"Bertindak saat sedang dikuasai amarah yang intens atau emosi lain yang meluap-luap tidak jauh berbeda dengan berada di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan. Kondisi ini dapat mengganggu kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan, menilai situasi, serta berpikir secara sadar dan rasional," ujar Dan Mager MSW, LCSW, Licensed Clinicale Social Worker, dilansir Psychology Today.
Viral JRF, Ini Pentingnya Mengendalikan Emosi saat Situasi Tak Sesuai Harapan

Rasa marah dan kecewa merupakan hal wajar saat hasil tidak sesuai harapan, tetapi respons terhadap perasaan itu tetap perlu diperhatikan.
Mengendalikan emosi memberi ruang untuk berpikir lebih jernih, memilih respons yang sesuai, dan mencegah tindakan yang merugikan.
Menerima emosi tanpa menghakiminya berkaitan dengan hubungan yang lebih terjaga dan kesehatan psikologis yang lebih baik.
Sudah berusaha keras, tetapi hasilnya ternyata tak sesuai harapan. Situasi seperti ini bisa membuat siapa pun merasa kecewa. Apalagi ketika ada banyak waktu, tenaga, dan harapan yang sudah dicurahkan. Dalam kondisi tersebut, kita mungkin ingin segera meluapkan kekesalan, membantah keputusan, atau memaksakan sesuatu agar keadaan kembali sesuai keinginan. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa reaksi sesaat justru bisa menimbulkan masalah yang lebih besar?
Perasaan tersebut juga bisa muncul ketika menghadapi situasi yang gak sesuai harapan, seperti yang terlihat dalam viralnya aksi sejumlah pelari yang menerobos pagar pembatas Cut-Off Point (COP) di Jakarta Running Festival (JRF) 2026. Pelari yang melewati batas waktu tersebut dinyatakan Did Not Finish (DNF) dan tidak diperbolehkan melanjutkan lomba demi keselamatan serta kelancaran lalu lintas. Meski rasa kecewa bisa dimengerti, cara seseorang merespons keadaan tetap perlu diperhatikan.
Dalam kehidupan sehari-hari, merasa marah atau kecewa sebenarnya merupakan hal yang wajar. Kita gak harus selalu bersikap tenang atau menyembunyikan perasaan ketika menghadapi sesuatu yang mengecewakan. Namun, kemampuan mengendalikan emosi penting agar perasaan tersebut tak langsung berubah menjadi tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Lantas, apa saja alasan pentingnya mengendalikan emosi saat situasi tak sesuai harapan? Yuk, simak penjelasannya!
1. Membantu kita berpikir lebih jernih sebelum bertindak

ilustrasi emosi stabil (unsplash.com/Getty Images) Saat sedang marah atau kecewa, kita bisa terdorong untuk bereaksi secepat mungkin tanpa memikirkan akibatnya. Misalnya, melontarkan kata-kata kasar ketika berdebat, mengambil keputusan secara terburu-buru, atau melakukan sesuatu hanya untuk melampiaskan kekesalan. Padahal, tindakan yang dilakukan saat emosi memuncak belum tentu sesuai dengan apa yang sebenarnya kita inginkan.
Menurut American Psychological Association (APA), kemarahan yang tidak terkendali dapat mendorong perilaku berisiko dan menimbulkan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, Psychology Today menjelaskan bahwa ketika emosi terasa sangat kuat, kemampuan kita untuk berpikir jernih bisa ikut terganggu.
Itulah sebabnya, mengendalikan emosi bukan berarti kita harus mengabaikan perasaan sendiri. Sebaliknya, hal ini membantu kita memberi ruang untuk mempertimbangkan pilihan sebelum bertindak. Dengan begitu, kita bisa menentukan respons yang lebih sesuai dengan situasi. Bukan langsung mengikuti dorongan sesaat yang mungkin bisa berakhir pada penyesalan.
2. Menjaga hubungan dengan orang lain

ilustrasi emosi (pexels.com/Liza Summer) Ketika merasa kecewa, terkadang kita lebih fokus pada apa yang membuat kita kesal daripada bagaimana cara kita menyampaikannya kepada orang lain. Akibatnya, perkataan atau tindakan yang muncul bisa menyakiti orang lain, meskipun sebenarnya kita hanya ingin menyampaikan ketidakpuasan. Masalah yang awalnya sederhana pun berpotensi berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
APA menjelaskan bahwa kemarahan yang tidak dikelola dengan baik dapat merusak hubungan dengan keluarga, teman, pasangan, maupun rekan kerja. Dalam panduannya tentang mengendalikan kemarahan, APA juga menekankan pentingnya menyampaikan kebutuhan secara tegas tanpa menyakiti orang lain.
Misalnya, ketika pendapatmu tidak diterima dalam sebuah diskusi, kamu tetap bisa menyampaikan keberatan dan menjelaskan alasanmu. Namun, kamu gak harus merendahkan orang lain atau menyerang mereka secara personal untuk membuat pendapatmu didengar. Kemampuan mengendalikan emosi membantu kita memahami bahwa menyampaikan perasaan dan melampiaskan kemarahan merupakan dua hal yang berbeda.
3. Mendukung kesehatan psikologis

ilustrasi emosi lebih sensitif setelah pulang kerja (pexels.com/Karolina Grabowska www.kaboompics.com) Tidak semua hal dalam hidup bisa berjalan sesuai rencana. Ada kalanya usaha yang sudah maksimal belum membuahkan hasil. Jika terus berfokus pada rasa kecewa dan keinginan agar semuanya berjalan sesuai harapan, kita bisa semakin sulit menghadapi keadaan tersebut.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology dan terindeks di PubMed bertajuk The psychological health benefits of accepting negative emotions and thoughts: Laboratory, diary, and longitudinal evidence menemukan bahwa kebiasaan menerima pikiran serta emosi negatif tanpa menghakiminya berkaitan dengan kesehatan psikologis yang lebih baik. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa penerimaan terhadap pengalaman emosional berkaitan dengan respons emosi negatif yang lebih rendah saat menghadapi tekanan sehari-hari.
Temuan ini menunjukkan bahwa menghadapi emosi secara sehat bukan berarti harus menyangkal rasa marah, kecewa, atau sedih. Kita bisa mengakui bahwa perasaan tersebut memang ada tanpa membiarkannya sepenuhnya menentukan tindakan. Dengan begitu, kita memiliki ruang untuk menerima keadaan dan kembali memusatkan perhatian pada hal-hal yang masih bisa dilakukan.
Pada akhirnya, mengendalikan emosi bukan berarti harus selalu mengalah atau menerima semua keadaan begitu saja. Kita tetap berhak merasa marah, kecewa, dan menyampaikan keberatan. Namun, kemampuan mengelola emosi membantu kita menentukan bagaimana perasaan tersebut akan diekspresikan.






![[QUIZ] Jika Hidupmu Dimulai dari Nol, Apa Ending yang Paling Cocok?](https://image.idntimes.com/post/20260810/1000011047_7fbc2698-1e33-432e-81bf-3a30c6e55a48.jpg)


![[QUIZ] Pilih Power Ranger, Ini Prediksi Kekuatanmu Melewati Hari Sulit](https://image.idntimes.com/post/20170323/dinosuperchargeposter-1cf632bd7bce2ece43acd45e8c2fb8dc.jpg)


![[QUIZ] Kalau Kerja di Krusty Krabs, Kamu Cocok Jadi Bos atau Pegawai?](https://image.idntimes.com/post/20260802/1000017427_4ae6d349-e5db-49c2-9c5a-537fc125b175.jpg)


![[QUIZ] Dari Genre Musik Favorit, Kami Tebak Caramu Mengatasi Burnout](https://image.idntimes.com/post/20250524/frustrated-28-444e1146cca562b350101aba61264e15-ec456a4cda87df226568f0319e1ce04d.jpg)







