bisa jadi sinyal bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi dalam hidupnya.

Di balik perubahan itu, bisa saja tersembunyi masalah serius seperti bullying di sekolah, tekanan dari lingkungan pertemanan, hingga ancaman yang lebih halus tapi berbahaya seperti child grooming dari orang terdekat. Hal-hal ini sering membuat anak merasa takut, malu, atau bingung, sehingga diekspresikan lewat perubahan sikap. Karenanya, penting bagi orangtua untuk mengenali red flag perubahan perilaku sejak dini, supaya anak tidak merasa sendirian menghadapi masalah yang sebenarnya terlalu berat untuk dipikul sendiri.

1. Kesedihan atau iritabilitas yang berkelanjutan

ilustrasi anak kecil sedang menangis
ilustrasi anak kecil sedang menangis (vecteezy.com/Prakasit Khuansuwan)

Adalah hal yang normal bagi anak-anak untuk merasa sedih atau murung dari waktu ke waktu. Namun, jika anak tampak sedih, mudah marah, atau datar secara emosional hampir sepanjang hari, selama lebih dari dua minggu, itu bisa menjadi tanda depresi. Anak-anak mungkin tidak selalu mengatakan, "Aku sedih," tetapi kamu akan memperhatikan bahwa anak lebih mudah menangis, tidak tertarik pada hal-hal yang biasanya mereka sukai, atau mudah frustrasi atau marah.

Perubahan suasana hati ini dapat muncul sebagai sifat manja pada anak-anak yang lebih muda atau sebagai penarikan diri pada anak-anak yang lebih besar dan remaja. Jika anak mengungkapkan perasaan tidak berharga atau putus asa, sangat penting untuk segera berbicara dengan dokter anak. Ingat, anak juga bisa menghadapi masalah sosial yang bisa membuat mereka depresi.

2. Menarik diri dari teman, keluarga, atau aktivitas

ilustrasi remaja sedang menyendiri
ilustrasi remaja sedang menyendiri (vecteezy.com/Tinnakorn Jorruang)

Penarikan diri dari pergaulan adalah tanda umum bahwa seorang anak mungkin sedang mengalami masalah emosional. Jika anak tiba-tiba berhenti menghabiskan waktu bersama teman-temannya, menghindari kegiatan keluarga, atau kehilangan minat pada hobi yang dulu mereka sukai, ini mungkin menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih dalam sedang terjadi. Kamu mungkin juga memperhatikan bahwa anak lebih sering menghabiskan waktu di kamar, menolak ajakan bermain atau bersosialisasi, atau tampak jauh secara emosional. 

Kendati normal bagi anak-anak yang lebih besar dan remaja untuk mencari privasi, isolasi total atau tiba-tiba bukanlah hal yang biasa. Ini bisa menjadi tanda depresi, kecemasan, atau reaksi terhadap stres sosial seperti perundungan atau penolakan teman sebaya. Jika dunia sosial anak tampak menyempit, ada baiknya untuk memeriksanya lebih dekat. 

3. Penurunan prestasi akademik

ilustrasi anak belajar di sekolah
ilustrasi anak belajar di sekolah (pexels.com/Max Fischer)

Prestasi akademik dan kesehatan mental sangat terkait. Meskipun normal bagi nilai anak untuk berfluktuasi, penurunan prestasi akademik yang terus-menerus dapat menunjukkan masalah yang mendasarinya. Berikut beberapa hal yang perlu menjadi perhatian:

  • Penurunan nilai yang tiba-tiba
  • Kehilangan minat pada sekolah atau belajar
  • Sering bolos
  • Ketidakmampuan untuk berkonsentrasi atau menyelesaikan tugas.

4. Meningkatnya kekhawatiran atau ketakutan

ilustrasi anak kecil sedang murung
ilustrasi anak kecil sedang murung (vecteezy.com/Srinrat Wuttichaikitcharoen)

Kecemasan adalah salah satu kondisi kesehatan mental yang paling umum pada anak-anak. Sayangnya, kecemasan pada anak tidak terlihat sama seperti yang dialami orang dewasa. Tanda-tanda kecemasan pada anak-anak mungkin termasuk kekhawatiran berlebihan tentang sekolah atau bahkan situasi yang tampaknya sepele.

Anak-anak yang lebih muda mungkin mengalami ketakutan yang hebat terhadap kegelapan, kesendirian, atau tempat-tempat baru. Anak-anak yang lebih besar mungkin menunjukkan perfeksionisme, mengajukan pertanyaan berulang demi mendapatkan kepastian, atau mengeluh sering sakit perut atau sakit kepala tanpa penyebab medis. Jika ini mengganggu rutinitas harian, tidur, atau keterlibatan sosial, mereka mungkin mengalami gangguan kecemasan. Untungnya, kecemasan sangat mudah diobati, terutama jika ditangani sejak dini.

5. Keluhan fisik

ilustrasi anak kecil mengalami sakit kepala
ilustrasi anak kecil mengalami sakit kepala (pexels.com/Mikhail Nilov)

Anak-anak terkadang kesulitan mengungkapkan emosi mereka melalui kata-kata, sehingga mereka mungkin menunjukkan penderitaan mereka melalui gejala fisik. Gejala fisik dapat terjadi akibat gejolak emosi yang luar biasa.  Beberapa keluhan fisik yang perlu diperhatikan, termasuk:

  • Sakit kepala atau sakit perut yang sering terjadi
  • Ketegangan otot atau nyeri dan sakit yang tidak dapat dijelaskan
  • Kehilangan nafsu makan atau makan berlebihan
  • Kelelahan berlebihan atau kekurangan energi.

Kesehatan mental anak-anak adalah masalah sensitif yang membutuhkan perhatian dan perawatan. Mengenali tanda-tandanya sangat penting untuk menjaga kesejahteraan anak dan menyelamatkan anak-anak dari hal-hal yang buruk, seperti bullying, child grooming, dan sebagainya. Orangtua, pengasuh, dan pendidik memiliki peran penting dalam memberikan dukungan dan mendorong komunikasi terbuka. Jika anak menunjukkan perubahan perilaku yang mencurigakan, segera cari bantuan profesional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Latest in Life

See More