ilustrasi keluarga piknik (pexels.com/askarabayev)
1. Belajar mengelola emosi
Saat menghadapi dinamika keluarga yang sulit, cobalah menenangkan diri melalui latihan pernapasan, teknik grounding, atau relaksasi singkat. Maryellen Eller menyarankan agar kamu menemukan cara yang paling cocok dan melatihnya secara rutin supaya bisa merespons situasi dengan lebih tenang.
2. Tentukan nilai dan batasan dalam hubungan
Pahami kebutuhan yang ingin kamu pertahankan dan tentukan batasan yang sehat. Kamu bisa mulai dengan gak selalu menjadi orang pertama yang mengirim pesan, membalas percakapan grup keluarga, atau mengambil tanggung jawab untuk menyelesaikan setiap konflik. Menurut Margaret Sigel, memberi ruang bagi rasa gak nyaman dapat membantumu mengenali pola hubungan yang selama ini dijalani.
3. Pertimbangkan untuk mengambil jarak
Jika hubungan keluarga terus membuatmu kewalahan, cemas, atau mengabaikan kebutuhan sendiri, pertimbangkan untuk mengambil jarak yang sehat. Ayla Fleming menjelaskan bahwa hubungan yang tidak seimbang dapat memicu kelelahan dan kebencian terpendam, bahkan menimbulkan gejala fisik maupun emosional.
“Seiring berjalannya waktu, hubungan yang tidak seimbang dapat menyebabkan kelelahan, kebencian yang terpendam, bahkan gejala fisik dan emosional,” ujar Ayla Fleming.
4. Bangun hubungan yang lebih seimbang
Kamu gak bisa memaksa anggota keluarga berubah, tetapi kamu bisa menentukan cara bersikap dan hubungan seperti apa yang ingin dipertahankan. Kamu tetap bisa menyayangi keluarga sambil membangun kedekatan dengan teman, pasangan, atau orang lain yang mampu memberikan dukungan emosional secara timbal balik.
Menghadapi low-effort family bukan berarti kamu harus langsung menjauh atau memutus hubungan dengan keluarga. Kamu bisa mulai dengan menetapkan batasan, memahami kebutuhan diri sendiri, dan memberi ruang bagi hubungan yang lebih sehat tanpa harus memikul semuanya sendirian.