Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bagaimana Mengajarkan Anak agar Tidak Terjebak Bystander Effect?
ilustrasi bystander effect (pexels.com/Mikhail Nilov)
  • Artikel menjelaskan tentang bystander effect pada anak, yaitu kecenderungan diam saat melihat orang lain butuh bantuan karena mengira orang lain akan menolong.

  • Ditekankan pentingnya melatih kepedulian sejak dini melalui kebiasaan sederhana seperti bertanya, meminta bantuan guru, dan berdiskusi dari contoh sehari-hari.

  • Orangtua dianjurkan memberi apresiasi atas tindakan peduli anak serta menanamkan keberanian untuk bertindak tanpa menunggu orang lain bergerak lebih dulu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah melihat ada anak yang terjatuh di sekolah, tetapi teman-teman di sekitarnya hanya diam? Situasi seperti ini sering dikaitkan dengan bystander effect, yaitu kecenderungan seseorang tidak segera membantu karena mengira orang lain akan melakukannya. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga bisa muncul sejak usia sekolah ketika anak berada di tengah kelompok.

Kabar baiknya, keberanian untuk peduli bisa dilatih sejak dini. Anak tidak harus selalu menjadi pahlawan, tetapi mereka perlu tahu kapan harus bertindak, kapan meminta bantuan orang dewasa, dan bagaimana menunjukkan kepedulian dengan cara yang aman. Berikut beberapa kebiasaan yang bisa mulai diajarkan.

1. Biasakan anak tidak hanya melihat, tetapi juga bertanya

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Polina Zimmerman)

Banyak anak sebenarnya sadar ketika temannya sedang kesulitan. Mereka melihat ada yang menangis, kebingungan, atau kesulitan membawa barang. Namun, karena tidak tahu harus berbuat apa, mereka memilih diam dan melanjutkan aktivitasnya. Semakin sering situasi seperti ini terjadi, anak akan terbiasa menjadi penonton tanpa mencoba mengambil langkah apa pun.

Ajarkan anak memulai dari hal yang paling sederhana, yaitu bertanya, "Kamu tidak apa-apa?" atau "Perlu bantuan?" Kalimat sesingkat ini bahkan bisa menjadi langkah pertama untuk menunjukkan kepedulian. Kalau temannya mengatakan tidak membutuhkan bantuan, anak tetap sudah belajar bahwa bertanya lebih baik daripada hanya melihat. Dari kebiasaan kecil inilah rasa peka terhadap kondisi orang lain mulai tumbuh.

2. Beri contoh bahwa meminta bantuan orang dewasa juga termasuk membantu

ilustrasi membantu (pexels.com/RDNE Stock project)

Sebagian anak mengira membantu berarti harus menyelesaikan semuanya sendiri. Padahal, ada banyak situasi yang justru membutuhkan campur tangan guru, orang tua, atau petugas sekolah. Misalnya ketika melihat teman terluka, terjadi perundungan, atau ada kejadian yang membahayakan. Memaksa menyelesaikan keadaan seperti itu sendiri justru bisa membuat situasinya semakin sulit.

Sampaikan kepada anak bahwa memanggil guru bukan berarti lari dari tanggung jawab. Justru itu adalah bentuk kepedulian yang tepat ketika situasinya berada di luar kemampuan mereka. Anak perlu memahami bahwa keberanian juga berarti tahu kapan harus meminta bantuan. Dengan begitu, mereka tidak akan ragu bertindak hanya karena merasa tidak mampu menyelesaikan masalah sendirian.

3. Gunakan cerita sehari-hari untuk mengajak anak berdiskusi

ilustrasi orangtua dan anak di sekolah (unsplash.com/Birleşim Özel Eğitim Rehabilitasyon Merkezi)

Anak lebih mudah memahami suatu nilai ketika melihat contoh yang dekat dengan kehidupannya. Setelah menonton film, membaca buku cerita, atau melihat kejadian di lingkungan sekitar, ajak anak mengobrol tentang apa yang dilakukan tokoh atau orang-orang di dalam situasi tersebut. Hindari langsung mengatakan mana yang benar atau salah agar anak berani menyampaikan pendapatnya.

Misalnya dengan bertanya, "Kalau kamu ada di sana, kira-kira kamu akan melakukan apa?" Pertanyaan seperti ini membantu anak belajar mempertimbangkan tindakan tanpa merasa sedang diuji. Semakin sering berdiskusi, semakin terbiasa pula anak-anak memikirkan cara membantu ketika menghadapi situasi serupa. Cara ini juga melatih mereka mengambil keputusan sebelum benar-benar berada dalam kondisi yang sama.

4. Apresiasi tindakan peduli, sekecil apa pun

ilustrasi memberi apresiasi (pexels.com/RDNE Stock project)

Banyak orang tua lebih sering memuji nilai bagus atau prestasi anak dibanding tindakan peduli yang mereka lakukan. Padahal, kebiasaan sederhana seperti menemani teman yang menangis, meminjamkan alat tulis, atau melapor kepada guru saat melihat temannya terluka juga layak diapresiasi. Pengalaman seperti itu menunjukkan bahwa anak mulai peka terhadap keadaan di sekitarnya.

Ketika orang tua memberi perhatian pada perilaku tersebut, anak akan memahami bahwa kepedulian memiliki nilai yang sama pentingnya. Lama-kelamaan, anak-anak akan terdorong melakukan hal serupa bukan karena diminta, melainkan karena sudah menjadi kebiasaan. Mereka juga belajar bahwa tindakan baik tidak selalu harus berupa hal besar agar layak dihargai.

5. Ajarkan bahwa membantu tidak harus menunggu orang lain bergerak

Ilustrasi tolong menolong (pexels.com/Allan Mas)

Anak sering mengikuti apa yang dilakukan kelompoknya. Kalau semua teman hanya melihat, mereka cenderung ikut diam karena mengira itulah sikap yang benar. Inilah salah satu bentuk bystander effect yang paling sering muncul di lingkungan sekolah. Padahal, semakin lama semua orang menunggu, semakin lama pula orang yang membutuhkan bantuan tidak mendapatkan pertolongan.

Bantu anak memahami bahwa tindakan baik tidak harus menunggu orang lain memulainya. Selama situasinya aman, mereka bisa menjadi orang pertama yang menghampiri teman, memanggil guru, atau menawarkan bantuan sederhana. Dari kebiasaan kecil seperti inilah keberanian untuk peduli akan tumbuh secara alami. Ketika satu anak berani bergerak lebih dulu, teman-teman yang lain biasanya akan lebih mudah ikut membantu.

Mengajarkan anak agar tidak terjebak bystander effect bukan berarti meminta mereka ikut campur dalam semua masalah. Sebab, yang jauh lebih penting adalah membentuk kebiasaan untuk peka terhadap keadaan sekitar dan berani mengambil langkah yang sesuai dengan kemampuannya. Menurutmu, kebiasaan mana yang paling penting mulai diajarkan kepada anak sejak sekarang?

Referensi:

"The Bystander Effect: Teaching Students How to Step Up." NAIS. Diakses pada Juli 2026

"Helping Kids Overcome the Bystander Effect" Greater Good. Diakses pada Juli 2026

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article