Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Hari Ayah Sedunia, Pernah Kamu Pikir Seberat Apa Tanggung Jawabnya?
ilustrasi seorang ayah memeluk anaknya (pexels.com/Josh Willink)
  • Hari Ayah Sedunia dirayakan setiap minggu ketiga Juni sebagai momen refleksi atas peran penting ayah, terutama yang menjadi pencari nafkah tunggal di tengah tantangan ekonomi.
  • Ayah sering menghadapi tekanan mental karena tuntutan sosial untuk selalu kuat dan tidak mengeluh, meski beban finansial dan emosional menumpuk dalam keseharian mereka.
  • Banyak ayah merasa bersalah karena waktu bersama keluarga berkurang akibat tanggung jawab kerja, serta harus menyeimbangkan peran sebagai ayah, suami, dan profesional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Selama ini, kita amat familiar dengan Hari Ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember secara nasional. Ternyata, Hari Ayah juga ada dan diperingati lho, bukan hanya nasional, tetapi juga internasional. Hari Ayah Sedunia diperingati dan dirayakan di minggu ketiga bulan Juni.

Momen peringatan dan perayaan ini menjadi waktu yang tepat untuk merenungi peran penting seorang ayah dalam sebuah keluarga, salah satunya sebagai sole breadwinner atau pencari nafkah tunggal. Gak mudah lho menjadi satu-satunya tumpuan finansial keluarga, terlebih di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini. Berikut beban mental seorang ayah sebagai sole breadwinner.

1. Kecemasan akan keamanan finansial keluarga

ilustrasi ayah dan anaknya (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Setiap anggota keluarga punya tanggung jawab masing-masing, begitu pula seorang ayah. Sosok ayah telah dilabeli sebagai kepala keluarga yang wajib menjamin kesejahteraan anggotanya. Bagi mereka yang merupakan sole breadwinner, tanggung jawab yang diemban pun terasa semakin menekan.

Di balik kesehariannya, barang kali terselip kecemasan akan keamanan finansial. Di rumah, ayah kamu mungkin jadi sosok yang paling tenang dan bahagia. Namun, kamu gak tahu bahwa isi kepalanya ternyata yang paling berisik, penuh dengan pertanyaan atau pengandaian “bagaimana jika…”.

Mengutip Smile Consulting Indonesia, dalam keseluruhan, beban mental yang dipikul oleh seorang ayah sebenarnya kompleks dan kerap tersembunyi di balik senyuman mereka. Demi menjadi pilar bagi keluarga, mereka rela berhadapan dengan berbagai tekanan yang gak terlihat oleh banyak orang. 

2. Tuntutan untuk selalu kuat dan antimengeluh

ilustrasi ayah dan anaknya (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Tekanan maskulinitas masih menjadi problematika sosial yang berkembang di tengah masyarakat kita. Meskipun zaman telah berkembang pesat, konstruksi sosial tetap ada, salah satunya menyasar laki-laki. Sejak kecil, doktrin bahwa laki-laki gak boleh cengeng dan menangis sudah tertanam kuat, bukan. Doktrin ini menatap hingga dewasa, termasuk saat mereka menjadi seorang ayah.

Dampaknya, ketika beban kerja menumpuk dan kondisi ekonomi gak dalam keadaan baik-baik saja, ayah sebagai sole breadwinner sulit menumpahkan emosinya. Para ayah mungkin memendam emosinya, menelan bulat-bulat kesedihannya, pura-pura kuat, dan terus memakai label pahlawan keluarga itu, memastikan anggota keluarganya gak ikut merasakan cemas.

3. Perasaan bersalah karena kurangnya momen bersama keluarga

ilustrasi sebuah keluarga (pexels.com/Arina Krasnikova)

Pada dasarnya keluarga harmonis itu gak hanya dibangun di atas kedekatan emosional dan rasa berkecukupan, tetapi juga adanya kehadiran. Salah satu tantangan terbesar yang perlu dihadapi oleh seorang ayah sebagai sole breadwinner adalah bagaimana membagi waktu antara tuntutan pekerjaan dan kehadiran di rumah. Kerap kali sole breadwinner lebih banyak menghabiskan waktunya dengan mencari nafkah sehingga waktu bersama keluarga menjadi berkurang.

Kondisi ini lantas memicu perasaan bersalah. Ada beban mental berupa dilema batin. Di satu sisi, ayah tahu bahwa bekerja keras merupakan bentuk tanggung jawab serta kasih sayangnya terhadap keluarga. Namun, di sisi lain, ia juga gak ingin melewatkan banyak momen emas dalam tumbuh kembang anak atau sekadar menemani anggota keluarganya di rumah.

4. Peran ganda yang memicu konflik identitas

ilustrasi ayah menikmati waktu bersama anaknya (pexels.com/cottonbro studio)

Dilansir laman Smile Consulting Indonesia, salah satu beban mental terberat yang gak terucapkan oleh seorang ayah adalah peran ganda yang memicu konflik identitas. Setidaknya ada tiga peran yang melekat, yakni sebagai ayah, sebagai suami, dan sebagai pekerja atau profesional.

Setiap peran tentu punya tanggung jawab tersendiri. Sebagai ayah, mereka bertanggung jawab menjadi panutan dan kepala keluarga. Sebagai suami, mereka punya peran dalam mempertahankan hubungan yang sehat dengan pasangan. Kemudian, sebagai profesional, mereka bertanggung jawab dalam pekerjaan dan keberhasilan karier. Nah, peran ganda ini kerap menimbulkan pertanyaan soal prioritas serta waktu yang harus dialokasikan.

Beban mental seorang ayah itu nyata, lho. Validasi terhadap beban mental ayah sebagai sole breadwinner harus dimulai dari lingkungan keluarga sendiri. Ingat bahwa keharmonisan dalam keluarga gak akan terbentuk dari satu orang yang dipaksa kuat sendiri. Bukankah makna keluarga itu adalah saling bahu-membahu? Selamat Hari Ayah Sedunia! Terima kasih ayah atas segala jerih payah dan kasihmu!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article