"Pendengar yang aktif berarti mendengar secara sungguh-sungguh, peduli, tidak menghakimi, dan empatik termasuk (dan khususnya) saat tidak sepakat dengan pandangan teman bicara. Mungkin, sebagian keyakinan atau pendapat remaja berbeda dari yang dimiliki orangtua, namun pandangan ini pun harus dihormati dan dihargai. Dengan begitu, anak akan menghargai pendapat orangtuanya," dikutip dari panduan UNICEF Indonesia.
5 Cara Membuat Anak Tetap Mau Bercerita saat Beranjak Remaja

Memasuki usia remaja, anak mulai mengalami banyak perubahan, baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Mereka yang dahulu senang menceritakan berbagai kejadian di kesehariannya mungkin mulai lebih sering menghabiskan waktu sendiri. Bahkan, pertanyaan sederhana dari orangtua seperti "Bagaimana sekolah hari ini?" terkadang hanya dijawab dengan singkat.
Perubahan tersebut tidak selalu berarti anak mulai menjauh dari keluarga. Lantas, bagaimana cara membuat anak tetap mau bercerita saat beranjak remaja tanpa membuatnya merasa terpaksa?
1. Jadilah pendengar yang baik tanpa langsung menghakimi

ilustrasi parenting anak kecil (pexels.com/Keira Burton) Salah satu cara menjaga komunikasi dengan anak yang mulai beranjak remaja adalah membiasakan diri menjadi pendengar yang baik. Ketika anak menceritakan pengalaman atau masalahnya, orangtua sebaiknya memberikan perhatian penuh tanpa terburu-buru memotong pembicaraan.
Hindari pula langsung menyalahkan atau membandingkan pengalaman anak dengan masa kecil orangtua. UNICEF Indonesia melalui panduan 11 Kiat Berkomunikasi dengan Remaja menjelaskan bahwa mendengarkan secara aktif berarti mendengarkan dengan sungguh-sungguh, penuh perhatian, dan empati.
UNICEF juga menekankan pentingnya menghargai pandangan remaja, meskipun pendapat mereka berbeda dari orangtua. Sikap tersebut dapat membuat anak merasa didengar, dipahami, dan tidak sendirian ketika menghadapi masalah. Orangtua bisa menunjukkan perhatian melalui kontak mata, anggukan, atau respons sederhana ketika anak sedang bercerita.
2. Luangkan waktu untuk mengobrol tanpa membahas masalah

ilustrasi parenting (pexels.com/Kindel Media) Kesibukan orangtua dan anak terkadang membuat kesempatan untuk mengobrol semakin terbatas. Anak memiliki kegiatan sekolah, tugas, dan kehidupan sosialnya sendiri, sementara orangtua juga disibukkan dengan pekerjaan dan urusan rumah tangga.
Oleh karena itu, penting bagi keluarga untuk menyediakan waktu khusus agar komunikasi tetap terjaga. Orangtua pun dapat memanfaatkan kegiatan sederhana untuk menciptakan kesempatan mengobrol. Misalnya, mengajak anak memasak bersama, makan malam tanpa gangguan ponsel, atau berjalan-jalan pada akhir pekan.
Percakapan tidak harus selalu membahas nilai sekolah, perilaku, maupun masalah yang sedang dihadapi anak. Membicarakan film, musik, hobi, atau kejadian lucu sehari-hari juga bisa menjadi cara untuk menjaga kedekatan emosional. Ketika terbiasa mengobrol dalam suasana santai, anak mungkin akan lebih nyaman membicarakan persoalan yang lebih serius.
3. Hargai privasi dan berikan kesempatan anak mengambil keputusan

ilustrasi parenting (pexels.com/August de Richelieu) Ketika beranjak remaja, anak mulai memiliki kebutuhan untuk menentukan pilihan dan menjaga privasinya. Mereka mungkin tidak lagi ingin menceritakan seluruh kegiatan bersama teman atau membagikan setiap perasaan kepada orangtua.
Kondisi ini merupakan bagian dari proses belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri. Oleh sebab itu, orangtua perlu memahami bahwa anak juga membutuhkan ruang untuk dirinya sendiri. Dalam panduan Parenting of Adolescents, UNICEF menjelaskan bahwa meningkatnya kebutuhan remaja terhadap kemandirian dan otonomi dapat membuat mereka menjadi lebih menjaga jarak dari orangtua.
"Masa remaja merupakan tahap perkembangan penting yang menandai transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Tahap ini ditandai dengan munculnya identitas diri; eksplorasi minat, keyakinan, nilai, dan tujuan pribadi; meningkatnya kemandirian dan otonomi di luar lingkungan keluarga; tumbuhnya rasa tanggung jawab; meningkatnya keterlibatan dalam perilaku berisiko; munculnya seksualitas; semakin pentingnya peran teman sebaya; menguatnya stereotip gender; serta perubahan dinamika hubungan dengan orang tua dan pengasuh," dikutip dari panduan UNICEF.
UNICEF menyarankan agar orangtua menyesuaikan cara berkomunikasi dengan anak, bukan justru meningkatkan kontrol secara berlebihan. Remaja tetap membutuhkan dukungan, tetapi mereka juga perlu mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan mengambil keputusan sesuai dengan tahap perkembangannya.
4. Validasi perasaan anak dan jangan selalu terburu-buru memberikan solusi

ilustrasi parenting (pexels.com/Kampus Production) Tidak semua cerita anak membutuhkan nasihat atau penyelesaian langsung dari orangtua. Terkadang, anak hanya ingin mengungkapkan perasaan, seperti kecewa karena bertengkar dengan teman, sedih karena gagal mendapatkan nilai bagus, atau cemas menghadapi perubahan di sekolah.
Jika orangtua selalu terburu-buru memberikan solusi, anak bisa merasa bahwa perasaannya tidak benar-benar dipahami. Psikolog Lisa Damour, Ph.D., seorang psikolog klinis, penulis, dan pakar perkembangan remaja, menjelaskan melalui UNICEF bahwa remaja sering kali lebih membutuhkan empati daripada nasihat ketika sedang mengalami perasaan yang sulit.
"Saat remaja mengungkapkan bahwa mereka sedang merasa sedih atau kesal, orang dewasa mungkin tergoda untuk langsung memberikan nasihat, kata-kata penyemangat, atau pertanyaan. Hal-hal tersebut memang bisa berguna, namun sering kali yang paling mereka butuhkan adalah empati," kata Lisa.
Ia menyarankan orangtua untuk merespons dengan penuh kasih sayang ketika anak mengungkapkan kesedihan atau kekecewaan. Respons sederhana seperti, "Ibu turut sedih kamu mengalami hal itu," dapat membantu anak merasa lebih didukung. Orangtua juga bisa membiasakan diri bertanya sebelum memberikan saran.
5. Tunjukkan bahwa orangtua selalu ada ketika anak membutuhkan

ilustrasi parenting (pexels.com/Ketut Subiyanto) Salah satu hal penting dalam membangun komunikasi dengan anak remaja adalah menunjukkan bahwa orangtua selalu bersedia mendengarkan. Anak mungkin belum siap membicarakan masalah tertentu atau membutuhkan waktu untuk memahami perasaannya sendiri.
Dalam situasi seperti ini, orangtua sebaiknya tidak memaksakan percakapan, tetapi tetap memberikan perhatian agar anak mengetahui bahwa dirinya tidak sendirian. Dokter Hina Talib, seorang dokter anak yang memiliki spesialisasi dalam kedokteran remaja, bersama UNICEF membahas pentingnya menciptakan hubungan yang membuat anak merasa aman untuk mengungkapkan perasaannya.
"Orangtua dan pengasuh sebaiknya menunjukkan bahwa mereka peduli terhadap kesehatan mental remajanya. Sering kali, kaum muda menyembunyikan perasaan mereka yang sebenarnya dari orangtua. Oleh karena itu, penting untuk secara aktif menanyakan kabar dan kondisi mereka. Hal ini tidak berarti orangtua harus mengetahui setiap detail kehidupan remajanya. Orang perlu menghargai privasi mereka, namun di saat yang sama, orangtua juga perlu mengetahui apakah mereka baik-baik saja," demikian dikutip dari UNICEF.
Dalam artikel UNICEF mengenai kesehatan mental remaja, dijelaskan bahwa orangtua perlu menunjukkan kepedulian, mendengarkan tanpa menyela, serta berusaha memahami sudut pandang anak. Remaja juga tidak selalu mengharapkan nasihat atau solusi karena terkadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan.
Membuat anak tetap mau bercerita saat beranjak remaja membutuhkan kesabaran dan penyesuaian dari orangtua. Anak yang mulai membutuhkan privasi bukan berarti tidak lagi membutuhkan perhatian dan kasih sayang keluarga. Hal terpenting bukanlah membuat anak selalu menceritakan segala sesuatu, melainkan memastikan bahwa mereka merasa aman dan nyaman ketika memilih untuk berbagi cerita dengan orangtuanya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















