"Meskipun jumlah deodoran yang dibutuhkan setiap orang berbeda-beda, rata-rata sebagian besar orang hanya memerlukan beberapa kali usapan atau beberapa detik penyemprotan. Tujuannya adalah memberikan perlindungan yang merata di seluruh area tanpa menyebabkan penumpukan produk," ujar Michele Green, MD, dokter spesialis kulit bersertifikat (board-certified dermatologist), dikutip dari Real Simple.
Pakai Deodoran Terlalu Banyak Justru Kurang Efektif? Ini Penjelasannya

Banyak orang mengira semakin banyak deodoran yang dipakai, semakin ampuh pula melindungi tubuh dari bau badan dan keringat. Padahal, mengoleskan deodoran secara berlebihan bukanlah cara terbaik karena justru dapat membuat produk bekerja kurang optimal.
Menurut para dokter kulit, penggunaan deodoran secara berlebihan justru bisa membuat produk bekerja kurang optimal. Bukan hanya jumlahnya yang perlu diperhatikan, tetapi juga waktu pemakaian, kondisi kulit, hingga kandungan aktif di dalam deodoran. Berikut penjelasannya.
1. Memakai deodoran lebih banyak tidak membuat perlindungannya semakin maksimal

Banyak orang mengira mengoleskan deodoran berkali-kali akan membuat tubuh tetap segar lebih lama. Padahal, dokter kulit menyebut tidak ada dosis baku karena kebutuhan setiap orang berbeda, tetapi umumnya 2–3 usapan untuk deodoran stik atau roll-on maupun 2–3 semprotan untuk deodoran spray sudah cukup.
Yang terpenting bukan memakai deodoran sebanyak mungkin, melainkan memastikan seluruh area ketiak tertutup secara merata. Mengoleskan lapisan yang terlalu tebal tidak memberikan manfaat tambahan dan justru berisiko menyebabkan penumpukan produk.
2. Waktu pemakaian ternyata lebih berpengaruh dibanding jumlahnya

Selain jumlahnya, waktu pemakaian juga memengaruhi efektivitas deodoran. Dokter kulit menyarankan deodoran digunakan sebelum tubuh mulai berkeringat, sedangkan antiperspiran sebaiknya dipakai pada malam hari agar bekerja lebih optimal.
Jika kamu mudah berkeringat atau banyak beraktivitas, deodoran boleh diaplikasikan ulang sesuai kebutuhan. Namun, menggunakan produk pada waktu yang tepat jauh lebih efektif daripada mengoleskannya berlapis-lapis sejak awal.
"Jumlah deodoran yang digunakan kemungkinan tidak sepenting waktu pemakaiannya, karena mengaplikasikan deodoran sebelum seseorang mulai berkeringat biasanya lebih efektif. Antiperspiran idealnya digunakan pada malam hari, sedangkan deodoran umumnya dipakai pada pagi hari atau sebelum keluar rumah," ujar Kristina Collins, MD, dokter spesialis kulit bersertifikat ganda (double board-certified dermatologist), dikutip dari Real Simple.
3. Deodoran paling efektif digunakan pada kulit yang bersih dan kering

Cara mengaplikasikan deodoran juga berpengaruh terhadap hasil akhirnya. Dokter kulit menyarankan agar deodoran digunakan setelah mandi ketika kulit sudah bersih dan benar-benar kering. Kondisi tersebut membuat produk dapat menempel langsung pada permukaan kulit sehingga bekerja lebih maksimal.
Sebaliknya, mengoleskan deodoran saat kulit masih basah atau setelah memakai losion dapat mengurangi efektivitasnya. Produk menjadi lebih sulit menempel karena terhalang oleh kelembapan atau lapisan lain di permukaan kulit. Itulah sebabnya mengeringkan area ketiak sebelum memakai deodoran menjadi langkah yang tidak boleh dilewatkan.
"Dengan begitu, deodoran dapat menempel langsung pada permukaan kulit dan bekerja sebagaimana mestinya. Produk ini tidak akan bekerja seefektif itu jika diaplikasikan pada kulit yang masih basah," ujar Anna Chacon, MD, dokter spesialis kulit bersertifikat (board-certified dermatologist), dikutip dari Real Simple.
4. Penumpukan deodoran justru bisa membuat produk bekerja kurang optimal

Deodoran bukan termasuk produk yang semakin efektif jika dipakai semakin banyak. Lapisan deodoran yang terlalu tebal dapat membentuk residu sehingga bahan aktif di dalamnya sulit menyentuh permukaan kulit secara merata. Akibatnya, performa produk justru bisa menurun dibanding penggunaan dalam jumlah yang sesuai.
Selain itu, residu yang menumpuk juga dapat memicu beberapa masalah lain. Mulai dari iritasi kulit, pori-pori yang tersumbat, hingga munculnya noda putih pada pakaian. Karena itu, penggunaan secukupnya jauh lebih disarankan dibanding mengoleskan deodoran secara berlapis.
"Penggunaan deodoran secara berlebihan dapat menyebabkan terbentuknya residu yang memicu iritasi kulit atau menyumbat pori-pori, meninggalkan noda putih yang mengganggu pada pakaian, serta berpotensi menurunkan efektivitas produk jika penumpukan tersebut menghalangi bahan aktif meresap ke kulit. Bahan aktif harus diaplikasikan secara merata, bukan ditumpuk berlapis-lapis," ujar Raechele Cochran Gathers, MD, dokter spesialis kulit bersertifikat (board-certified dermatologist), dikutip dari Real Simple.
5. Pilih kandungan yang tepat dan gunakan secara rutin

Efektivitas deodoran juga ditentukan oleh kandungan aktifnya. Dokter kulit menjelaskan bahwa antiperspiran yang mengandung aluminium membantu mengurangi produksi keringat, sedangkan deodoran tanpa aluminium umumnya hanya menyamarkan bau badan.
Meski ada produk yang mengklaim mampu bertahan hingga 48 atau 72 jam, efektivitasnya bisa berkurang karena mandi, gesekan pakaian, dan gerakan lengan. Itulah sebabnya penggunaan deodoran secukupnya setiap hari tetap menjadi cara yang paling efektif untuk menjaga tubuh tetap segar.
Memakai deodoran secukupnya dengan cara dan waktu yang tepat jauh lebih efektif daripada mengoleskannya secara berlebihan. Jadi, mulai sekarang gak perlu lagi menumpuk deodoran di ketiak, karena penggunaan yang pas justru bisa memberikan perlindungan yang lebih optimal.





















