Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

10 Tanda Kamu Justru Jadi Teman yang Bermasalah, Coba Introspeksi

5 min read
10 Tanda Kamu Justru Jadi Teman yang Bermasalah, Coba Introspeksi
ilustrasi berkumpul bersama teman (pexels.com/palomaclaricefotografia)

Pernah kesal dengan teman yang hanya datang saat butuh bantuan, suka memotong pembicaraan, atau menghilang tanpa kabar? Tanpa disadari, kita juga bisa melakukan hal serupa hingga membuat teman merasa gak nyaman. Meski gak selalu disengaja, kebiasaan ini bisa merusak kepercayaan dan merenggangkan pertemanan.

Mengenali kekurangan diri memang gak mudah, apalagi ketika kita merasa sudah menjadi teman yang baik. Namun, introspeksi merupakan langkah penting untuk menjaga hubungan tetap sehat dan saling menghargai. Berikut tanda kamu justru menjadi teman yang bermasalah dan perlu mulai memperbaiki diri.

  1. 1. Hanya menghubungi teman saat membutuhkan sesuatu

    ilustrasi berbincang (pexels.com/augustderichelieu)
    ilustrasi berbincang (pexels.com/augustderichelieu)

    Coba ingat kapan terakhir kali kamu menghubungi teman hanya untuk menanyakan kabarnya. Jika sebagian besar pesanmu berisi permintaan bantuan atau curhat, hubungan bisa terasa seperti transaksi dan membuat teman merasa hanya dibutuhkan saat kamu kesulitan.

    Padahal, pertemanan yang sehat membutuhkan perhatian dua arah. Sapaan sederhana atau menanyakan kabar tanpa kepentingan tertentu bisa menunjukkan bahwa kamu menghargai hubungan tersebut.

  2. 2. Selalu menunggu diajak dan gak pernah mengambil inisiatif

    ilustrasi bermain handphone
    ilustrasi bermain handphone (pexels.com/rdne)

    Jika kamu selalu menunggu undangan, sementara temanmu terus mengatur jadwal dan memulai percakapan, ia bisa merasa hanya dirinya yang berusaha mempertahankan hubungan. Kebiasaan pasif ini lama-kelamaan bisa membuatnya lelah.

    Kamu gak harus membuat rencana besar untuk menunjukkan kepedulian. Cobalah mengirim pesan lebih dulu, mengajak minum kopi, atau merencanakan pertemuan agar usaha menjaga pertemanan terasa lebih seimbang.

  3. 3. Selalu mengarahkan percakapan kembali kepada diri sendiri

    ilustrasi berbincang (pexels.com/divinetechygirl)
    ilustrasi berbincang (pexels.com/divinetechygirl)

    Ketika teman bercerita, apakah kamu benar-benar mendengarkan atau justru buru-buru membagikan pengalaman sendiri? Kebiasaan membandingkan masalah, memotong pembicaraan, atau membahas pencapaian pribadi bisa membuat teman merasa gak didengarkan.

    Menurut Andrea Bonior, psikolog klinis, dikutip dari TIME, mendominasi percakapan bisa membuat orang lain merasa kurang diperhatikan. Meski bermaksud menunjukkan empati, kebiasaan ini justru bisa mengubah percakapan menjadi ajang persaingan.

  4. 4. Sering membatalkan janji secara mendadak

    ilustrasi menatap layar handphone (unsplash.com/danrop)
    ilustrasi menatap layar handphone (unsplash.com/danrop)

    Sesekali membatalkan janji karena sakit atau keadaan darurat tentu bisa dimaklumi. Namun, jika kamu sering membatalkan pertemuan mendadak atau sulit dihubungi, teman bisa merasa gak dihargai dan menganggapmu gak bisa diandalkan.

    Coba evaluasi apakah kamu terlalu banyak mengambil komitmen atau sulit menolak ajakan. Lebih baik jujur daripada menyetujui rencana yang gak sanggup kamu penuhi karena menghargai waktu teman juga berarti menjaga kepercayaan.

  5. 5. Menjadikan teman sebagai tempat curhat tanpa memikirkan kondisinya

    ilustrasi menghibur teman yang sedih (pexels.com/karolinagrabowska)
    ilustrasi menghibur teman yang sedih (pexels.com/karolinagrabowska)

    Punya teman untuk berbagi cerita memang menyenangkan, terutama ketika kamu sedang menghadapi masalah yang terasa berat. Namun, terus-menerus meluapkan emosi tanpa menanyakan kesiapan mereka bisa membuat teman merasa kewalahan. Kamu mungkin menganggap mereka selalu siap mendengarkan, padahal mereka juga memiliki masalah dan keterbatasan emosional sendiri.

    Marisa Franco, seorang psikolog, dikutip dari TIME, menyarankan agar seseorang meminta izin sebelum mulai mencurahkan persoalan yang berat kepada temannya. Ia memberikan contoh kalimat sederhana yang dapat digunakan untuk memastikan bahwa lawan bicara sedang memiliki kapasitas emosional untuk mendengarkan.

  6. 6. Diam-diam merasa tersaingi ketika teman berhasil

    ilustrasi mengangkat kaki di sofa  (pexels.com/polinazimmerman)
    ilustrasi mengangkat kaki di sofa (pexels.com/polinazimmerman)

    Saat teman mendapat promosi jabatan atau mencapai impiannya, kamu seharusnya bisa ikut berbahagia. Namun, jika keberhasilannya membuatmu minder hingga meremehkan pencapaiannya, rasa iri tersebut bisa berubah menjadi sindiran yang merusak persahabatan.

    Ingat, keberhasilan teman bukan berarti kamu gagal. Setiap orang punya perjalanan dan waktunya sendiri, jadi belajarlah merayakan pencapaian mereka dengan tulus tanpa menjadikannya tolok ukur keberhasilanmu.

    “Mereka terus bersaing untuk menunjukkan siapa yang lebih unggul, hingga akhirnya bersikap menyindir secara halus dan gak benar-benar ikut bahagia atas keberhasilan temannya,” kata Andrea Bonior.

  7. 7. Menghilang tanpa penjelasan ketika menghadapi konflik

    ilustrasi berpegangan tangan (pexels.com/shvetsproduction)
    ilustrasi berpegangan tangan (pexels.com/shvetsproduction)

    Saat kecewa atau tersinggung, menghindari teman mungkin terasa lebih mudah daripada membicarakan masalah. Namun, berhenti membalas pesan, menjauh, atau memblokirnya tanpa penjelasan bisa membuat teman kebingungan karena gak memahami alasan hubungan kalian berubah.

    Marisa Franco menilai bahwa menghilang tanpa penjelasan bukanlah cara yang selalu sehat untuk menangani hubungan dekat. Dalam artikel TIME tersebut, ia menekankan pentingnya menyampaikan konflik secara terbuka dan penuh empati agar kedua pihak memiliki kesempatan untuk saling memahami.

    “Mengungkapkan konflik secara terbuka dan dengan empati justru dapat menghasilkan kedekatan yang lebih besar dalam sebuah persahabatan,” ujar Marisa Franco.

  8. 8. Selalu bersikap defensif ketika menerima kritik

    ilustrasi bercengkrama (pexels.com/ekaterinabolovtsova)
    ilustrasi bercengkrama (pexels.com/ekaterinabolovtsova)

    Ketika teman mengatakan sikapmu menyakitinya, apakah kamu mencoba memahami perasaannya atau langsung membela diri? Respons seperti “Kamu terlalu sensitif” bisa membuat mereka merasa gak dihargai dan memilih diam daripada menghadapi konflik serupa.

    Menerima kritik bukan berarti harus langsung menyetujuinya. Dengarkan, minta penjelasan, dan pertimbangkan masukan sebelum menyampaikan sudut pandangmu agar hubungan bisa diperbaiki.

  9. 9. Sering membicarakan keburukan teman di belakangnya

    ilustrasi bercengkrama (pexels.com/tirachardkumtanom)
    ilustrasi bercengkrama (pexels.com/tirachardkumtanom)

    Bercerita kepada orang lain untuk mencari sudut pandang saat menghadapi konflik memang wajar. Namun, menyebarkan rahasia atau menjadikan masalah pribadi teman sebagai bahan obrolan bisa merusak kepercayaan dan membuat mereka khawatir akan diperlakukan serupa.

    Sebelum menceritakan masalah teman, pastikan tujuannya benar-benar mencari solusi, bukan sekadar menarik perhatian. Menjaga privasi mereka saat gak berada di dekatmu menunjukkan bahwa kamu bisa dipercaya.

  10. 10. Menganggap pilihan hidup teman harus sesuai dengan keinginanmu

    ilustrasi kedua wanita bercengkrama (pexels.com/cliffbooth)
    ilustrasi kedua wanita bercengkrama (pexels.com/cliffbooth)

    Kamu mungkin merasa sedang memberi nasihat terbaik saat meminta teman mempertahankan pekerjaan atau membatalkan rencana pindah kota. Namun, terus mengkritik pilihannya karena berbeda dari prinsipmu bisa membuat kepedulian terasa seperti upaya mengendalikan hidupnya.

    Kamu boleh menyampaikan kekhawatiran, tetapi tetap beri ruang bagi teman untuk menentukan pilihannya sendiri. Cobalah memahami alasannya sebelum menghakimi karena mendukung teman gak berarti harus membuatnya mengikuti pendapatmu.

    Menyadari kekurangan diri dalam pertemanan memang gak mudah, tetapi hal ini bisa menjadi langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih sehat. Gak harus menjadi teman yang sempurna, cukup mulai belajar mendengarkan, menghargai, dan memperbaiki diri agar pertemanan tetap terjaga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More