Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Buku yang Sulit Dipahami Dianggap Lebih Bergengsi?

3 min read
Kenapa Buku yang Sulit Dipahami Dianggap Lebih Bergengsi?
ilustrasi membaca buku di tengah perjalanan (pexels.com/Keira Burton)
  • Buku kompleks kerap diasosiasikan dengan kecerdasan karena menuntut konsentrasi, pengetahuan dasar, dan kesabaran, meski jenis bacaan tidak menentukan kemampuan berpikir atau manfaat yang diperoleh.
  • Sebagian pembaca menjadikan buku sulit atau kurang populer sebagai penanda identitas dan selera berbeda; masalah muncul saat bacaan ringan dianggap lebih rendah.
  • Media sosial, rekomendasi tokoh, komunitas, dan kreator konten dapat menciptakan tekanan membaca judul bergengsi, padahal pilihan bacaan seharusnya sesuai minat serta pemahaman pembaca.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Membaca buku sering dianggap sebagai kebiasaan positif yang menunjukkan bahwa seseorang memiliki wawasan luas. Namun, menariknya, tidak semua jenis buku mendapatkan penilaian yang sama. Buku dengan pembahasan berat, bahasa rumit, atau teori yang sulit dipahami terkadang dianggap lebih bergengsi dibandingkan bacaan ringan.

Padahal, tingkat kesulitan sebuah buku belum tentu menentukan seberapa besar manfaat yang bisa diperoleh pembacanya. Novel ringan atau buku dengan bahasa sederhana juga bisa memberikan banyak pelajaran. Lalu, kenapa membaca buku yang sulit dipahami dianggap lebih bergengsi?

  1. 1. Buku yang sulit sering dikaitkan dengan kecerdasan

    ilustrasi membaca buku
    ilustrasi membaca buku (pexels.com/Issam Hajri)

    Ada anggapan bahwa orang yang mampu membaca buku filsafat, sastra klasik, sejarah, atau teori sosial pasti memiliki kemampuan berpikir di atas rata-rata. Semakin rumit isi bukunya, semakin tinggi pula kesan intelektual yang melekat pada pembacanya. Anggapan ini sebenarnya cukup mudah dipahami. Membaca buku yang kompleks memang sering membutuhkan konsentrasi, pengetahuan dasar, dan kesabaran yang lebih besar. Namun, bukan berarti orang yang memilih bacaan ringan memiliki kemampuan berpikir lebih rendah.

    Kecerdasan seseorang tidak bisa dinilai hanya dari jenis buku yang dibacanya. Lagi pula, membaca buku yang sulit tidak otomatis membuat seseorang memahami seluruh isinya. Bahkan, buku yang ringan pun terkadang memberikan banyak wawasan.

  2. 2. Ada keinginan untuk terlihat memiliki selera yang berbeda

    ilustrasi membaca buku
    ilustrasi membaca buku (pexels.com/Min An)

    Pilihan bacaan terkadang menjadi bagian dari cara seseorang menunjukkan identitasnya. Sama seperti musik, film, atau karya seni, buku juga bisa digunakan untuk memperlihatkan selera pribadi. Sebagian orang mungkin merasa lebih istimewa ketika membaca karya yang tidak terlalu populer atau sulit dipahami oleh masyarakat umum. Ada kepuasan tersendiri saat merasa memiliki ketertarikan yang berbeda dari kebanyakan orang.

    Tentu saja, menyukai buku yang kompleks bukan sesuatu yang salah. Setiap orang memiliki selera dan ketertarikan yang berbeda dalam memilih bacaan. Namun, hal ini menjadi masalah ketika seseorang mulai menganggap bacaan orang lain kurang berkualitas hanya karena lebih mudah dipahami.

  3. 3. Media sosial ikut membentuk citra pembaca yang intelektual

    ilustrasi scrolling media sosial
    ilustrasi scrolling media sosial (unsplash.com/Marco Palumbo)

    Di media sosial, buku bukan hanya sesuatu yang dibaca, tetapi juga bisa menjadi bagian dari penampilan seseorang. Foto buku filsafat, sastra klasik, atau karya penulis terkenal terkadang digunakan untuk membangun kesan intelek. Fenomena ini juga berkaitan dengan performative reading, yaitu ketika aktivitas membaca turut digunakan untuk menunjukkan citra diri kepada orang lain. Buku yang terlihat serius bisa memberikan kesan bahwa pemiliknya memiliki pemikiran mendalam.

    Kendati demikian, bukan berarti semua orang yang membagikan pengalamannya membaca buku berat di media sosial sedang berusaha mencari pengakuan. Banyak pula yang benar-benar menikmati bacaannya dan ingin berbagi pengalaman dengan orang lain. Masalahnya muncul ketika keinginan untuk terlihat sebagai sosok yang intelektual justru dianggap lebih penting daripada memahami dan menikmati isi buku itu sendiri.

  4. 4. Ada tekanan untuk membaca buku yang dianggap berkualitas

    ilustrasi rak buku
    ilustrasi rak buku (pexels.com/Alisa Fjolars)

    Terakhir, alasan buku yang sulit dipahami dianggap lebih bergengsi karena terdapat tekanan untuk membaca buku yang dipandang berkualitas. Rekomendasi buku dari tokoh terkenal, komunitas literasi, atau kreator konten bisa memengaruhi pilihan bacaan seseorang. Ketika judul tertentu terus disebut sebagai buku yang wajib dibaca, orang mungkin merasa perlu ikut membacanya. Sayangnya, tidak semua buku cocok dengan minat dan kebutuhan setiap pembaca. 

    Ada yang akhirnya memaksakan diri menyelesaikan buku tertentu meskipun tidak menikmati prosesnya. Bahkan, sebagian mungkin merasa malu mengakui bahwa mereka kesulitan memahami isi buku tersebut. Membaca seharusnya tidak berubah menjadi perlombaan untuk membuktikan siapa yang memiliki selera paling baik. Tidak masalah jika seseorang lebih menikmati novel romantis, komik, atau buku pengembangan diri dengan bahasa sederhana.

    Membaca bukan tentang seberapa bergengsi judul yang ada di rak buku. Yang lebih penting adalah apa yang kita dapatkan dari bacaan tersebut. Tidak perlu merasa lebih pintar karena membaca buku sulit atau merasa kurang pintar karena menyukai bacaan ringan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More